Rabu, 30 September 2015

Sikap Diam Sedikit Bicara

Diam Dan Berfikir 

ADA lima jenis berpikir.  

Pertama, berpikir mengenai kembali kepada-Nya dan mengenai nikmat-Nya. Manusia harus memikirkan hal yang sangat krusial; adakah saat ini ia berada dalam ketaatan, lalu mengerjakannya, atau berkubang dalam kemaksiatan, untuk kemudian keluar darinya.

Kedua, berpikir mengenai keseimbangan antara berbagai amal perbuatan; menimbang segala sesuatu untuk mengerjakan yang lebih utama.  

Ketiga, berpikir mengenai egoisme. Egoisme hanya milik Allah dalam segala urusan.  

Keempat, berpikir mengenai keagungan-Nya.
Tidakkah mereka memperhatikan unta; bagaimanakah ia diciptakan.” (Al-Ghasyiah: 17)
Mengapa manusia tidak memperhatikan Allah Yang Mahaagung dengan memperhatikan ciptaan-Nya yang sempurna? Dia menciptakan segala sesuatu dengan elegan dan tepat guna ditinjau dari segala segi.

Dia adalah Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia telah menentukan kadar yang tepat untuk semua makhluk-Nya. Jadi, adalah hal yang lumrah jika Dia mengharuskan makhluk memuji-Nya atas nikmat yang telah Dia anugerahkan.


Kelima, berpikir mengenai kematian, kebangkitan, pertanyaan-pertanyaan yang nanti akan diajukan Allah, guncangan dan berbagai kesibukan di akhirat, serta mengenai surga dan neraka.

Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR Al-Qurthubi)
Berpikir dalam hadist di atas ialah berpikir mengenai perpindahan dari maksiat menuju taat, berpikir yang dapat menumbuhkan pengetahuan tentang yang wajib dan yang sunah, atau berpikir mengenai sesuatu yang dapat menghasilkan sikap mengagungkan dan mencintai Allah.

Semua jenis berpikir tersebut akan menggiring seseorang pada instrumen yang positif. Itulah yang dimaksud dengan ibadah yang lebih utama. Sebuah pemikiran yang akan membuat seseorang mendapatkan anugerah dari Allah; baik dalam bentuk mengetahui hikmah yang tersembunyi, atau mendapat nikmat yang membuatnya tenteram.


PALING tidak, ada enam manfaat yang dihasilkan sikap diam sedikit bicara:

  1. Merasakan indahnya diam sedikit bicara.
  2. Meningkatkan wibawa.
  3. Menghilangkan kata-kata jelek.
  4. Merasakan nikmatnya membicarakan nikmat-nikmat Allah.
  5. Meniatkan yang baik-baik.
  6. Meminimalisir kesalahan dan ketergesa-gesaan. Orang yang diam sedikit bicara cenderung mampu mengendalikan pembicaraan. Ia hanya akan membicarakan hal-hal yang benar, dan tidak membicarakan hal-hal yang salah.
Berbagai noda di hati orang yang diam sedikit bicara akan sirna, sehingga ia akan merasa tenteram. Tidak hanya pembicaraannya yang akan didengar, atau perintahnya akan diikuti, lebih dari itu ia akan dihormati orang yang cerdas, dan disegani orang yang bodoh. Orang cerdas akan menerima pembicaraannya, dan orang bodoh akan menghormatinya saat bicara.

Apa aktivitas hati saat diam?


Dalam masalah ini, manusia tergantung pada kedudukan mereka masing-masing; orang alim, pelajar, dan pemikir. Orang alim, hatinya harus selalu mengagungkan Allah, cinta dan takut kepada-Nya. Pelajar, hatinya harus berserah diri, konsisten meraih faedah, serta berusaha untuk selalu menambah ilmu. Sedangkan pemikir harus menyuburkan rasa takut, membangkitkan semangat untuk melakukan amal saleh, dan bangkit dari kelalaian lalu bertafakur dalam mengerjakan amal saleh tersebut. Ia juga harus merasa takut terjerembab ke dalam lembah kelalaian serta selalu mengingat tempat kembali.


Pintu awal ibadah adalah tafakur serta meninggalkan perbuatan maksiat. Selain dapat menyingkap rahasia akhirat, tafakur juga bisa mendatangkan pertolongan Tuhan. Sebab, tafakur merupakan aktivitas kalbu yang paling dahsyat dan paling mampu menjauhkan seseorang dari murka-Nya.


Selain menunjang kesempurnaan ibadah batin, tafakur juga bisa membuat seseorang mampu menguasai anggota lahiriah badan, menjinakkan nafsu, serta membantu dalam usaha menggapai kesempurnaan.


Tafakur merupakan kunci kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang pada predikat baik, derajat tinggi, serta membuat orang lain merasa tenteram dengan berbagai rahasia yang ia ungkap.


Jika tafakur telah sempurna, seseorang akan mampu mereguk kebijaksanaan yang halus, jauh dari berbagai tuduhan, tidak lalai, dan hatinya selalu beribadah. Tafakur akan mengubah ibadah menjadi pertolongan. Orang bijak berkata:

Dekatilah orang yang diam sedikit bicara, karena ia hanya mengucapkan kata-kata bijak.”
Allah akan membuka pintu-pintu kebaikan dan kebajikan –baik yang terbuka ataupun yang tersembunyi– bagi orang bijak yang suka bertafakur, diam sedikit bicara, dan wara. Seluruh rongga dadanya akan dipenuhi dengan ruh ibadah. Tipu daya nafsu, beban kehidupan, serta kekhawatiran terhadap musuh akan sirna. Hidup akan terasa ringan dan mudah baginya. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution