Kamis, 18 September 2014

Si Pencari Muka

CARI MUKA DAN PENJILAT



Setiap orang ingin bekerja dengan nyaman dan berpenghasilan cukup di tempat kerja mereka, terutama bagi para kasta kuli atau bawahan belum menjadi majikan atau atasan. Kian nyaman seseorang bisa bekerja, maka akan semakin baik produktifitasnya.

Dari sekian banyak faktor yang bisa membuat nyaman adalah rekan kerja. Di artikel ini saya mencoba menulis perilaku yang menjengkelkan, bahkan bisa merusak dan menurunkan produktifitas dan mood kita.


Tapi, sebenarnya ada hal lain yang mesti diwaspadai di kantor/tempat kerja, seperti pada judul di atas “Waspadai Orang yang Suka cari Muka dan Penjilat”. Bisa dikatakan, ini adalah bahaya laten yang mesti diwaspadai bahkan jika perlu dideteksi secara dini sebelum orang-orang  seperti ini merusak suasan dalam pekerjaan Anda.

Orang yang suka cari muka ini bisa dikatakan bermuka seribu. Dia bisa bermuka manis dan ramah terhadap banyak orang tapi di sisi lain, dia akan membuat posisi Anda menjadi jatuh, bodoh, terpuruk (dan seribu istilah lainnya) di mata atasan Anda.

Ada beberapa ciri orang yang doyan cari muka:

1. Dia merasa paling sibuk, tapi sebenarnya tidak ada output kerjaan dia yang berguna.

2. Dia tidak akan segan-segan untuk menindas rekannya. Tidak perlu secara fisik,  tapi bisa juga dengan cara mensabotase pekerjaan Anda. Nantinya, pekerjaan dia yang akan diajukan dan dinilai baik oleh atasan.

3. Sabotase juga bisa dilakukan dengan cara menutup hak akses Anda ke resource- resource yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan Anda (ataupun untuk membuat Anda nyaman bekerja). Contoh paling gampang adalah administrator jaringan (network) yang akan menutup atau membatasi akses internet untuk orang-orang yang tidak dia sukai. )

4. Dia sering mengajukan diri untuk mengerjakan tugas dari si atasan, tapi sebenarnya
pekerjaan itu dilemparkan ke orang lain, apalagi Anda. Orang lain/Anda yang bersusah payah bekerja, dia yang dapat nama baik/pujian.

5. Segala urusan atasan diurus oleh dia. Bahkan jika perlu dia menjadi jongos pribadi (tidak lagi asisten pribadi) atasan.

6. Menjadi mata-mata atasan dengan melaporkan kegiatan anak buah (rekan kerjanya) yang dirasa tidak berhubungan dengan pekerjaan di kantor. Bahkan jika perlu dia akan foto Anda yang sedang ke-gap main game atau facebook-an.

7. ….. (silakan isi jika ada ciri-ciri lain yang menurut Anda merupakan tanda si pencari muka)
Upsss…ternyata Anda temukan orang-orang dengan ciri-ciri di atas di kantor Anda. Dan ternyata memang benar dia si pencari muka. So, apakah itu berarti Anda mesti menyerah dan resign dari kantor?

Ooo…tidak bisaaaa… 

Anda tidak perlu menyerah dengan orang-orang seperti itu, karena orang-orang seperti ini biasanya selalu ada di kantor. Yang Anda mesti lakukan adalah MELAWANNYA!

Berikut ini beberapa cara untuk melawan si pencari muka:

1. Teliti dulu pekerjaan yang diterima dari dia. Jika dia melakukan poin (4) di atas, segera tolak.

2. “Sedikit berbeda” dengan poin (1), Anda SELALU TOLAK pekerjaan yang datang dari dia.
3. Hindari kerjasama dengannya, terutama jika Anda 1 divisi. Cari alasan yang logis agar Anda tidak dipasangkan dengannya, apalagi jadi ‘anak buahnya’.

4. Jika Anda terima pekerjaan dari dia, dan ternyata pekerjaan itu dari atasan, maka serahkan langsung hasilnya ke atasan Anda. Jika perlu beri alasan bahwa Anda meluangkan waktu tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan ini.*well, mungkin ‘sedikit’ cari muka, tapi toh Anda yang memang mengerjakannya kan?)

Ayo,a yo., pasang radar Anda dan perhatikan kondisi Anda. Jika Anda merasa sering mendapat banyak pekerjaan (apalagi yang bukan scope jobdesc Anda) coba perhatikan siapa yang ngasih kerjaan dan berhati-hatilah!

Perilaku seperti di atas, sebenarnya ada dalam sejarah sepanjang kehidupan umat manusia. Seorang lelaki bernama Yunus bin Ya’qub mendatangi Imam Ja’far Ash- Shadiq RA sambil berkata, “Berikanlah tanganmu padaku karena aku hendak menciumnya” Imam Ja’far memberikan tangannya dan lelaki itu pun leluasa menciumnya. Kemudian lelaki itu melanjuntukan permintaannya, Dekatlah Kepalamu,” Imam Ja’ar mendekatkan kepalanya dan lelaki itu pun menciumnya.

Tak puas sampai disitu, lelaki itu berkata, “Berikan kakimu karena aku ingin menciumnya juga.” Imam Ja’far dengan nada tak senang berkata “Aku bersumpah bahwa setelah mencium tangan dan kepala maka angggota tubuh yang lain tak layak dicium.”

Ada dua poin penting yang dapat kita petik dari kisah tersebut. Pertama, Islam melarang segala bentuk penjilatan. Kedua, siapa pun yang dijilat hendaknya merasa tidak enak.

Rasullullah SAW bersabda, “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364). Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik.

Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

Sebagaimana kisah tersebut, Yunus bin Ya’qub menjilat pemimpin agamanya, agar dengan cara itu ia mendapatkan pengakuan ketaatan dan ketulusan dari pemimpinnya. Namun, sayangnya, ia berhadapan dengan seorang pemimpin yang bukan hanya tidak mau dijilat, tapi juga melarang segala bentuk penjilatan.

Lalu mengapa Islam melarang budaya menjilat?? Menjilat adalah salah satu bentuk kehinaan. Padahal, Islam datang menjunjung tinggi kemulian dan kehiormatan manusia. Sedangkan penjilat berusaha menghinakan dirinya dan merobohkan harkat dan martabat manusia yang dibangun Islam.

Terkadang, budaya menjilat ini timbul karena kesalah pahaman terhadap makna dan pengertian tawadhu (rendh hati). Misalnya, seorang bawahan merasa perlu memuji atasannya setinggi langit demi menunjukkan loyalitasnya terhadap sang atasan. Ironis sekali kalau sang atasan mengangguk-anggukkan kepalanya alias mengamini dengan berbagai pujian itu. Sementara hal yang dijadikan bahan pujian bawahannya itu sebenarnya tidak terjadi.

Dengan demikian, atasan ini telah membiarkan kebohongan dan kepura-puraan terhadap dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya dikatakan ada. Bukankah ini dusta yang besar? Bukankah ini hal yang terlarang. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347). Karena itu, hindari sejauh mungkin segala tindakan yang menjurus ke arah penjilatan.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution