Kamis, 25 April 2013

Hidup Kita Pasrahkan Pada Allah

Pasrahkan Hidup Kita Pada Allah

Pasrah adalah kekuatan, orang pasrah berarti menyerahkan dirinya kepada Allah. Itu artinya ada kekuatan yang diarahkan, yaitu kekuatan kembali kepada Allah. Kekuatan pasrah ini dapat digunakan untuk menyerahkan sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi kita. Misalnya, kita mengalami sakit, maka sakit tersebut dapat kita pasrahkan kepada Allah. Misalnya lagi, kita dililit hutang dan kita tidak mungkin bisa membayarnya maka gunakan kekuatan pasrah kepada Allah, termasuk menyerahkan segala hutang kita kepada Allah. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar yang tidak disangka sangka sehingga kunci dari segala masalah adalah dengan kekuatan pasrah kita. Kekuatan penyerahan total inilah yang akan menggerakkan kehendak Allah. Bukan kekuatan diri yang lemah. Akan tetapi, kekuatan Allah yang maha kuat. Di dalam kepasrahan total ada kekuatan, di dalam kesombongan ada kelemahan. Semoga kita digolongkan menjadi orang yang selalu berserah diri. Amiin.


Pasrah seperti air mengalir yang selalu bergerak dengan fleksibel mengikuti tempat yang lebih rendah. Pasrah dan ikhtiyar sesuatu yang bertolak belakang. Pasrah itu mengarah pada Allah. Sedangkan usaha atau ikhtiyar itu ke diri, aku bisa, aku berusaha. Jadi usaha dan pasrah sesuatu hal yang tidak bisa disatukan. Tidak mungkin kita menyelesaikan dengan ikhtiyar dan pasrah. Kalau mau menyelesaikan masalah dengan pasrah, ya pasrah saja total kepada Allah. Sedangkan kalau mau ikhtiyar, ya ihtiyar saja pakai kemampuan diri semaksimal mungkin. Kalau pasrah, bukan aku yang berusaha atau ikhtiyar, tapi aku sudah tidak berusaha lagi, hanya mengikuti apa yang menjadi kehendak Allah. Aku berserah mengikuti kehendak Allah, dan ini bukan ihtiyar. Seperti sa’i dalam ibadah haji. Seperti pelajaran dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s, yang mencari air. Siti Hajar tidak ikhtiyar karena kalau ikhtiyar pasti menggunakan logika akal. Siti Hajar tidak menggunakan logika dia hanya percaya dan berpositif thinking kepada Allah bahwa pasti ada jalan, atau dalam hal ini pasti ada air. Saudaraku, Dalam menyelesaikan suatu masalah, kita tetap diwajibkan berikhtiyar semampu kita. Namun, setelah kita berikhtiyar sesuai kemampuan kita maka yang seharusnya dilakukan adalah hanya pasrah pada Allah. Hidup kita ini sudah digariskan atau dituliskan dalam Lauhul Mahfuz.

Oleh karena itu, benar seperti yang difirmankan Allah dalam Qur’an Surat Ar Ra’d ayat 11 : 

“ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ 


Saudaraku,
Yang paling penting, sebelum memulai suatu pekerjaan atau menghadapi suatu masalah, kita mohon pada Allah bahwa kita pasrah dan menyerahkan semua urusan pada Allah kemudian berikhtiyar semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita. Ketika kita meraih keberhasilan, kita tidak akan sombong atau takabur. Sedangkan jika gagal, kita tidak akan putus asa.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution