Rabu, 14 Maret 2012

Kata Syukur Dalam Al-Quran

Syukur                                               
oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
 
Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata
ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan 
sebagai: (1)rasa terima kasih kepada Allah, dan (2)
untunglah  (menyatakan lega, senang, dan sebagainya).Pengertian   kebahasaan   ini  tidak  sepenuhnya 
sama  dengan pengertiannya menurut asal kata itu 
(etimologi) maupun menurut penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.
 
Dalam   Al-Quran   kata  "syukur"  dengan  berbagai  bentuknya
ditemukan sebanyak enam puluh empat  kali.  Ahmad  Ibnu  Faris
dalam  bukunya  Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar
dari kata tersebut yaitu,
 
  a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.
     Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit
     sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini
     (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan
     sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan
     Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan
     barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh
     subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.
 
  b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur
     dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.
 
  c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
 
  d. Pernikahan, atau alat kelamin.
 
Agaknya kedua makna  terakhir  ini  dapat  dikembalikan  dasar
pengertiannya  kepada  kedua  makna  terdahulu.  Makna  ketiga
sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan
yang  sedikit  sekalipun,  sedang  makna  keempat dengan makna
kedua,  karena  dengan   pernikahan   (alat   kelamin)   dapat
melahirkan banyak anak.
 
Makna-makna   dasar  tersebut  dapat  juga  diartikan  sebagai
penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur"  mengisyaratkan
"Siapa  yang  merasa  puas  dengan  yang sedikit, maka ia akan
memperoleh banyak, lebat, dan subur."
 
Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar
bahasa  Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran,
bahwa kata "syukur"  mengandung  arti  "gambaran  dalam  benak
tentang  nikmat  dan  menampakkannya  ke  permukaan." Kata ini
 tulis Ar-Raghib  menurut sementara ulama berasal dari  kata
"syakara"  yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan
dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah  satu
artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.
 
Makna  yang  dikemukakan  pakar di atas dapat diperkuat dengan
beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur  dengan
kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:
 
     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
     amat pedih.
 
Demikian juga dengan  redaksi  pengakuan  Nabi  Sulaiman  yang
diabadikan Al-Quran:
 
     Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku
     apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).
 
Hakikat  syukur  adalah  "menampakkan  nikmat,"  dan   hakikat
kekufuran  adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara
lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang
dikehendaki  oleh  pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan
pemberinya dengan lidah:
 
     Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau
     menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).
 
Nabi Muhammad Saw. pun bersabda,
 
     Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam
     penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
 
Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah
kepada-Ku  dan  janganlah  kamu  mengingkari  (nikmat)-Ku" (QS
Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa  ayat  ini  mengandung
perintah  untuk  mengingat  Tuhan  tanpa  melupakannya,  patuh
kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.  Syukur  orang
demikian  lahir  dari  keikhlasan  kepada-Nya, dan karena itu,
ketika setan menyatakan bahwa, "Demi  kemuliaan-Mu,  Aku  akan
menyesatkan  mereka  manusia)  semuanya"  (QS  Shad [38]: 82),
dilanjutkan dengan pernyataan  pengecualian,  yaitu,  "kecuali
hamba-hamba-Mu  yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:
83). Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan,  "Dan  Engkau
tidak   akan   menemukan   kebanyakan  dari  mereka  {manusia)
bersyukur." Kalimat "tidak  akan  menemukan"  di  sini  serupa
maknanya  dengan  pengecualian  di  atas, sehingga itu berarti
bahwa  orang-orang  yang  bersyukur  adalah  orang-orang  yang
mukhlish (tulus hatinya).
 
Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:
 
  a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas
     anugerah.
 
  b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan
     memuji pemberinya.
 
  c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah
     yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
 
Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian  banyak  aspek.
Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.
 
SIAPA YANG HARUS DISYUKURI
 
Pada  prinsipnya  segala  bentuk  kesyukuran  harus  ditujukan
kepada  Allah  Swt.  Al-Quran  memerintahkan  umat Islam untuk
bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya,
 
     Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula
     kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
     mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).
 
Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:
 
     Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada
     Luqman hikmah, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan
     barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
     sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya
     sendiri."
 
Namun demikian, walaupun  kesyukuran  harus  ditujukan  kepada
Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah "alhamdulillah"
dalam arti "segala puji (hanya) tertuju kepada  Allah,"  namun
ini  bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka
yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara
tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua
orang tua (yang menjadi perantara  kehadiran  kita  di  pentas
dunia  ini.)  Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:
 
     Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu
     bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.
 
Walaupun  Al-Quran  hanya  menyebut  kedua  orangtua  --selain
Allah--  yang  harus  disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa
selain mereka tidak boleh disyukuri.
 
     Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak
     mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu rtwayat yang
     disandarkan kepada Rasul Saw).
 
MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN
 
Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur  kembali
kepada  orang  yang  bersyukur,  sedang Allah Swt. sama sekali
tidak memperoleh bahkan tidak  membutuhkan  sedikit  pun  dari
syukur makhluk-Nya.
 
     Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia
     bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan
     barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka
     sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan
     sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)
 
Karena  itu  pula,  manusia  yang   meneladani   Tuhan   dalam
sifat-sifat-Nya,  dan  mencapai peringkat terpuji, adalah yang
memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang  diberi)  atau
ucapan terima kasih.
 
Al-Quran  melukiskan  bagaimana satu keluarga (menurut riwayat
adalah  Ali  bin  Abi  Thalib  dan  istrinya  Fathimah   putri
Rasulullah  Saw.)  memberikan  makanan  yang mereka rencanakan
menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga  orang  yang
membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa,
 
     Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah
     mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki
     balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima
     kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).
 
Walaupun manfaat  syukur  tidak  sedikit  pun  tertuju  kepada
Allah,  namun  karena  kemurahan-Nya,  Dia menyatakan diri-Nya
sebagai Syakirun 'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan  Syakiran
Alima  (QS  An-Nisa'  [4]:  147),  yang keduanya berarti, Maha
Bersyukur  lagi  Maha  Mengetahui,  dalam  arti   Allah   akan
menganugerahkan  tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk
yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain  dijelaskan  oleh
firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.
 
BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?
 
Di atas telah dijelaskan bahwa  ada  tiga  sisi  dari  syukur,
yaitu  dengan  hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut
akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.
 
a. Syukur dengan hati
 
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa
nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan
kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati  mengantar  manusia  untuk
menerima  anugerah  dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan
keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini  juga
mengharuskan  yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan,
dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian
kepada-Nya.   Qarun   yang  mengingkari  keberhasilannya  atas
bantuan  Ilahi,  dan   menegaskan   bahwa   itu   diperolehnya
semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai
kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya  (Baca  kisahnya  dalam
surat Al-Qashash (28): 76-82).
 
Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka
pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu,
tetapi  karena  terbayang  olehnya bahwa yang dialaminya pasti
lebih kecil dari kemungkinan lain  yang  dapat  terjadi.  Dari
sini syukur --seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia yang dikutip di atas-- diartikan  oleh  orang
yang  bersyukur  dengan  "untung"  (merasa  lega,  karena yang
dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).
 
Dari kesadaran tentang makna-makna  di  atas,  seseorang  akan
tersungkur  sujud  untuk  menyatakan perasaan syukurnya kepada
Allah.
 
Sujud syukur adalah perwujudan dari  kesyukuran  dengan  hati,
yang  dilakukan  saat  hati dan pikiran menyadari betapa besar
nikmat yang dianugerahkan Allah.  Bahkan  sujud  syukur  dapat
dilakukan   saat   melihat   penderitaan   orang  lain  dengan
membandingkan keadaannya  dengan  keadaan  orang  yang  sujud.
(Tentu  saja  sujud  tersebut  tidak  dilakukan  dihadapan  si
penderita itu).
 
Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua  anggota  sujud
di  lantai  yakni  dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan
kedua ujung jari kaki)--seperti melakukan sujud dalam  shalat.
Hanya  saja  sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua
kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu  bukan  bagian
dan  shalat,  maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah
walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan
sewaktu-waktu  dan  secara  spontanitas.  Namun  tentunya akan
sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.
 
b. Syukur dengan lidah
 
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber
nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.
 
Al-Quran,  seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar
pujian    kepada    Allah    disampaikan    dengan     redaksi
"al-hamdulillah."
 
Hamd  (pujian)  disampaikan  secara  lisan kepada yang dipuji,
walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun
kepada yang lain.
 
Kata   "al"  pada  "al-hamdulillah"  oleh  pakar-pakar  bahasa
disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan".
Sehingga   kata   "al-hamdu"   yang   ditujukan  kepada  Allah
mengandung arti  bahwa  yang  paling  berhak  menerima  segala
pujian  adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju
dan bermuara kepada-Nya.
 
Jika kita mengembalikan segala puji  kepada  Allah,  maka  itu
berarti  pada  saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau
kecantikannya,  maka  pujian  tersebut  pada  akhirnya   harus
dikembalikan  kepada Allah Swt., sebab kecantikan dan kebaikan
itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada 1ahirnya ada
perbuatan  atau  ketetapan  Tuhan  yang  mungkin oleh kacamata
manusia dinilai  "kurang  baik",  maka  harus  disadari  bahwa
penilaian  tersebut  adalah  akibat keterbatasan manusia dalam
menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti  ada
sesuatu   yang  luput  dari  jangkauan  pandangannya  sehingga
penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur  dengan  lidah
adalah "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah).
 
c. Syukur dengan perbuatan
 
Nabi  Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh
aneka nikmat yang  tiada  taranya.  Kepada  mereka  sekeluarga
Allah berpesan,
 
     Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS
     Saba [34]: 13).
 
Yang dimaksud dengan bekerja adalah  menggunakan  nikmat  yang
diperoleh   itu   sesuai   dengan   tujuan   penciptaan   atau
penganugerahannya.
 
Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya
agar  merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh
Allah. Ambillah sebagai contoh  lautan  yang  diciptakan  oleh
Allah  Swt. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan
penciptaannya melalui firman-Nya:
 
     Dialah (Allah) yang menundukkan 1autan (untuk kamu) agar
     kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan
     (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang
     kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,
     dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah
     disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).
 
Ayat  ini  menjelaskan  tujuan   penciptaan   laut,   sehingga
mensyukuri  nikmat  laut,  menuntut  dari yang bersyukur untuk
mencari ikan-ikannya, mutiara  dan  hiasan  yang  lain,  serta
menuntut   pula   untuk  menciptakan  kapal-kapal  yang  dapat
mengarunginya, bahkan  aneka  pemanfaatan  yang  dicakup  oleh
kalimat "mencari karunia-~Nya".
 
Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,
 
     Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah
     (nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)
 
Betapa anugerah  Tuhan  tidak  akan  bertambah,  kalau  setiap
jengkal  tanah  yang  terhampar di bumi, setiap hembusan angin
yang bertiup di udara, setiap tetes hujan  yang  tercurah  dan
langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?
 
Di  sisi  lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau
kamu kufur (tidak mensyukuri  nikmat  atau  menutupinya  tidak
menampakkan  nikmatnya  yang masih terpendam di perut bumi, di
dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya  siksa-Ku  amat
pedih."
 
Suatu  hal  yang  menarik  untuk disimak dari redaksi ayat ini
adalah kesyukuran dihadapkan  dengan  janji  yang  pasti  lagi
tegas  dan  bersumber  dari-Nya  langsung  (QS Ibrahim [14):7)
Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa;  itu  pun
tidak  ditegaskan  bahwa  ia  pasti  akan  menimpa  yang tidak
bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).
 
Siksa dimaksud antara  lain  adalah  rasa  lapar,  cemas,  dan
takut.
 
     Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah
     negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya
     datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru,
     tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak
     bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang
     terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka
     mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan
     oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS
     An-Nahl [16]: 112).
 
Pengalaman pahit yang  dilukiskan  Allah  ini,  telah  terjadi
terhadap  sekian  banyak  masyarakat bangsa, antara lain, kaum
Saba --satu suku bangsa yang hidup di Yaman  dan  yang  pernah
dipimpin  oleh  seorang  Ratu  yang amat bijaksana, yaitu Ratu
Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka,  yakni
satu  masyarakat  yang  terjalin  persatuan  dan  kesatuannya,
melimpah  ruah  rezekinya  dan  subur  tanah  airnya.   Negeri
merekalah   yang  dilukiskan  oleh  Al-Quran  dengan  baldatun
thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah  yang  diperintah
dalam   ayat-ayat  tersebut  untuk  bersyukur,  tetapi  mereka
berpaling    dan    enggan    sehingga     akhirnya     mereka
berserak-serakkan,    tanahnya    berubah   menjadi   gersang,
komunikasi dan transportasi antar  kota-kotanya  yang  tadinya
lancar  menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah
bibir orang saja.  Demikian  uraian  Al-Quran.  Dalam  konteks
keadaan mereka, Allah berfirman,
 
     Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka
     disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami
     tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada
     orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).
 
Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:
 
     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
     amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).
 
KEMAMPUAN MANUSIA BERSYUKUR
 
Pada hakikatnya manusia tidak  mampu  untuk  mensyukuri  Allah
secara  sempurna,  baik  dalam  bentuk  kalimat-kalimat pujian
apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua  ayat
dalam  Al-Quran yang menunjukkan betapa orang-orang yang dekat
kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing,  diilhami
dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya.
 
     Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk
     mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan
     kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk
     mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." (QS
     An-Nam1 [27]: 19).
 
     Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk
     mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku
     dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat
     amal saleh yang engkau ridhai" (QS Al-Ahqaf [46]: 15).
 
Nabi  Saw.  juga  berdoa  dan  mengajarkan   doa   itu   untuk
dipanjatkan oleh umatnya,
 
     Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur
     untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.
 
Permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan
oleh dua hal:
 
Pertama,  manusia  tidak  mampu mengetahui bagaimana cara yang
sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu  pula  Allah
mewahyukan  kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya
mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima  kali  ditemukan  dalam
Al-Quran perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah"
(Katakanlah, "Alhamdulillah").
 
Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya?  Ini  disebabkan
karena  pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula
tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena  pengetahuan  manusia
tidak  mungkin  menjangkau  hakikat  Allah  Swt.,  maka  tidak
mungkin pula ia akan mampu memuja dan me~nuji-Nya dengan benar
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
 
     Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian
     untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu
     terhadap diri-Mu.
 
Atas dasar ini, maka  seringkali  pujian  yang  dipersembahkan
kepada  Allah,  didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar
dengan  kata  itu.  Perhatikanlah   firman-Nya   dalam   surat
Asy-Syura ayat 5:
 
     Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka.
 
Atau dalam surat Ar-Ra'd (13): 13:
 
     Guntur bertasbih sambil memuji-Nya.
 
Bahkan manusia  pun  di  dalam  shalat  mendahulukan  "tasbih"
(pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian),
karena khawatir jangan sampai pujian yang  diucapkan  itu  tak
sesuai  dengan  keagungan-Nya.  "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi
hamdihi" ketika  rukuk,  dan  "Subhana  Rabbiyal  'Ala  wa  bi
hamdihi" ketika sujud.
 
Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur
adalah karena setan selalu  menggoda  manusia  yang  targetnya
antara  lain  adalah  mengalihkan mereka dari bersyukur kepada
Allah. Surat Al-A'raf ayat  17  menguraikan  sumpah  setan  di
hadapan  Allah  untuk  menggoda  dan  merayu manusia dari arah
depan, belakang, kiri,  dan  kanan  mereka  sehingga  akhirnya
seperti  ucap  setan  yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai
Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".
 
Sedikitnya makhluk  Allah  yang  pandai  bersyukur  ditegaskan
berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri
seperti firman-Nya:
 
     Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia,
     tetapi kebanyakan manusia tida1k bersyukur (QS
     Al-Baqarah [2]: 243).
 
Dalam ayat lain disebutkan:
 
     Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada
     Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang
     bersyukur (QS Saba' [34]: 13) .
 
Hakikat yang sama diakui  pula  oleh  hamba-hamba  pilihan-Nya
seperti yang diabadikan Al-Quran dari ucapan Nabi Yusuf a.s.,
 
     Kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]: 38).
 
Hakikat di atas tercermin juga  dari  penggunaan  kata  syukur
sebagai  sifat  dari  hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka
yang disebut oleh Al-Quran  sebagai  hamba  Allah  yang  telah
membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh a.s. yang
dinyatakan-Nya   sebagai   "Innahu   kanna   'abdan   syakura"
(Sesungguhnya  dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur)
(QS  Al-Isra'  [17]:  3),  dan  Nabi   Ibrahim   a.s.   dengan
firman-Nya,    "Syakiran   li   an'umihi"   (yang   mensyukuri
nikmat-nikmat Allah) (QS An-Nahl [16): 12l).
 
Al-Quran menggarisbawahi  bahwa  biasanya  kebanyakan  manusia
hanya   berjanji   untuk   bersyukur  saat  mereka  menghadapi
kesulitan. Al-Quran menjelaskan  sikap  sementara  orang  yang
menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:.
 
     Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan
     ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),
     "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari
     bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk
     orang-orang yang bersyukur" (QS Yunus 110]: 22).
 
Demikian juga dalam surat Al-An'am (6): 63.
 
     Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari
     bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa
     kepada-Nya dengan berendah dri dengan suara yang lembut
     (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia
     menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami
     menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" (QS Al-An'am
     [6]: 63).
 
APA YANG HARUS DISYUKURI?
 
Pada dasarnya  segala  nikmat  yang  diperoleh  manusia  harus
disyukurinya.  Nikmat  diartikan  oleh sementara ulama sebagai
"segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda". Adakah manusia
memiliki  sesuatu sebagai modal? Jawabannya, "Tidak". Bukankah
hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah?
 
     Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,
     sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
     disebut? (QS Al-Insan [76]: 1).
 
Nikmat  Allah  demikian  berlimpah  ruah,  sehingga   Al-Quran
menyatakan,
 
     Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya
     kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:
     34).
 
Al-Biqa'i   dalam   tafsirnya   terhadap   surat    Al-Fatihah
mengemukakan  bahwa  "al-hamdulillah"  dalam  surat Al-Fatihah
menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati  oleh
makhluk,  khususnya  manusia. Itulah sebabnya --tulisnya lebih
jauh--   empat   surat   lain   yang   juga   dimulai   dengan
al-hamdulillah  masing-masing  menggambarkan  kelompok  nikmat
Tuhan, sekaligus merupakan  perincian  dari  kandungan  nikmat
yang   dicakup   oleh   kalimat   al-hamdulillah  dalam  surat
Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah  induk  Al-Quran  dan
kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain.
 
Keempat surat yang dimaksud adalah:
 
1. Al-An'am (surat ke-6) yang dimulai dengan,
 
     Segala puji bagi Allah Yang te1ah menciptakan langit dan
     bumi, dan mengadakan gelap dan terang.
 
Ayat  ini  mengisyaratkan  nikmat  wujud  di  dunia ini dengan
segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di  darat,  laut,
maupun udara, serta gelap dan terang.
 
2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan,
 
     Segala puji bagi Allah yang te1ah menurunkan kepada
     hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat
     kebengkokan (kekurangan) di dalamnya.
 
Di  sini  diisyaratkan  nikmat-nikmat  pemeliharaan Tuhan yang
dianugerahkannya secara aktual  di  dunia  ini.  Disebut  pula
nikmat-Nya   yang   terbesar   yaitu   kehadiran  Al-Quran  di
tengah-tengah umat  manusia,  untuk  "mewakili"  nikmat-nikmat
pemeliharaan lainnya.
 
3. Saba' (surat ke-34), yang dimulai dengan,
 
     Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di
     langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula
     segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana
     lagi Maha Mengetabui.
 
Ayat  ini  mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni
kehidupan baru setelah mengalami kematian di  dunia,  di  mana
dengan   kehadirannya   di   sana   manusia  dapat  memperoleh
kenikmatan abadi.
 
4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan,
 
     Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang
     menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus
     berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang
     mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan
     empat.
 
Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang  akan
dianugerahkan  Allah  kelak  setelah  mengalami  hidup baru di
akhirat.
 
Setiap rincian yang terdapat  dalam  keempat  kelompok  nikmat
yang  dicakup  oleh  keempat  surat  di  atas, menuntut syukur
hamba-Nya baik  dalam  bentuk  ucapan  al-hamdulillah,  maupun
pengakuan  secara  tulus  dari  lubuk  hati, serta mengamalkan
perbuatan yang diridhai-Nya.
 
Di  atas  dikemukakan  secara  global  nikmat-nikmat-Nya  yang
mengharuskan   adanya  syukur.  Dalam  beberapa  ayat  lainnya
disebut sekian banyak nikmat secara eksplisit, antara lain:
 
1. Kehidupan dan kematian
 
     Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat)
     Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan,
     kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS
     A1Baqarah [2]: 28).
 
2. Hidayat Allah
 
     Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
     diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah
     [2]: 185).
 
3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya.
 
     Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu
     bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)
 
4. Pancaindera dan akal.
 
     Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
     keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu
     pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu
     bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).
 
5. Rezeki
 
     Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu
     bersyukur (QS Al-Anfal [8]: 26).
 
6. Sarana dan prasarana antara lain
 
     Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu)
     agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar
     darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan
     yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar
     padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan
     karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:
     14) .
 
7. Kemerdekaan
 
     Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai
     kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia
     mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu
     orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun)
     (QS Al-Maidah [5]: 20)
 
Masih banyak lagi nikmat-nikmat  lain  yang  secara  eksplisit
disebut oleh Al-Quran.
 
Dalam  surat  Ar-Rahman  (surat  ke-55), Al-Quran membicarakan
aneka nikmat Allah dalam kehidupan  dunia  ini  dan  kehidupan
akhirat  kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan.
Quran mengulangi satu  pertanyaan  dengan  redaksi  yang  sama
yaitu,
 
     Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?
 
Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga  puluh  satu  kali.
Sementara  ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya
untuk sampai pada suatu kesimpulan.
 
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan  dalam
kehidupan   di   dunia  ini,  antara  lain  nikmat  pengajaran
Al-Quran,  pengajaran  berekspresi,  langit,  bumi,  matahari,
lautan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
 
Tujuh  pertanyaan  berkaitan  dengan  ancaman  siksa neraka di
akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian  dari
pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat
Tuhan.
 
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat  Tuhan  yang
diperoleh dalam surga pertama.
 
Delapan  pertanyaan  berkaitan  dengan  nikmat-nikmat-Nya pada
surga kedua.
 
Dari hasil pengelompokan demikian, para ulama menyusun semacam
"rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah
yang disebutkan dalam  rangkaian  delapan  pertanyaan  pertama
--syukur seperti makna yang dikemukakan di atas-- maka ia akan
selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut  dalam  ancaman
dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih
pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga,  baik  surga
pertama  maupun  surga  kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi)
maupun kenikmatan ukhrawi.
 
WAKTU DAN TEMPAT BERSYUKUR
 
     Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di
     langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula)
     segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi
     Maha Mengetahui (QS Saba' [34]: l).
 
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt.  harus  disyukuri,  baik
dalam  kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Salah
satu ucapan syukur di akhirat adalah dari  mereka  yang  masuk
surga yang berkata,
 
     Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi
     petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak
     memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak
     memberikan kami petunjuk (QS Al-A'raf [7]: 43).
 
Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan  kapan  dan  di  mana
saja di dunia dan di akhirat.
 
Dalam  konteks  syukur  dalam  kehidupan  dunia  ini, A1-Quran
menegaskan bahwa Allah Swt. menjadikan  malam  silih  berganti
dengan  siang,  agar  manusia dapat menggunakan waktu tersebut
untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan  malam  dan
siang   silih   berganti,  bagi  orang  yang  ingin  mengambil
pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS A1-Furqan  [25]:
62).
 
Dalam surat Ar-Rum (30): 17-18 Allah memerintahkan,
 
     Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di
     petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan
     bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di
     waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu
     berada di waktu zuhur.
 
Segala  aktivitas  manusia  --siang  dan   malam--   hendaknya
merupakan  manifestasi  dari  syukurnya.  Syukur  dengan 1idah
dituntut saat seseorang merasakan  adanya  nikmat  Ilahi.  Itu
sebabnya    Nabi    Saw.   tidak   jemu-jemunya   mengucapkan,
"Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi.
 
Saat bangun tidur beliau mengucapkan,
 
     Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan
     (membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami
     dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan.
 
Atau membaca,
 
     Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku
     ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku
     mengingat-Nya.
 
Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca,
 
     Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah
     pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu
     segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan
     bumi dan segala isinya ...
 
Ketika berpakaian beliau membaca,
 
     Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan
     (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa
     kemampuan dan kekuatan (dari diriku).
 
Sesudah makan beliau mengucapkan,
 
     Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan
     memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim.
 
Ketika akan tidur, beliau berdoa,
 
     Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah,
     bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi.
 
Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam  berbagai  situasi
dan kondisi.
 
Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari
saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat
dan kasih sayang Tuhan. Dia  akan  merasa  bahwa  Tuhan  tidak
membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam
jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia  mendapat  cobaan
atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,
 
     Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji
     walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.
 
Kalimat semacam ini terlontar, karena  ketika  itu  dia  sadar
bahwa  seandainya  apa yang dirasakan itu benar-benar mempakan
malapetaka,  namun  limpahan  karunia-Nya   sudah   sedemikian
banyak,  sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti
dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.
 
Di samping itu akan terlintas  pula  dalam  pikirannya,  bahwa
pasti   ada  hikmah  di  belakang  cobaan  itu,  karena  Semua
perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.
 
SIAPA YANG DISYUKURI ALLAH?
 
Al-Quran juga berbicara menyangkut siapa dan  bagaimana  upaya
yang  harus  dilakukan sehingga wajar disyukuri. Dua kali kata
masykur dalam arti yang  disyukuri  terulang  dalam  Al-Quran.
Pertama adalah,
 
     Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),
     maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami
     kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami
     tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya
     dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang
     menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
     dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka
     mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri
     (dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan
     baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yanp itu
     (yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami
     berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan
     Tuhanmu tidak dapat dihalangi (QS Al-Isra' [17]: 18-20).
 
Kedua adalah:
 
     Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu
     adalah disyukuri (QS Al-Insan [76]: 22).
 
Isyarat "ini" dalam ayat di atas  adalah  berbagai  kenikmatan
surgawi  yang  dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat
12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).
 
Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang  dua  macam  usaha
yang  lahir  dari  dua  macam  visi  manusia. Ada yang visinya
terbatas pada "kehidupan  sekarang",  yakni  selama  hidup  di
dunia ini, tidak memandang jauh ke depan. "Kehidupan sekarang"
diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya,  boleh  jadi
juga   "sekarang"   berarti   masa   hidupnya  di  dunia  yang
mengantarkannya bervisi hanya  puluhan  tahun.  Ayat  di  atas
menjanjikan  bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses
sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah. Tetapi
setelah  itu  mereka  akan  merasa  jenuh  dan  mandek, karena
keterbatasan visi tidak  lagi  mendorongnya  untuk  berkreasi.
Nah,   ketika   itulah  lahir  rutinitas  yang  pada  akhirnya
melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi  pada  tingkat
perorangan  atau  masyarakat.  Kejenuhan  dengan segala dampak
negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat
secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah
mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan  bukti  nyata  dari
kebenaran  hakikat  yang  diungkapkan A1-Quran di atas. Tetapi
jika  pandangan  kita  jauh  ke  depan,  visi  seseorang  atau
masyarakat  melampaui kehidupan dunianya, maka ia tidak pernah
akan berhenti-bagai seseorang yang menggantungkan cita-citanya
melampaui  ketinggian  bintang.  Ketika  itu  dia  akan  terus
berusaha  dan  berkreasi,  sehingga  tidak  pernah   merasakan
kejenuhan,  karena  di  balik  satu  sukses masih dapat diraih
sukses berikutnya. Memang Allah menjajikan untuk terus-menerus
dan  sementara  menambah  petunjuk-Nya  bagi mereka yang telah
mendapat petunjuk.
 
     Dan Allah sementara menambah petunjuk-Nya bagi
     orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Maryam [19]: 76).
 
Orang yang  demikian  itulah  yang  semua  usahanya  disyukuri
Allah.   Mereka  yang  disyukuri  itu  akan  memperoleh  surga
sebagaimana dilukiskan oleh kata masykur pada ayat kedua  yang
menggunakan kata ini, yakni surat Al-Insan ayat 22.
 
                              ***
 
Demikian sekelumit uraian Al-Quran  tentang  syukur.  Kalaulah
kita   tidak   mampu  untuk  masuk  dalam  kelompok  minoritas
orang-orang  yang  pandai  bersyukur  (atau  dalam   istilah
Al-Quran  asy-syakirun,  yakni orang-orang yang telah mendarah
daging dalam dirinya  hakikat  syukur  dalam  ketiga  sisinya:
hati,  lidah,  dan  perbuatan)   maka paling tidak kita tetap
harus berusaha  sekuat  kemampuan  untuk  menjadi  orang  yang
melakukan  syukur   atau  dalam  istilah Al-Quran yasykurun 
betapapun kecilnya syukur itu.  Karena  seperti  bunyi  sebuah
kaidah keagamaan,
 
     Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan
     ditinggalkan sama sekali. 
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution