Senin, 15 Oktober 2012

Jaga Lisan Kita, Jika Ingin Selamat

Ketergelinciran itu Seringkali Berawal Dari Lisan Kita

Saudaraku…
Siang itu, suasana sangat panas seperti suasana Riyadh saat ini, di mana suhu panasnya telah mencapai 56°C. Seorang lelaki datang menemui Salman Al farisi ra untuk meminta nasihat. Karena ia menyadari kekurangan dirinya, bahwa ia sulit mengendalikan lisannya saat marah dan kerap terjatuh pada pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan perkataan dusta.


Syekh Shalih Ahmad Al Sami merangkum dialog keduanya dalam buku “mawa’id as shahabah”, berikut petikannya.
Lelaki itu berkata kepada Salman, “Berilah aku nasihat!.”
“Jangan engkau berbicara sepatah katapun!.” Kata Salman.
Lelaki itu berkata, “Tiada seorangpun yang hidup di tengah-tengah manusia, mampu untuk tak berbicara dengan mereka.”
Salman berkata, “Jika terpaksa engkau harus berbicara dengan mereka, maka ucapkanlah perkataan yang baik. Atau jika tidak, lebih baik engkau diam.”
Lelaki itu berkata, “Tambahkan untukku nasihatmu!.”
Salman berkata, “Jangan engkau marah!.”
Lelaki itu berkata, “Menahan marah terkadang membuatku pingsan tak sadarkan diri.”
Salman berkata, “Jika terpaksa engkau harus marah, maka tahanlah lisan dan tanganmu!.”
Lelaki itu berkata, “Tambahkanlah nasihatmu!.”
Salman berkata, “Jangan engkau bergaul dengan manusia!.”
Lelaki itu berkata, “Apakah ada orang yang hidup (di dunia) dan ia tidak bergaul dengan orang lain?.”
Salman berkata, “Jika terpaksa engkau bergaul dengan mereka, maka jujurlah dalam pembicaraanmu dan tunaikanlah amanah!.”

Saudaraku…
Salah satu kunci kesuksesan sahabat dalam meretasi hidup di dunia ini adalah sadar dengan kekurangan diri dan membuka diri kepada orang lain yang dianggap mampu untuk memberikan solusi bagi perbaikan dirinya.
Berbeda dengan kita. Yang terkadang tak sadar dengan kekurangan diri kita. Ironinya, saat orang lain memberikan informasi perihal kekurangan kita, justru kita marah dan emosi serta menuduhnya telah mencemarkan nama baik kita.

Pepatah mengatakan, “lisanmu adalah harimaumu.” Sangat tepat untuk menggambarkan bahwa banyak bencana dan malapetaka, baik di dunia maupun di akherat, dipicu oleh ketergelinciran lisan.

Salman Al Farisi ra menyebutkan dalam nasihatnya di atas, bahwa di antara bentuk ketergelinciran lisan adalah berbicara yang sia-sia, meluapkan amarah dan dusta dalam pembicaraan.
Saudaraku..

Berbicara yang benar, lurus, berfaedah, bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain dan yang seirama dengan itu, merupakan parameter keimanan kita. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berbicara yang baik atau lebih baik diam.” Muttafaq alaih.

Berkata yang baik mengandung tiga muatan seperti dalam surat An Nisa; 114 yaitu; perkataan yang memerintahkan sedekah, berbuat ma’ruf (melakukan kewajiban dan yang disunnahkan serta meninggalkan yang diharamkan, syubhat dan yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya) dan mengadakan perdamaian di antara manusia.
Diam tidak berkata-kata, merupakan pilihan terakhir jika kita tak mampu melakukan ketiga hal tersebut.
Abu Darda’ ra menyebutkan bahwa salah satu sifat dasar yang melekat pada diri orang yang jahil adalah; banyak berbicara yang tidak berfaedah.

Saudaraku..
Banyak bencana dan tsunami sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, dipicu oleh kelemahan dan ketidak mampuan diri dalam meredam amarah yang berkecamuk di dalam jiwa.

Pertikaian, perkelahian, perceraian, pembunuhan, amukan massa, pembakaran dan yang senada dengan itu, sering berawal dari luapan kemarahan yang berlebihan.

Orang mukmin yang mampu menguasai dirinya saat marah padahal ia sanggup untuk meluapkannya, maka ia akan mengalirkan kesejukan dan keteduhan serta kenyamanan bagi dirinya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Untuk itu wajar, jika Nabi saw menjanjikan bidadari surga yang ia sukai. “Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk-Nya pada hari kiamat untuk memberinya pilihan bidadari mana yang ia inginkan.” H.R; Tirmidzi.
Saudaraku..

Dusta, merupakan sifat kaum munafiq dan zindiq yang diwariskan kepada kita. Namun, kita saksikan pakaian dusta ini sering dikenakan oleh politisi, pengacara, pejabat, pengusaha, pedagang, petani, pendidik, peserta didik, pengelola travel haji dan umrah, petugas Bea Cukai, dan mungkin oleh kita sendiri. Seolah-olah suatu tujuan, tidak mungkin tercapai melainkan dengan dusta, Wal ‘iyadzu billah.

Nabi saw pernah mengingatkan kita, “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat.” H.R; Bukhari.

Dusta, berada di urutan pertama dari sifat munafiq sebelum ingkar janji dan mengkhianati amanah. Sebab wallahu a’lam, sifat yang kedua dan ketiga biasanya dipicu oleh sifat yang pertama, yakni; dusta.
Al Auza’i pernah berkata, “(Karakter) orang mu’min itu sedikit bicara dan banyak beramal, sedangkan (karakter) orang munafik itu banyak bicara dan sedikit amal.”

Saudaraku..
Jaga lisan kita, jika kita ingin selamat di dunia dan sukses di akherat sana. Nabi saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” H.R; Bukhari dan Tirmidzi. Ya Rabbana, bantulah kami untuk selalu berkata-kata yang baik, meninggalkan perkataan yang sia-sia, mampu bersikap bijak di kala marah dan jujur dalam pembicaraan. Amien.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution