Rabu, 16 September 2015

Merenung

Alhamdulillah, Aku  bersyukur  Allah telah memanjangkan usia, hingga sampai di Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawwal 1436 H tahun ini.
Teman, Aku punya Kesan yang saaaaaa....ngat mendalam pada Idul Fitri tahun ini. Tepatnya saat Bapak Abdul Nasir Al-Jabbari Dalam Khutbahnya  di lapangan Masjid Dzarratul Muthmainnah Komp. Batan Indah Serpong Tangsel. Yang isi khutbahnya Sangat menyentuh hati, sangat bermanfaat, sangat bermakna, dan sangat mengena sampai relung hati aku yang paling dalam.heee....segitunya yah.....

Merenunginginya sudah otomatis hingga meneteskan air mata! malah,  sampai dalam hati aku berkata, memang seharusnya aku tidak Cuma bisa mendengar, membaca, komentar dan lain-lain  tetapi juga aku perlu belajar ilmu kebaikan, sekalipun kenyataannya begitu berat, heee...itu buat aku teman....

Karena itu aku menoba untuk mengingat dan menggoreskan catatan kecilku ini,  berdasarkan Khutbah dan Tulisan Bapak Abdul Nasir Al-Jabbar.

-  -  Momen Idul Fitri ini, hendaknya dijadikan waktu untuk menghisab diri dan mengoreksi diri.

-  -  Bahwa Idul Fitri yang kita rayakan ini, adalah kemenangan kecil, belum sempurna, karena masih banyak tantangan dan godaan bujuk rayu setan yang berat menghadang kita di hari-hari sebelas bulan kedepan.

Namun tidaklah mengurangi rasa gembira dan syukur kepada Allah, karena telah mampu melewati satu tahap yaitu hari penuh tantangan dan godaan selama puasa Ramadhan.

Semoga kemenangan dan kesucian ini, akan mampu mengawal perjalanan kita sebelas bulan kedepan.

     Karena itu di sisa usia kita ini selagi masih diberi kesempatan hidup, mari kita manfaatkan dengan kebaikan-kebaikan, karena  kematian kita telah datang, sesuatu yang kita banggakan tidak mampu memberi pertolongan untuk mencegah datangnya kematian sekalipun kita punya Istri yang cantik; suami ganteng yang disayangi; Harta yang ditumpuk-tumpuk dan disimpan di Bank; Pangkat dan Jabatan yang disanjung-sanjung dan dibanggakan; Rumah megah dan kendaraan mewah yang membuat hati jadi pongah. Semua itu tak berarti dan tidak berguna bila kematian telah datang. 
Kemudian Bapak Abdul Nasir Al-Jabbari mengingatkan kepada kita bahwa ada  firman Allah Swt. Ingatlah;
“Dimana saja kamu berada, kematian pasti akan mendatangi mu, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kuat”.

Saat kematian, kita hanya memakai sehelai kain kafan putih yang melekat di badan, kemudian dengan keranda kita diusung  oleh kaki-kaki yang berjalan, diiringi isak tangis keluarga, kemudian jasad kitapun masuk kubur terbujur kaku sendirian, tumpukan tanah yang menjadi saksi tiap pertanyaan, liang lahat pun mendadak menciut dan menghimpit kita, jika hujan jasad kita kedinginan, sunyipun mencekam, binatang tanah siap menerkam menghancurkan tubuh kita.

Allahu Akbar 3x

    Jika kita mengaku beriman, apakah kita telah taat mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya atau justru menjadi penentang dan pendzolim.
   Jika kita menjadi anak, sudahkah kita berbakti kepada orang tua, apa lagi Ibu yang mengandung dan melahirkan kita dengan penuh perjuangan dan penderitaan, susah payah mengurus kitas, menangis, menyusui dan lain-lain.

Demikian pula pengorbanan Ayah, yang berikhtiar mencari nafkah tidak mengenal lelah, sekalipun  terik matahari menyengat tubuhnya, hujan besar, petir menyambar tak dihiraukannya, Kadang ayah bersedih, seharian bekerja tak mendapatkan uang, dan untuk Mencari hutanganpun sulit.

Sungguh besar pengorbanan kedua orang tua kita ya…

Ada pepatah mengatakan: “Kasih Orang Tua Sepanjang Jalan” – “Kasih Anak Sepanjang Galah”.

    - Jika anak minta, segera orang tua memberi, jika tidak ada mereka berusaha mencari.

   - Jika anak sakit, orang tua ikut merasa sakit, khawatir, segera  berobat, dan menemani sepanjang malam ga’ tidur, karena sayang dan khawatirnya kepada kita anaknya.
- Jika punya uang ya untuk anak, punya makanan ya untuk anak, punya kendaraan untuk anak, kamar anak tempatnya di depan, segalanya untuk anak, itulah pengorbanan orang tua kita,  itulah kasih sayang orang tua kita untuk anaknya.

Tapi apa yang terjadi! anak kepada orang tuanya, “Bagai air susu dibalas dengan air tuba”.

- Saat kedua orang tua sudah tua renta, harta habis, tenagapun tiada, pastinya ada harapan untuk bergantung pada sang anak yang dibesarkannya.
- Tetapi harapan tinggal harapan, tak sesuai dengan kenyataan
      - Ketika orang tua meminta, anak pelit nan kikir, hardikan, omelan  menyakiti  hatinya
      - Ketika orang tua sakit, anak terasa menjauhinya, enggan mendekat
      - Ingin makan, harus lama menunggu pemberian sang anak
      - Kepikunan orang tua, membuat anak malu pada tamu-tamunya
      - Kamar tidurpun ditempatkan dipojok dapur
      - Akhirnya anak tidak sadar, orang tuanya diasingkan di panti jompo

Allahu Akbar 3x

“Itukah balasan anak pada orang tua?. Itukah derita kedua orang tua?

Oleh karna itu janganlah perlakukan kedua orang tua kita dengan buruk dan durhaka. Perjuangan dan do’anya, menjadikan kita sukses dan berhasil seperti sekarang.

Waktu yang pas di Hari Raya ini, mari kita muliakan keduanya, dengan saling memaafkan dari hati yang terdalam :

    - Bersimpuhlah anak pada orang tuanya atas dosa dan durhaka yang telah diperbuat
    - Bersimpuhlah istri pada suaminya atas kewajiban yang belum sempurna
    - Begitu pula sang ayah, memohon pada anak dan istri atas kewajiban yang belum terpenuhi
    - Para kerabat dan tetangga, hilangkan rasa benci, dendam dan permusuhan dalam hatinya, ganti dengan suasana penuh maaf dan kasih sayang
- Kita tutup halaman lama yang penuh kotoran dan noda, kita ganti dengan lebaran baru yang penuh harapan, cinta, kasih dan sayang.
      
”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faizin”

“Semoga Allah menerima amal-amal kita, Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.”

Hati yang sehat adalah hati yang mudah memaafkan, maafkan aku ya...  Semoga catatan ini bermanfaat.



Wassalam. 

















2 komentar:

Ali Ridho mengatakan...

Hidup pasti ada ujiannya, Mbak

heru_anto mengatakan...

Bung Muhammad Ali Ridho, Sip bener banget!...ujian tanda kita hidup u/berinstropeksi dan belajar agar lbh baik....kl ga diuji mungkin kita tdk inget Allah Swt....makasih ya buat masukannya...

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution