Selasa, 02 September 2014

Lowest Point

Menyingkap persepsi dan pola pikir kembali pada akarnya

Percayalah bila kehidupan itu sebuah perjalanan, Andalah pengemudinya. Sudah kodrat sebagai manusia, sejak dilahirkan hingga kematian menjelang, adalah menjalaninya. Tidak ada pilihan lain, toh Anda bukan superhero buatan Marvel Studios. Usia semakin bertambah, begitu pula dengan lika-liku hidup yang (sudah pasti klise) ada suka dan duka. Apa yang ada di sekeliling Anda semuanya adalah tentang perputaran. Bila Anda sudah menyaksikan film Lucy, dalam satu adegan ia menyebut bila satuan yang paling pasti adalah waktu. Sempat saya terdiam memikirkan hal itu, bisa benar, bisa tidak. Semua kembali pada titik di mana Anda ingin mengambil sudut pandang.

Anggap hidup Anda adalah sebuah bianglala, bahkan bila ingin berpikir layaknya ilmuwan Nasa, semua memang berputar layaknya galaksi Bimasakti. Begitu pula kehidupan. Inilah momentum di mana seseorang yang beranjak dewasa terkadang terombang-ambing dalam ketidak pastian di saat hidupnya terjun bebas dalam satu mimpi buruk yang lazim disebut lowest point. Titik terendah dalam hidup. Sangat ironis memang saat frase itu hinggap di telinga. Wajar bila Anda, teman, atau orang Anda cintai sekalipun pasti memuntahkan segala keluh kesah di saat ia berada dalam titik terendah dalam kehidupannya. 

Tetapi haruskah lowest point itu selalu menjadi momok menakutkan dalam hidup? Tergantung bagaimana setiap orang memaknainya. Ada yang menilai itu hikmah untuk menggapai kesukesan di kemudian hari, atau (terburuk) menyerah begitu saja, tak ayal berujung mengakhiri hidup tanpa menyelesaikan satu masalah sekalipun. Dari apa yang saya nilai dan pelajari, lowest point of my life itu berujung pada dua hal, bisa menjadi bad luck, tapi percayalah Anda mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk merubahnya menjadi sebuah keberuntungan.

Lowest point itu pasti terjadi

Anda tidak hidup dalam kartun Disney yang menjual kesenangan. Suatu saat, lowest point itu akan menghampiri hidup semua orang. Kegagalan dalam karir, ditinggal kekasih tercinta, sampai masalah finansial kelak akan menghampiri hidup Anda suatu hari. Hidup itu memang tentang "Halo" dan "Goodbye". Awal dan akhir. Tidak ada pilihan lain kecuali Anda menghadapinya sesuka hati. Sesuka hati? Berat memang. Tapi proses melalui titik terendah dalam kehidupan itulah ajang pendidikan jiwa yang penting untuk melanjutkan hidup.

Berkaca dan berbagi

Jika lowest point itu kini menghampiri hidup Anda, sambutlah. Inilah saat-saat Anda harus berkaca pada diri sendiri, apa kesalahan Anda, apa kebaikan Anda, dan apa yang harus Anda lakukan. Yakinlah jika Anda tidak menghadapi kehancuran ini seorang diri, jutaan orang di dunia ini mungkin mengalami titik terendah dalam kehidupannya yang beribu kali lebih dahsyat dari apa yang Anda alami. Berkeluh kesahlah, tuangkan, berbagi pada orang-orang di sekitar yang sangat Anda percayai. Jika Anda ingin menyepi dari kehidupan sementara waktu untuk menemukan satu jawaban, itu pun sah-sah saja. Namun satu hal yang harus Anda ingat, bahkan alam pun bisa mendengar apa yang Anda rasakan.

Jejakkan kaki, bangkit, berlari

Jika memang waktu adalah satuan yang paling absolut di alam semesta ini, maka itulah harta cuma-cuma yang bisa Anda gunakan saat ini juga. Tak ada gunanya berdiam berpangku tangan, sementara waktu tidak mempedulikan Anda dan terus berjalan. Gunakan kekuatan tersembunyi pada diri Anda yang disebut keyakinan. Yakinlah bila semua hal buruk yang terjadi dalam hidup Anda itu memang harus terjadi dan pasti terlewati. Bagi saya pribadi, di saat saya terjerembab dalam lowest point yang saya hadapi, kekuatan tersendiri akan saya dapatkan dengan bangun pagi dan menyaksikan matahari terbit di balik jendela. Luka yang menggores jiwa Anda itulah yang kelak akan menjadi simbol jati diri yang lebih mapan dan kian matang di kemudian hari...


By Putra Tjokroadisoerjo

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution