Jumat, 24 Oktober 2014

Nyamuk dan Raja yang Sombong

Kisah Si Nyamuk dan Raja yang Sombong

 Dahulu kala, ada seorang raja yang terkenal serakah, kejam, bengis dan sombong. Setiap perintah kepada rakyatnya senantiasa menggunakan kekerasan. Tidak pandang bulu, apakah perintah itu kepada anak-anak, orang tua, wanita dan pria. Bagi rakyat yang menolak perintahnya maka akan dihukum seberat-beratnya Setiap hari, Sang raja senantiasa mengumbar nafsu angkara.

Sang Putri

Si Tua Rinkrank dan Gunung Kaca

Dahulu, ada seorang Raja yang memiliki seorang putri, dan Raja tersebut membuat sebuah gunung yang terbuat dari kaca, dan membuat sayembara dan mengatakan bahwa siapapun yang bisa menyeberang dan melewati gunung tersebut tanpa terjatuh, dapat menikahi putrinya. Di kerajaan tersebut, ada seorang pemuda yang mencintai putri Raja tersebut, dan pemuda tersebut pun memohon kepada Raja agar dapat menikahi sang Putri.

Seorang Lelaki Miskin

Bersandiwara Demi Kebaikan

Seorang lelaki miskin bekerja membanting tulang tetapi penghasilannya tetapi penghasilannya tetap kecil. Maklumlah di desa yang juga miskin. Maka terpikir olehnya untuk mengadu nasib di kota. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat, dan para tetangga, lelaki miskin itu meninggalkan rumahnya.

Zebri Dan Jerapah Yang Baik Hati

Si Jerapah Yang Baik Hati

Pagi itu,  Zebri si anak Zebra sedang bermain bersama teman-temannya. Ada Ikan Salmon, Si Landak, Teripang, Bintang laut, si Penyu dan Kepiting. Setiap hari, mereka selalu bermain bersama. Terkadang mereka bermain petak umpet, main tebak-tebakan atau berlomba lari. Tentu saja kalau diadu berlomba fisik seperti lomba lari maka si Zebrilah yang selalu menjadi juaranya. Walaupun Zebri masih anak-anak namun dibandingkan dengan tubuh teman-temannya dia yang memiliki tubuh yang lebih besar.

Tidak Tahu Berterimakasih

Penebang Kayu yang Tidak Tahu Berterimakasih



Pada jaman dahulu, di suatu desa, ada seorang penebang kayu yang sangat miskin, sehingga dia hanya mempunyai sebuah kapak untuk bekerja dan menghidupi anak-anak dan istrinya. Dengan sangat sulit dia bisa memperoleh enam pence (sejenis mata uang) setiap hari. Dia dan istrinya harus bekerja membanting tulang dari subuh hingga larut malam agar mereka dapat hidup dengan tidak kehabisan makanan. Apabila mereka beristirahat, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.

Kamis, 23 Oktober 2014

Tak Perlu Disesali

Yang Sudah Berlalu Tak Perlu Disesali

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orangtuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan, “Anakku, buku-buku ini adalah harta yang tak terhingga nilainya. Ayah berikan kepadamu, baca dan pelajarilah. Mudah-mudahan kelak  nasibmu bisa berubah lebih baik. Dan ini sedikit uang, pakailah untuk menyambung hidup dan bekerjalah dengan rajin untuk menghidupi dirimu sendiri.”

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution