Selasa, 16 Oktober 2012

Kepunyaan Allah-lah Tentara Langit dan Bumi

Persaksian Allah Atas Para Sahabat Dalam Surat Al-Fath

Adalah sahabat adalah suatu keniscayaan, dimana yang menjadi saksi akan kebenaran iman mereka yang mendasari sifat ‘adalah mereka adalah Allah sendiri Sang Maha Mengetahui isi hati manusia, tiada saksi yang lebih tsiqah daripada Dzat Yang Menciptakan alam semesta beserta isinya. Persaksian-Nya telah terukir abadi dalam lembaran – lembaran mushaf Al-Qur’an.


Diantara begitu banyak persaksian Allah di dalam Al-Quran terhadap keimanan para sahabat yang mendampingi rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam adalah terdapat dalam surat Al-Fath. Surat yang terdiri dari 29 ayat tersebut mengisahkan kemenangan kaum Muslimin ( perjanjian Hudaibiyah), dimana perjanjian Hudaibiyah ini adalah pintu bagi kemenangan-kemenangan kaum muslimin berikutnya.
Kita mulai dari ayat 4, Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Al-Fath : 4)

Orang-orang mukmin yang dimaksud dalam ayat di atas adalah jelas para sahabat yang mendampingi Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam saat itu, yang berjuang bersama beliau menegakkan agama Islam.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (Al-Fath : 18)

Di dalam shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah diketengahkan tentang jumlah mereka. Jabir berkata,”Pada hari Hudaibiyah, kami berjumlah seribu empat ratus orang, lalu kami membai’at beliau shalallahu ‘alaihi wasalam”.

Ibnu Katsir berkata, “Allah memberitakan keridhaan-Nya terhadap orang-orang Mukmin yang membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam di bawah pohon”.(Tafsir Ibnu Katir, 7/342)

Ini adalah berita dari Allah Azza wa Jalla bahwa Dia ridha terhadap orang-orang mukmin itu. Hal itu menuntut penetapan keimanan mereka dan keridhaan-Nya terhadap mereka. Dan bila Allah ridha terhadap seseorang atau suatu kaum, maka Dia tidak akan murka terhadap mereka, karena ridha-Nya merupakan bukti terus-menerusnya mereka di atas keimanan.

Dan Allah mengetahui isi hati mereka dan memberi mereka ketenangan dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya, siapa lagi selain Allah yang lebih baik persaksiannya?
Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Fath:19)

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. (QS Al-Fath : 20)

Yang dimaksud harta rampasan yang disegerakan tersebut adalah penaklukan khaibar dimana kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan tentunya harta rampasan yang banyak lainnya dari penaklukkan negeri-negeri yang lain yang sebelumnya belum pernah dikuasai, sebagaimana diberitakan dalam ayat selanjutnya berikut ini.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيراً

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya . Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Fath : 21)

Ini adalah berita dan janji Allah bahwa kaum mukminin akan menaklukkan dan menguasai negeri-negeri yang lain, dimana janji Allah ini terpenuhi dimulai pada masa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dimana dua Negara adi daya pada masa itu yaitu Rumawi dan Persia ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masa Umar, kaum muslimin mendapatkan ghanimah (harta rampasan) yang amat banyak sekali dari penaklukkan Romawi dan Persia, dan semuanya dipergunakan di jalan Allah. kemudian perluasan wilayah yang dikuasai kaum muslimin terus bertambah pada masa khalifah selanjutnya. Hal ini adalah sebaik-baik bukti keabsahan kekhalifahan mereka.
Allah Azza wa Jalla :

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Fath : 26)

Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang Mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (Tauhid).
Sebagai penutup dari surat ini Allah berfirman :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath : 29)

Adakah persaksian yang melebihi kesaksian Allah mengenai keimanan dan kelurusan aqidah para sahabat? Apakah kemudian jika kita mengakui keadilan para sahabat dalam menyampaikan agama ke generasi berikutnya berdasarkan persaksian Allah atas kebenaran iman mereka adalah sesuatu yang tidak masuk akal atau sesuatu yang dipaksakan? Padahal ayat-ayat di atas adalah baru sebagian persaksian dari Allah mengenai mereka. Gunakanlah akal sehatmu wahai orang-orang yang mengaku mempunyai akal.
Apakah hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh segelintir dari mereka (jika itu memang benar suatu kesalahan) kemudian kita batalkan dan hapuskan begitu saja sifat ‘udul mereka dalam menyampaikan agama? padahal Allah berfirman :

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (Ali Imran : 152)

Perhatikan, walaupun sebagian sahabat pada waktu itu (perang Uhud) telah melakukan kesalahan, tetapi Allah tidak membatalkan keimanan mereka dan tetap menyebut mereka sebagai kaum mukminin dan Allah mema’afkan mereka. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan para sahabat tidaklah membatalkan atau menafikkan keimanan mereka yang mendasari ‘adalah mereka. Maka sungguh suatu kesalahan pemahaman yang fatal jika ada orang yang membenturkan sifat ‘adalah dengan kema’shuman dan mencoba menolak ‘adalah sahabat hanya karena kekeliruan yang dilakukan oleh sahabat yang sememangnya mereka tidaklah ma’shum.

Wassalam.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution