Senin, 15 April 2013

Perilaku Kita Dalam Kehidupan Sehari-hari

SIKAP DAN PERILAKU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 
1. MENYAYANGI KEDUA ORANG TUA
Manusia yang memiliki kecerdasan transendental yang tinggi menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya se­cara tulus. Sikap ini akan memberikan kemuliaan dan kesuk­sesan kepada manusia. Sebab, doa tulus dari orang tua terha­dap anaknya akan dikabulkan oleh Allah. Apapun kondisi hi­dup yang harus dijalani, wajib hukumnya untuk menghormati kedua orang tua karena besarnya pengorbanan orang tua terha­dap dirinya, seperti Surat (46) Al Ahqaat ayat 15:


Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tujukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungnguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat ini menjelaskan betapa besarnya pengorbanan ibu bapa, khususnya ibu, terhadap anak-anaknya. Itu sebabnya, dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad SAW mengatakan, sur­ga berada di bawah telapak kaki ibu.

Kasih sayang anak kepada ibu bapak harus diwujudkan baik semasa beliau masih hidup hingga beliau sudah meninggal sekalipun (misalnya dengan rutin mengirim doa). Jangan se­kali-kali meninggikan suara, berbuat tidak hormat, dan berbi­cara yang tidak baik kepada ibu bapak, kendatipun Anda capai merawatnya hingga usia lanjut. Al Quran secara rinci mengatur adab anak terhadap kedua orang tua dalam Surat (17) Al Israa' ayat 23:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Hal ini diperkuat lagi oleh Hadis Nabi Muhammad SAW di­riwayatkan oleh Muslim: Amal yang paling utama (afdhal) adalah mengerjakan shalat pada (awal) waktunya, dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

2. MEMILIKI INTEGRITAS TINGGI
Orang yang memiliki kecerdasan transendental tinggi selalu berusaha untuk bertindak dan berkata secara jujur, kendati hal itu kadangkala menyakitkan dan menimbulkan kesulitan bagi dirinya. Allah sangat membenci orang-orang yang munafik, orang-orang yang tidak satu kata dengan perbuatan, dan o­rang-orang yang suka berbohong. Perhatikan Surat (33) Al Ahzab ayat 70:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.

Secara filosofis, sikap jujur ditanamkan Allah kepada setiap umat-Nya melalui pemahaman bahwa Allah menyediakan ma­laikat-malaikat yang mengikuti manusia untuk mencatat segala amal perbuatannya, seperti Surat (82) Al Infithaar ayat 10-12: Padahal sesunguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan akan menca­tat pekerjaan-pekerjaanmu itu. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 
Hal ini memberikan pemahaman kepada umat Muslim un­tuk selalu bertindak jujur karena selalu diawasi oleh Allah. Apa yang kita perbuat, sekecil apapun, akan dicatat oleh Allah apa adanya dan ditimbang pada saat hari Kiamat kelak. Surat (21) Al Anbiyaa' ayat 47:

Dan kami pada hari Kiamat akan mengadakan timbangan yang adil, sehingga seseorang tidak akan dirugikan barang sedikitpun, dan kalau ada (perbuatan) sebesar biji sawipun, niscaya akan Kami kemukakan kepadanya dan cukuplah Kami sebagai penimbang.
 
Pada hari Kiamat, tidak satupun hal yang bisa kita tutup­tutupi. Allah bersama malaikat-malaikat-Nya akan jujur apa adanya saat membuat timbangan amal perbuatan setiap ma­nusia. Tidak dikurang-kurangkan, dan tidak pula dilebih-le­bihkan. Oleh karena itu, makna filosofis ini harus tercermin pula pada kehidupan sehari-hari. Surat (2) Al Baqarah ayat 42: Dan janganlah kami campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.
 
Menjadi orang yang memiliki integritas, selain mulia di sisi Allah juga dihormati oleh orang lain (kawan maupun lawan). Memiliki integritas tinggi sama maknanya dengan memelihara kehormatan diri. Janganlah kita menjadi manusia murahan yang bisa dibeli oleh siapapun dan dalam bentuk apapun. Oleh karenanya, jika menjadi penguasa, jadilah penguasa yang jujur (tidak selalu melakukan korupsi, manipulasi, menyalahguna­kan jabatan, dan berbohong menutupi fakta yang sebenarnya); menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur (jangan terus membohongi atau menipu konsumen, kreditur, maupun rekan bisnis untuk keuntungan diri sendiri); menjadi ilmuwan, ja­dilah ilmuwan yang jujur (jangan melihat kebenaran atas dasar kepentingan pribadi atau golongan tertentu); menjadi pegawai, jadilah pegawai yang jujur (jangan selalu berbohong asal bos senang); menjadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Surat (17) Al Israa' ayat 35: Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah
yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

3. SELALU BERBUAT KEBAJIKAN DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN
Umat Muslim diciptakan oleh Allah menjadi umat terbaik yang selalu berbuat kebajikan sekaligus mencegah kemung­karan seperti dijelaskan Al Quran dalam Surat (3) Ali Imran ayat 110: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
 
Ayat ini menegaskan bahwa mereka yang memiliki kecer­dasan transendental tinggi akan selalu berusaha mengerjakan perbuatan baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk di sisi Allah (Oleh karena buruk di sisi Allah, maka otomatis hal itu buruk di sisi manusia). Surat (16) An Nahl ayat 90:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran agar kamu dapat mengambil pelalajaran.
 
Tak hanya mengerjakan kebajikan, mereka juga harus men­cegah terjadinya kemungkaran. Bila mereka diajak untuk me­lakukan pekerjaan yang tidak baik misalnya mencuri, meram­pok, melakukan korupsi, menipu orang lain, berbuat zina, ma­buk-mabukan, bersikap iri dengki, melakukan fitnah, melupa­kan kewajiban agama atau mempersekutukan Allah - dan ber­bagai bentuk kemungkaran lainnya - maka mereka harus me­nolak dan mencegahnya semaksimal mungkin. Mereka tidak hanya bisa menolaknya (untuk diri sendiri), tetapi mencegah­nya (agar hal itu tidak dilakukan oleh orang lain) padahal dia mengetahui kemudharatan hal tersebut. Adalah dosa jika membiarkan kemungkaran terjadi tanpa berusaha sedikitpun untuk mencegahnya, Surat (103) Al `Ashr ayat 3:

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati seupaya menetapi kesabaran.

Bilamana semua umat Muslim menjalankan perintah Allah ini, niscaya perbuatan kebajikan akan menguasai kehidupan manusia dan kemungkaran akan tersingkir. Kehidupan dunia akan benar-benar damai, berkah dlan penuh kasih sayang di jalan Allah.

Selain itu, Allah membenci orang-orang yang zalim, sebagai salah satu bentuk perbuatan yang tidak baik karena mereka ada­lah orang-orang yang berhati jahat dan selalu bertindak di luar batas. Tidak hanya zalim kepada manusia, tetapi juga zalim ter­hadap berbagai ciptaan Allah lainnya (binatang, lingkungan alam, dan lain-lain). Atas dasar itu, Islam tidak mentolerir or­ang-orang yang zalim seperti Surat (42) Asy Syuura ayat 40:

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim

4. BERTANGGUNG JAWAB
Dalam Islam, pertanggung-jawaban merupakan salah satu dasar dari keyakinan agama, Surat (75) Al Qiyaamah ayat 36: Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertannggungjawaban)?
 
Hal ini persis seperti hukum aksi-reaksi atau hukum sebab­ akibat yang bersifat universal. Setiap pribadi manusia harus bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya (organ tu­buh, kecerdasan, harta, anak-anak, dan sebagainya) maupun dari setiap amal perbuatannya sendiri. Perhatikan pula Surat (17) Al Israa' ayat 36:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.

Perbuatan amal dibalas Allah dengan pahala, dan perbuatan melanggar larangan Allah diganjar dengan dosa. Islam tidak mengenal penebusan dosa oleh seseorang terhadap orang lainnya. Konsekuensi amal perbuatannya itu akan bisa terlihat di dunia maupun di akhirat kelak, Surat (4) An Nisaa' ayat 79: Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.
 
Atau Surat (4) An Nisaa' ayat 11: Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
 
Makna dari berbagai firman Allah ini adalah, manusia harus selalu bertindak penuh tanggung jawab dalam setiap tindakan maupun dalam menjalankan seluruh perannya: sebagai pe­mimpin, bawahan, kepala rumah tangga, anak, warga negara, politisi, penegak hukum, pendidik, ulama, dan sebagainya. 

Setiap tindakan harus dipikirkan matang-matang untung­ ruginya dan baik-buruknya karena harus bertanggung jawab terhadap akibatnya. Prinsip ini akan menggiring manusia un­tuk berusaha terus meningkatkan amal-kebajikan, termasuk tidak melakukan fitnah. Umat Muslim diharamkan untuk ber­buat fitnah sebagai salah satu bentuk tindakan orang yang tidak bertanggung jawab.

Namun di sisi lain, secara pribadi sikap bertanggung jawab ini juga harus dimanfaatkan di dalam meraih keberhasilan hi­dup di dunia. Setiap manusia harus menyadari bahwa dia ber­tanggung jawab penuh (100%) kepada dirinya untuk meraih keberhasilan dan kebahagiaan. Ia tidak bisa menggantungkan­nya kepada orang lain, dan juga tidak bisa menyalahkan hal di luar dirinya (orang lain, cuaca, jalanan yang macet, dominasi kapitalisme, iklim berusaha, kondisi politik, dan lain-lain) atas kegagalannya meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Terlalu ba­nyak umat Muslim yang menyalahkan orang atau hal lain di luar dirinya atas kegagalan meraih kesuksesan dan kebaha­giaan hidup. Hal ini menyebabkan upaya meraih kesuksesan dan kebahagiaan tidak pernah dilakukan
secara maksimal dan terencana secara baik

5. DISIPLIN DAN SUNGGUH-SUNGGUH
Menghargai waktu dan bersikap sungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan merupakan ciri-ciri umat Muslim yang bertakwa atau memiliki kecerdasan transendental yang tinggi. Banyak sekali kewajiban agama yang harus dijalankan dengan ketentuan waktu yang ketat dan sangat jelas. Shalat, misalnya, harus dilakukan tepat waktu. Waktu untuk mengerjakan shalat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya dan shalat-shalat sunat sudah ditetapkan secara jelas. Tidak boleh mengerjakan shalat Subuh setelah terbit fajar atau saat shalat Zuhur, Ashar dan seterusnya. Saat waktu shalat masuk, Allah mewajibkan umat­Nya untuk menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menu­naikan panggilan-Nya.

Bagi yang ingin mengerjakan shalat berjamaah di Mesjid atau Mushalla, kedisiplinan terhadap waktu shalat ini lebih terasa lagi karena, kalau tidak, mereka bisa ketinggalan shalat berja­maah yang biasanya diselenggarakan segera setelah waktu shalat masuk. Kedisiplinan tampak pula pada barisan jamaah yang harus lurus dan kepatuhan mengikuti perintah Imam.

Begitu pula bagi umat yang ingin mengerjakan shalat sunat tahajud, seseorang harus tidur terlebih dahulu dan bangun di malam hari untuk menunaikan shalat sunat tahajud. Tanpa ke­displinan terhadap waktu dan sikap bersungguh-sungguh (ter­masuk dalam hal niat), sulit bagi seorang umat Muslim untuk bisa menunaikan shalat sunat ini pada waktu yang telah diten­tukan. Begitulah, shalat mengajarkan umat Muslim untuk se­lalu disiplin dan bersungguh-sungguh.

Amal ibadah lain juga mengajarkan hal yang sama. Puasa, zakat fitrah, berkurban dan menunaikan ibadah haji telah di­tentukan waktu dan ketentuannya. Oleh karenanya, umat Mu­slim harus terbiasa menyusun rencana kegiatan secara komprehensif, karena persiapan menunaikan amal ibadah itu menim­bulkan konsekuensi terhadap individu, keluarga, dan juga ma­syarakat.

Makna dari sikap disiplin dan sungguh-sungguh dalam ber­ibadah itu seyogyanya juga tercermin di dalam perilaku umat Muslim sehari-hari. Bekerjalah dengan keras, rajin, tekun, dan cerdas. Kita harus selalu berdisplin dan sungguh-sungguh menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari. Har­gailah waktu dengan memanfaatkan waktu yang ada sebaik­-baiknya dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Tepatilah jam kerja atau janji bertemu dengan orang lain, karena waktu begitu berharga. Kecuali itu, lakukan segala sesuatu yang baik dengan sungguh-sungguh, jangan setengah hati. 

6. MENJAGA KEBERSIHAN DIRI
Umat Muslim diwajibkan oleh Allah untuk selalu menjaga kebersihan, baik diri maupun lingkungannya. Sebelum mela­kukan shalat, umat Muslim harus mensucikan diri terlebih da­hulu dari segala kotoran dengan berwudhu. Allah pun memin­ta umat-Nya untuk berpakaian yang bersih dan memakai ha­rum-haruman bila melaksanakan shalat. Pakaian yang bersih berbeda dengan pakaian mewah. Kendatipun hanya punya ba­ju usang, tidak masalah selama ia tetap bersih. Sedikitnya 5 kali sehari-semalam umat Muslim harus melaksanakan shalat, maka hal itu akan mewujud kepada penampilan diri yang ber­sih dari orang yang melaksanakannya.

Kebersihan lingkungan harus pula dijaga. Din saja yang ber­sih tanpa lingkungan yang bersih dan rapih (penuh sampah, bau, berantakan, air tergenang, ruang/ meja kerja berantakan) akan mengganggu kekhusyukan dalam beribadah di samping tidak sehat. Bahkan, tindakan untuk membersihkan jalanan dari duri, paku atau apa saja yang membahayakan manusia merupakan perbuatan yang berpahala.

Hal lain adalah kebersihan diri terkait dengan harta yang dimiliki, rejeki yang didapat, makanan yang dimakan, dan tin­dakan-tindakan yang melanggar aturan. Penyucian harta yang dimiliki dan rejeki yang didapat dilakukan dengan menunai­kan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Di samping itu, Allah hanya mengijinkan manu­sia untuk memakan makanan yang halal, seperti ditegaskan dalam Surat (2) Al Baqarah ayat 168: Hai sekalian manusia, ma­kahlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan ja­nganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena se­sungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

7. PERCAYA DIRI DAN KONSISTEN
Untuk meraih sukses diperlukan kepercayaan diri. Keper­cayaan diri akan memperkuat kemampuan akal-budi di dalam mewujudkan keinginan atau sasaran yang hendak dicapai. Allah tidak menyukai manusia yang lemah dalam mewujud­kan keinginan. Surat (3) Ali Imran 139: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu adalah orang-orang yang beriman.
 
Percaya diri tidak boleh berlebihan. Perhatikan saat tentara kaum Muslimin yang merasa terlalu percaya diri karena jum­lahnya mencapai 12.000 orang kocar-kacir pada perang Hunain melawan orang Hawazin dan Tsaqib. Hal ini disampaikan Al­lah dalam Surat (9) At Taubah ayat 25:

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu'min) di medan peperangan yang banyak. Tetapi di peperangan Humain di waktu kamu menjadi congkak karena banyakbya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi  manfaat kepadamu sedikitpun. Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-cerai.
 
Sikap percaya diri harus dibarengi pula dengan konsisten atau teguh di dalam pendirian terhadap kebenaran. Kisah per­juangan Nabi Muhammad SAW yang penuh ujian berat dalam menegakkan kebenaran menjadi pelajaran yang amat berharga betapa konsistensi dalam bekerja dan berjuang sangat penting dalam hidup ini. Sekali Anda menetapkan sikap yang harus dijalankan (setelah memanfaatkan potensi akal-budi) dan me­yakini kebenarannya, maka Anda harus konsisten dengan si­kap tersebut. Janganlah Anda menjadi orang yang plin-plan dan
tidak teguh memegang prinsip.

8. BERLAKU ADIL
Bersikap adil terhadap siapa saja, diri sendiri, keluarga, ba­wahan, atasan, masyarakat, teman atau musuh sekalipun ada­lah salah satu nilai utama yang diajarkan Islam. Bersikap adil ini sungguh berat, tetapi manusia yang memiliki kecerdasan transendental tinggi berusaha untuk benar-benar bersikap adil. Banyak sekali ayat Allah yang memerintahkan untuk bersikap adil seperti Surat (16) An Nahl ayat 90.

Baca pula Surat (5) Al Maaidah ayat 8, yang mengharuskan manusia untuk berlaku adil, termasuk terhadap kaum yang dibenci: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, men­jadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terha­dap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 
Termasuk jika Anda menjadi saksi atau hakim dalam sebuah perkara, maka Anda harus bersikap adil, yang dijelaskan Al Quran Surat (4) An Nisaa' ayat 135: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak ke­adilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
 
Ayat di atas memiliki makna filosofis yang dalam. Seringkali manusia tidak bisa menegakkan keadilan karena menyangkut dirinya, ibu bapa, sahabat, dan keluarga. Karena ibu bapanya, saudaranya, dan kerabatnya, manusia cenderung mengalahkan kebenaran dalam setiap permasalahan yang melibatkan mere­ka dengan pihak lain. Sebagai akibatnya, mereka tidak bisa bersaksi secara adil.

Bahkan terhadap para musuh sekalipun, Allah tetap memerin­tahkan umat Muslim untuk bertindak secara adil, Surat (60) Al Mumtahanah ayat 8: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir karena dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

9. TERPERCAYA (AMANAH)
Manusia yang memiliki kecerdasan transendental tinggi ada­lah manusia yang terpercaya (amanah), karena mereka selalu memegang janji-janjinya. Ia <http://janji-janjinya.la/> memiliki kredibilitas yang tinggi. Sebagai pimpinan, ia akan menjadi pemimpin yang terpercaya di dalam menjalankan segala tugas dan kewajibannya, terma­suk terhadap anak buahnya. Menjadi Presiden, menteri, pejabat tinggi, anggota DPR, DPD atau Kepala Daerah, ia harus terper­caya menjalankan amanah yang diberikan rakyat kepadanya. Seluruh keputusan dan langkah yang ia lakukan adalah demi kemaslahatan pemberi amanah, yakni rakyat; bukan menguta­makan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bukan pula me­nyesatkan dan menyengsarakan umat.

Sebagai bawahan atau karyawan, umat Muslimpun harus terpercaya, figur yang handal dalam menjalankan kepercayaan perusahaan/pimpinan yang diembannya. Amanah untuk sa­ma-sama memajukan dan meningkatkan kinerja perusahaan harus benar-benar dijalankan secara sungguh-sungguh. Toh hasilnya juga akan bisa dirasakan oleh mereka secara langsung maupun tak langsung.

Perilaku amanah adalah salah satu hal yang kini nyaris sirna di republik ini. Selain pejabat, pimpinan, dan pegawai, sikap amanah kini juga sulit ditemukan di berbagai profesi/peker­jaan lainnya: pendidik, ulama, penegak hukum, dan sebagai­nya. Belum lagi kewajiban menjalankan amanah Allah kepa­da kita sebagai pribadi, ayah/ibu, anak, anggota keluarga, ma­syarakat, warga negara, dan warga dunia. Akibatnya, seperti yang kini terlihat, kemunduran bangsa terjadi di berbagai bi­dang. Kita harus menjadi pribadi-pribadi yang terpercaya, se­perti Surat (23) Al Mu'minuun ayat 8: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

10. TIDAK PEMARAH DAN SUKA MEMBERI MAAF
Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang pemarah. Kenapa? Pemarah adalah cermin dari manusia yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Setan menyukai sekali orang-orang yang memiliki sifat pemarah karena orang seperti ini mudah kehilangan kesadaran diri (self awareness) sehingga mudah di­tumpangi oleh setan. Ini sangat berbahaya. Orang yang pema­rah mengambil keputusan dan bertindak cenderung emosional sehingga kehilangan akal sehat dan hati nurani. Bukan berarti manusia tidak boleh marah, namun harus pada tempatnya.

Banyak sekali ayat Allah yang tidak menyukai orang-orang pemarah tetapi, sebaliknya, menyukai orang-orang yang pe­maaf, antara lain: Surat (3) Ali Imran ayat 134:

(orang-orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
 
Surat (4) An Nisaa' ayat 149: Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.
 
Tentunya menjadi pemaaf di sini tanpa melupakan kewas­padaan dan kesiapan menghadapi kemungkinan orang terse­but mengulangi lagi perbuatannya. Sifat pemaaf hendaknya diterapkan pada waktu-waktu yang tepat. Al Quran menghen­daki sifat pemaaf, tetapi sebaliknya menghendaki pula keja­hatan dengan hukuman yang setimpal. Sifat pemaaf jangan menggampangkan terjadinya kejahatan. Bila harapan perbaik­an di sisi orang itu tidak juga terjadi, maka jalan ke luarnya adalah menyerahkannya kepada sistem hukum.

Allah juga meminta umat-Nya untuk berjiwa besar, mau me­maafkan orang-orang yang telah menzalimi mereka, Surat (42) Asy Syuura ayat 43: Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan (setelah dizalimi) sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu ter­masuk hal-hal yang
diutamakan.

11. TIDAK BOROS MAUPUN KIKIR
Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang boros, apa­lagi ditambah dengan sifat kikir di jalan Allah. Hidup boros adalah perilaku setan, seperti Surat (17) Al Israa' ayat 27: Se­sungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhamnya.
 
Hidup boros berarti tidak pernah berpikir tentang masa de­pan yang belum pasti. Daripada boros lebih baik harta yang ada dipergunakan untuk menambah ilmu, modal menghadapi masa depan, dan membantu saudara-saudara kita yang tidak beruntung.

Orang yang beriman menurut Allah adalah mereka yang tidak boros dan tidak pula kikir, Surat (25) Al Furqan ayat 67: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
 
Allah melaknat mereka yang kikir, tidak mau mengeluarkan hartanya di jalan Allah, Surat (4) An Nisaa' ayat 37: (yaitu) or­ang-orang yang kikir; dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan unuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.
 
Dalam konteks organisasi, prinsip tidak boros ini harus di­tunjukkan dengan kemauan untuk melakukan efisiensi dalam menjalankan roda organisasi. Bagi organisasi bisnis, efisiensi adalah kata kunci untuk bertahan hidup dan memenangkan persaingan. Setiap orang, bagian, unit, dan divisi harus senan­tiasa mengupayakan efisiensi. 

Efisiensi di sini bukan berarti dengan menekan hak-hak kar­yawan, menekan para pemasok di luar batas, dan berbagai hal yang tidak baik lainnya. Efisiensi adalah menghentikan segala pemborosan. Bilamana efisiensi berhasil diperoleh dan perusa­haan meraih untung, maka seyogyanya perusahaan juga tidak kikir berbagi keuntungan dengan seluruh stakeholders, terma­suk membantu orang-orang yang tidak mampu.

12. CERDAS & BERILMU
Orang yang memiliki kecerdasan transendental tinggi ha­ruslah orang-orang yang berilmu dan beramal saleh. Memahami kebesaran Allah dengan segala kekuasaan-Nya - termasuk pen­ciptaan manusia dan alam semesta-hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang cerdas dan berilmu. Banyak sekali ayat Al Quran yang berisi perintah Allah untuk membaca, mema­hami, dan mengambil pelajaran dari keberaturan penciptaan alam semesta, manusia, dan berbagai sejarah umat manusia se­perti dijelaskan dalam Bab 5. Dengan kecerdasan yang dimiliki, manusia akan bisa membuktikan kebenaran firman Allah dan memahami berbagai fenomena kehidupan untuk meningkatkan ketakwaannya. Bertakwa harus dengan logika.

Ayat-ayat Allah tersebut memerintahkan manusia untuk me­nguasai ilmu pengetahuan melalui proses pembelajaran yang tiada henti. Proses pembelajaran itu berlangsung dalam ber­bagai ragam bentuknya, tidak hanya dengan menuntut ilmu secara formal tetapi juga dengan cara informal - termasuk de­ngan memperhatikan secara seksama segala ciptaan Allah, pe­rilaku manusia, membaca Al Quran dan Hadis, dan seterusnya. Proses pembelajaran berlangsung pula di berbagai tingkatan usia dan beragam tempat.

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ilmu pengetahuan hanya bisa diraih dengan belajar, dan sikap toleransi hanya bisa diraih dengan melakukan latihan.
 
Kebodohan adalah hal yang paling menyedihkan dalam ke­hidupan. Kebodohan adalah satu langkah menuju kekafiran. Ia <http://kekafiran.la/> pertanda kematian Akal-Budi, lenyapnya Kesadaran Diri, involusi kehidupan, dan kesia-siaan kehidupan. Bagi orang­-orang yang bodoh, tidak ada bedanya hari kemaren dengan hari ini; apalagi hari esok. 

Ketika seseorang senantiasa menuntut ilmu, maka berbagai pencerahan akan berhasil diraihnya. Kecemasan, depresi, dan kesedihan akan sirna dengan sendirinya. 

Oleh sebab itu, orang-orang yang memiliki kecerdasan tran­sendental yang tinggi akan selalu berupaya meningkatkan ke­cerdasan dan kompetensinya dengan terus belajar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memberi nilai tambah bagi lingkungan. Ikhtiar dan ijtihad untuk meluaskan penge­tahuan (knowledge) mewarnai kehidupannya sehari-hari demi kemaslahatan dirinya, keluarganya, perusahaannya, lingkung­annya maupun umat keseluruhan.

13. TAHAN TERHADAP COBAAN
Esensi keimanan dan ketakwaan adalah pengujian atau co­baan, seperti telah dibahas dalam Bab 6. Setiap manusia yang beriman akan selalu diuji oleh Allah dengan berbagai cobaan: dari yang ringan sampai yang paling berat. Semakin tinggi ke­takwaan seseorang, makin besar cobaan yang harus dia terima. Apapun bentuk cobaan atau musibah diyakini berasal dari Al­lah untuk menguji kesabaran dan ketakwaan manusia sehing­ga harus diambil hikmahnya, Surat (2) Al Baqarah ayat 177: Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
 
Bagi umat Islam, cobaan harus diterima dengan sabar, shalat, dan bertawakal. Bukankah Allah telah berjanji dalam Surat (94) Al Insyirah ayat 5: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"? Dengan dasar filosofis seperti itu, manusia dengan kecerdasan transendental tinggi akan menjadi figur-figur mulia: tahan terhadap cobaan maupun stres sekaligus berhasil mening­katkan kualitas ketakwaan dari setiap cobaan yang dilaluinya.

Tahan terhadap cobaan berarti tahan dalam menghadapi ke­pedihan hidup dan beradaptasi terhadap situasi apapun. Ke­pedihan hidup, cobaan, dan musibah tidak akan menengge­lamkan dirinya. Semua itu tidak akan membuatnya berputus asa. Ia menghadapi kesulitan dengan sabar, sikap optimistis, dan hati yang ikhlas. Hal ini membuat manusia semacam ini mampu menghadapi cobaan apapun dengan tetap berpegang teguh pada risalah-Nya.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguh­nya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk; yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan kem­bali kepada-Nya...Surat (2) Al Baqarah ayat 45-46.

Allah sangat menyayangi orang yang sabar di dalam menda­patkan keridhaan-Nya, Surat (13) Ar Ra'd ayat 22: Dan orang­orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak keja­hatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).
 
Di bagian lain, Allah berfirman dalam Surat (41) Fushshilat ayat 35: Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

14. SELALU MENSYUKURI NIKMAT
Allah telah mewajibkan umat-Nya untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya. Betapapun sulitnya kehidup­an, tetap banyak hal yang harus disyukuri. Bukan saja pada saat kita lapang, tetapi juga dalam keadaan sempit sekalipun. Ketika kita tidak punya uang, tetapi keluarga semuanya se­hat, itu pun harus disyukuri. Saat kemiskinan mendera, tetapi anak kita berhasil dalam sekolahnya, itu harus disyukuri. Saat tidak punya uang atau bahan makanan, tetapi Allah melim­pahkan kekuatan fisik yang luar biasa, itupun wajib disyukuri. 

Dengan terus bersyukur, manusia akan memperoleh kekuat­an besar untuk menjalani kehidupan - betapapun beratnya - dengan damai dan optimistis. Manusia dianjurkan untuk tidak selalu "melihat ke atas" yang menyebabkan kita merasa terus kekurangan dan ketinggalan serta tidak pernah bersyukur. Na­mun lebih banyaklah "melihat ke bawah", yakni memperhati­kan orang-orang yang lebih susah dari kita.

Bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan transendental yang tinggi, cobaan pun harus disyukuri karena itu berarti Al­lah masih sayang dengan kita. Bagaimana jadinya kalau semua­nya dimudahkan Allah sehingga kita lupa terhadap Yang Maha Pencipta karena keenakan?

Banyak sekali yang harus kita syukuri, karena nikmat Allah kepada kita tidak terhitung banyaknya, Surat (16) An Nahl ayat 18: Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

15. BERSATU DAN MENJAGA SILATURAHMI
Silaturahmi merupakan wujud nyata dari salah satu konsep mulia Islam, yaitu hablumminannas (hubungan antar manusia) yang wajib dilakukan oleh setiap manusia. Umat Muslim di­wajibkan untuk menjaga dan mengembangkan silaturahmi ka­rena hal itu akan memperkuat persatuan umat. Allah meminta umat Muslim untuk bersatu karena sesama umat Muslim itu bersaudara, dan melaknat orang-orang yang suka membuat permusuhan, sebagaimana Surat (16) ayat 90: ....dan Allah me­larang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan....
 
Toh tidak hanya dengan sesama Muslim silaturahmi itu ha­rus dipelihara, tetapi juga dengan umat-umat non-Muslim, se­perti dijelaskan Surat (49) Al Hujuraat ayat 13:

Hai manusia, sesungguhnya Kami mencipatakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Anjuran bersilaturahmi juga tertera dalam Surat (4) An Ni­saa' ayat 36: Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib ­kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba saha­yamu.

Tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh di sini bisa ber­arti seluruh umat manusia, baik yang dekat maupun yang jauh. Sebab, mereka juga ciptaan Allah. Selanjutnya, kita bisa mem­baca sejumlah Hadis Nabi Muhammad SAW tentang silaturahmi, di antaranya, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tur­midzi, A1 Baihaqi dan Abu Naim:

Takutlah kamu kepada yang diharamkan Allah supaya kamu menjadi orang yang paling berbakti kepada Allah. Relalah kamu terhadap apa yang diberikan Allah kepadamu supaya kamu menjadi orang yang paling kaya (jiwa). Berbuat baiklah kamu kepada tetangga supaya kamu menjadi orang beriman. Cintailah manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri supaya kamu menjadi orang muslim. Dan janganlah kamu terlalu banyak tertawa sebab banyak tertawa itu mematikan hati.
 
Ada dua kalimat dalam Hadis Nabi di atas yang terkait de­ngan silaturahmi, yaitu Berbuat baiklah kamu kepada tetangga supaya kamu menjadi orang beriman dan Cintailah manusia seperti engkau mencintai dirimu supaya kamu menjadi seorang Muslim. Menjadi orang beriman dan seorang Muslim erat kaitannya dengan kemampuan untuk menjaga silaturahmi. Bahkan Nabi bersabda dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad untuk mempergauli manusia dengan akhlak yang baik:

Taqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus keburukan dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.
 
Sebaliknya, memutus silaturahmi, khususnya di antara umat Muslim, akan sangat besar konsekuensinya, seperti Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir:

Sesungguhna rahmat itu tidak akan turun kepada kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturrahmi.

16. PEDULI DAN MENGHARGAI ORANG LAIN
Kepedulian terhadap orang lain adalah salah satu ajaran Is­lam yang mulia. Kepedulian merupakan wujud dari kesadaran sosial manusia. Bentuk kepedulian terhadap sesama itu, di an­taranya, adalah memberikan ZIS (zakat, infak, dan sedekah) kepada orang-orang yang berhak menerimanya seperti diba­has dalam Bab 6. Manusia tidak boleh bersikap egois dengan lanya mementingkan diri sendiri dan golongannya saja.

Kepedulian terhadap orang lain yang dilakukan dengan ikh­las tanpa menyinggung perasaan si penerima, khususnya ke­pada mereka-mereka yang kurang beruntung, akan membuat hati gembira dan menambah rejeki, dijelaskan Surat (2) Al Ba­qarah ayat 262:

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

17. SELALU MENJAGA UCAPANNYA
Orang yang memiliki kecerdasan transendental yang tinggi selalu berusaha menjaga ucapannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain, dari perkataan yang mubazir, fitnah, gosip, takabur, dan penuh kebohongan. Menjaga ucapan sangat pen­ting karena ucapan merupakan sumber dosa dan masalah se­suai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh At Thabrami dan Al Baihaqi: Kebanyakan dosa Bahi Adam (tnanusia) berasal dari lidah.

Mereka hanya mau dengan perkataan yang baik, benar, dan bermanfaat sesuai dengan Surat (23) Al Mu'minuun Ayat 1: Sesuntgguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman; Ayat 2: (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, Ayat 3: dan or­ang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.

Sejalan dengan ayat di atas, orang yang selalu menjaga ucap­annya dengan hanya mengucapkan perkataan yang baik, men­dapat pahala, Surat (2) Al Baqarah ayat 263: Perkataan yang baik dan pemberian mtaaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Pada bagian lain, Allah melarang manusia untuk menge­luarkan ucapan yang buruk, seperti mencela orang, memaki, dan menerangkan keburukan orang lain, sebagaimana Surat (4) An Nisaa' ayat 148: Allah tidak menyukai ucapan yang buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang-orang yang dianiaya. Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

18. TIDAK SOMBONG
Problematika kehidupan acapkali menyebabkan manusia kehilangan kesadaran dirinya, bahwa ia hanyalah mahkluk ciptaan Allah sehingga lupa menghambakan diri kepada Allah. Banyak manusia yang merasa sukses dan hebat menjadi som­bong dan suka membangga-banggakan diri. Allah melarang ma­nusia bersikap sombong dan suka membangga-banggakan diri seperti tercantum dalam Surat (17) Al Israa' ayat 37:

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dam sekali-kali kamu tidak akan samapi setinggi gunung.

Juga Surat (57) A1 Hadid ayat 23: Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tidak ada tempat bagi manusia untuk menyombongkan diri, sehebat apapun dia, sekaya apapun dia, setinggi apapun jabat­annya, setampan atau secantik apapun dia... Ilmu manusia ti­dak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu Allah. Semua ilmu datang dari Allah. Begitu pula kekayaan, tampang rupa­wan, dan lain-lain. Manusia dengan kecerdasan transendental yang tinggi jauh dari sikap sombong dan suka membangga­-banggakan diri. Jika bersalah, mereka cepat menyadari kesa­lahannya dan meminta maaf, meskipun kepada bawahan, or­ang miskin, orang yang berusia lebih muda, dan seterusnya.

Sikap tidak sombong dan takabur ditunjukkan pula dengan sikap rendah hati terhadap Allah dan tidak mau mendahului kehendak Allah. Dia sadar bahwa manusia hanya bisa beren­cana, hasilnya Allah-lah yang menentukan. Oleh sebab itu, me­reka selalu menyebut Insya Allah berkaitan dengan rencana­-rencananya di masa depan, seperti dijelaskan Surat (18) Al Kahfi ayat 23-24:

Dan  janganlah sekali-kali mengatakan terhadap sesuatu : “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.” Kecuali (dengan menyebut) “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa katakannlah “Mudah-mudahan Tuhankau akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebearannya daripada ini.”

Kalaupun ia berbuat dosa atau kesalahan, mereka yang me­miliki kecerdasan transendental tinggi dengan cepat menyadari kesalahannya,

19. SELALU BERPIKIR POSITIF DAN TERMOTIVASI
Manfaat berpikir positif telah banyak dikupas oleh para pa­kar. Berpikir positif membuat pekerjaan lebih mudah untuk dikerjakan, membuat sehat jasmani dan rohani, mampu meng­urangi stres, membuat suasana silaturahmi lebih hidup, dan lain-lain. Pikiran positif seseorang akan menyebar ke seluruh lingkungannya sehingga menjadi positif pula. Sedangkan pi­kiran negatif hanya menguras energi dan konsentrasi. Allah berfirman dalam Surat (49) Al Hujuraat ayat 12:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengunjing sebahagian yang lain.

Berpikir positif sangat diperlukan untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Orang-orang yang berpikir positif akan mampu mengeksplorasi berbagai wilayah kemungkinan untuk membuatnya menjadi mungkin. Anda mungkin untuk mela­kukan segala kebaikan bilamana pikiran Anda mengatakannya mampu. Apapun bisa Anda gapai kalau Anda berpikiran posi­tif dan seijin Allah, karena energi dari pikiran positif akan selalu membuat Anda termotivasi mewujudkannya.

Manusia dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan akal untuk mewujudkan kehendak yang dilakukan dengan sa­dar. Manusia harus memiliki keinginan dan cita-cita tinggi, te­tapi harus dibuat dan diwujudkan dengan sadar. Memiliki am­bisi diperbolehkan, namun tidak boleh menjadi ambisius. Ba­ngunlah keyakinan dan motivasi diri bahwa kehendak itu bisa diwujudkan.

Dorongan dalam diri manusia memungkinkan terwujudnya kehendak atau sebagian kehendak tersebut. Namun, kemam­puan manusia ini tetap bersifat terbatas. Itu sebabnya, tatkala manusia memutuskan melakukan sesuatu, tetapi gagal karena faktor-faktor di luar kekuasaan diri manusia. Di sini berlaku hukum qadha dan qadar.

Namun, berpikiran positif terhadap orang lain harus tetap dibarengi dengan kesadaran diri yang tinggi. Jangan sampai pikiran positif tersebut terlalu berlebihan sehingga dimanfaat­kan oleh orang tersebut untuk hal-hal yang tidak baik dan merugikan.

20. SELALU BERUSAHA UNTUK LEBIH BAIK (PRO­PERUBAHAN)
Di dalam Islam, Allah menyeru umat-Nya untuk mau berhi­jrah dan berjihad melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Hijrah di sini tidak selalu bermakna hijrah secara fisik, tetapi yang tak kalah penting adalah hijrah menuju jalan Al­lah: mengerjakan amal saleh dan meninggalkan kemungkaran. Perjuangan perubahan di jalan Allah ini juga bermakna jihad. Surat (2) Al Badarah ayat 218:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalah Allah, mereka itu mengharapkam rahmat Allah, dan Allah Maha Pegampun lagi Maha Penyayang.

Sebagaimana dibahas sebelumnya bahwa hidup selalu pe­nuh cobaan, apalagi bagi orang beriman, maka umat Muslim wajib melakukan hijrah setelah menghadapi cobaan demi co­baan. Allah akan melindungi orang-orang yang melakukan hij­rah
setelah menderita cobaan,

21. MEMILIKI TOLERANSI TINGGI TANPA MENGORBANKAN AQIDAH
Manusia dengan kecerdasan transendental tinggi bukanlah orang yang picik, eksklusif, dan soliter. Ia adalah figur yang bermasyarakat dan terbiasa kepada kemajemukan serta per­bedaan sehingga memiliki wawasan yang luas dan jiwa yang besar. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW semasa perjuangannya (lihat cerita perjuangan Nabi Bab 6). Selama hal itu tidak menyangkut aqidah, maka umat Muslim wajib bertoleransi dan memperlakukan orang non-Muslim de­ngan akhlak yang mulia, seperti Surat (60) Al Mumtahanah ayat 8 di atas.

Umat Muslim juga terbiasa berdemokrasi (menghargai per­bedaan) di mana segala urusannya diputuskan secara musya­warah, bukan atas pemaksaan kehendak, Surat (42) Asy Syuura ayat 38: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan sholatm sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Dengan demikian, tidak benar bahwa di dalam Islam tole­ransi dan demokrasi tidak bisa berkembang. Selama untuk ke­baikan umat, setiap orang diberi hak untuk menyampaikan pendapatnya dan berbuat yang terbaik. Semua urusan umat harus dimusyawarahkan sehingga sebetulnya di dalam Islam tidak ada tempat bagi pemimpin yang zalim dan otoriter. Tidak ada pula loyalitas buta terhadap pemimpin bila ternyata hanya mendatangkan kemudharatan bagi umat.

22. PRODUKTIF, INOVATIF DAN KREATIF
Apakah seorang yang memiliki kecerdasan transendental tinggi akan menjadi lebih produktif, inovatif, dan kreatif? Ja­wabannya pasti ya. 

Pertama, mereka adalah orang-orang yang berdisiplin dan sungguh-sungguh, terpercaya (amanah), dan bertanggung jawab dalam menjalankan setiap urusannya. Me­reka tidak akan pernah berhenti berpikir dan berupaya serta berdoa untuk mewujudkan tujuan di jalan Allah.

Kedua, sikap ikhlas dan khusuk di dalam menjalankan iba­dah akan membangkitkan seluruh potensi akal-budi yang di­milikinya (termasuk potensi 90% otak bawah sadar yang se­lama ini dibiarkan menganggur). Terbiasa mengembara di da­lam wilayah otak bawah sadar menyebabkan daya kreatif dan kemampuan berinovasi manusia akan meningkat.

Ketiga, mereka adalah orang-orang yang tahan terhadap co­baan - termasuk stres - sehingga tetap produktif dan kreatif dalam berbagai keadaan. Produktivitas dan kreativitas mereka melampaui kemampuan manusia rata-rata.

Keempat, mereka adalah orang yang pro-perubahan menuju kepada hal yang lebih baik. Dengan demikian, mereka mau meninggalkan zona kenyamanan hidup dan berpikir dengan cara berbeda (to think of out of the box). Hal ini merupakan ciri­-ciri dari orang-orang yang produktif, inovatif, dan kreatif.
        

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution