Rabu, 02 September 2015

Ko' Menjadi Orang Baik Banyak Cobaannya

Mengapa menjadi orang baik begitu banyak cobaannya dan begitu berat ujiannya? Begitulah pertanyaan yang sering muncul di benak kita.


Untuk menjawab pertanyaan ini, tidak tepat kiranya jika berpegang pada pendapat ahli ilmu filsafat atau kajian ilmu psikologis yang beranggapan bahwa suatu perbuatan baik pasti mendapat balasan baik dan perbuatan jahat mendapat balasan jahat. 

Karena sering dikehidupan nyata di dunia ini hal itu selalu bertolakbelakang. Bukankah sudah maklum terlihat kebanyakan orang-orang yang selalu berbuat jahat dan tidak berpegang pada syariat agama justru mendapatkan banyak kebaikan (menurut mata manusia) dalam kehidupan ini.

Bijaksana kiranya jika pentanyaan ini dijawab dari pengetahuan agama dan kisah-kisah orang shaleh terdahulu. Sebagai ukuran bahwa semua cobaan dan ujian berat yang ditimpakan kepada orang-orang baik memiliki hikmah kebaikan dibaliknya.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah, tapi ia juga orang yang paling banyak dan paling berat cobaannya. Para nabi yang lain juga adalah manusia-manusia paling mulia dan paling dikasihi Allah SWT tapi mereka juga adalah yang paling banyak dan berat dicoba oleh Allah SWT.

Kafilah ini lalu diikuti dengan kafilah para ulama salaf yang shalih, mereka adalah yang paling banyak dan berat pula cobaannya jika dibanding manusia lainnya. Imam Syafi’i mengalami pengusiran dari Kufah ke Mesir, Imam Ahmad dipenjara dan disiksa bertahun-tahun, dan Imam Malik disiksa sampai mematahkan kedua tulang bahunya.

Cobaan (ujian) berasal dari kata bahasa Arab fa-ta-na yang berarti imtihaan, ikhtiyaar, ibtilaa’, yang artinya ujian. Kalimat fatanu adz-dzahaab berarti membakar emas untuk memurnikannya, artinya emas perlu dibakar (diuji) dulu sampai ketahuan kualitasnya. Demikian juga pembakaran batu bata dan pencucian pakaian dilakukan untuk menguatkannya dan membersihkannya. Demikian pula cobaan dan ujian bagi manusia diberikan untuk menguatkan jiwanya dan membersihkan dosanya.

Maka cobaan bagi seorang mu’min akan selalu meningkatkan ketinggian dan kemuliaannya disisi Allah, dan menguji kebenaran keimanannya.

Hikmah yang lain dari cobaan adalah bahwa dengannya seorang mu’min menjadi semakin matang dan kuat, serta bertawakkal dan semakin berserah diri kepada Allah SWT.

Dan tidaklah cobaan yang datang kepada seorang mu’min, kecuali hal itu baik baginya sepanjang ia bersabar dan bersyukur, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Menakjubkan urusan seorang mu’min, jika ia mendapatkan ni’mat maka ia bersyukur dan syukur itu sangat baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah maka ia bersabar dan sabar itu sangat baik baginya.” (HR Muslim & Tirmidzi)

Lihatlah istri Rasulullah SAW, Aisyah ra yang mendapatkan cobaan yang sangat berat dalam sejarah Islam dengan fitnah yang keji.

Imam Ghazali dalam Ihya-nya menceritakan tentang kisah dirinya sendiri, sangkaannya bahwa ia sudah mencapai kesempurnaan dalam bersabar, maka ia berdoa pada Allah untuk diberikan cobaan sekehendak-Nya, maka Allah-pun mengujinya dengan cobaan yang remeh, yaitu tidak dapat buang air kecil, maka iapun tidak mampu menanggung cobaan tersebut, maka iapun bertaubat dan Allah SWT menyembuhkannya, maka iapun keluar ke jalan-jalan sambil berkata pada setiap anak kecil yang dijumpainya: “Pukullah pamanmu yang bodoh ini nak!”

Cobaan dan ujian adalah sebuah kemestian dalam kehidupan, tetapi hendaklah kita tidak meminta untuk diberi cobaan oleh Allah SWT, karena kalau DIA menguji kita, maka cobaan tersebut pasti sesuai dengan kemampuan kita, karena DIA Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, tetapi kalau kita yang meminta untuk diuji, maka ujian yang datang boleh jadi diluar kemampuan kita, karena DIA Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.

Istiqomahlah dalam perbuatan baik dan bersabarlah dalam menghadapi cobaan dan ujian. Karena setiap kesusahan dari cobaan terkandung nilai-nilai kebaikan dan pahala di sisi-Nya. Dan itu akan menjadi permata-permata yang indah di alam akhirat bagi orang-orang beriman yang selalu menyebar kebaikan di dunia ini.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah 214)





0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution