Rabu, 05 Desember 2012

Cara Mengatasi Ambisi Kekuasaan dan Jabatan

Bagaimana Kiat dan Cara Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan?

Pertama. Di dalamnya banyak terdapat peringatan terhadap tindakan-tindakan mencalonkan diri untuk sebuah kekuasaan dan mengecam sikap keterkaitan hati dengan posisi kepemimpinan.

Kedua. Selalu mengingat beban yang harus dipikul oleh seorang pemimpin, baik di dunia maupun akhirat. Salah satu fitrah manusia yakni mudah lupa, dan tidak dapat teratasi kecuali dengan diingatkan.


Firman Allah Ta’ala : “Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi kaum yang beriman”. (QS : Dzariyat : 55)

Ketiga. Membiasakan diri bersikap taat dan berlatih meredam keinginan jiwa sejak kecil. Sabda Nabi Shallahu alaihi wassalam : “Beruntunglah orang yang memegang kendali kudanya dalam melakukan jihad di jalan Allah. Walau kusut rambutnya dan kakinya berdebu, namun jika ia diberi tugas untuk menjaga, ia laksanakan dengan baik, dan jika ia diberi tugas untuk mengawal di belakang, maka ia laksanakan tugasnya dengan baik”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majjah).

Keempat. Perilaku seperti ini akan menolong seseorang untuk dapat membersihkan hati serta ambisinya dari keinginan menjadi pemimin, bahkan ia justru akan bersyukur kepada Allah jika tidak memperolehnya.

Kelima. Mengingat perjalan hidup para salafush shaleh dan sikap mereka terhadap kekuasaan dan jabatan.
Sesungguhnya perjalanan hidup mereka sarat dengan kewaspadaan dan akan senantiasa menjauhkan diri dari posisi kepemimpinan tersebut, karena tanggung jawab dan akibat-akibatnya. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar ra menerima jabatan sebagai khalifah, beliau berkhutbah dihadapan kaum mukminin. “Wahai manusia, jika kalian mengira bahwa aku menjabat kedudukan khalifah ini karena ambisiku atau karena keinginanku untuk mengambil kepentingan pribadi atas kalian dan kaum muslimin, maka hal itu tidaklah benar. Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, aku tidak menduduki jabatan ini karena ambisiku, dan sungguh bukan untuk mementingkan diri pribadi terhadap kalian dan kaum muslimin. Aku tidak menginginkannya sama sekali, dan aku tidak memohon kepada Allah terhadpa jabatan ini, baik secara rahasia atau secara terang-terangan. Aku sungguh telah memikul suatu masalah yang amat besar di mana aku tidak mampu memikulnya kecuali bila aku ditolong oleh Allah. Sesungguhnya aku ingin sekali jabatan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang shahabat Rasulullah shallahu alaihi wassalam, yang lain dengan keharusan berlaku adil, maka aku akan mengembalikannya kepada kalian, dan untukku tiak ada bai’at bagi kalian, serahkan lah jabatan ini kepada seorang yang kalian sukai, aku tidak lain hanyalah salah seorang dari kalian”. (Kanz al-Ummaal, ‘Alaauddiin al-Muttaqi, 5/615) 

Ketika masa-masa akhir jabatan Umar ibnul Khatthab, ia menunjuk enam orang untu memusyawarahkan jabatan khalifah. Kemudian al-Mughirah bin Syu’bah mengusulkan kepada Umar ibnu Khtatthab agar anaknya (Abdullah bin Umar) yang menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Maka Umar marah dan menolak usulan itu dengan berkata: “Celakalah engka! Demi Allah, aku tidak meminta kepada Allah akan hal ini. Aku tidak memiliki kecakapan apa-apa dalam mengurus masalah kalian, dan kau tidak mensyukurinya, sehingga aku ingin agar jabatan kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan ini adalah kebaikan, maka aku telah memperolehnya, dan jika hal ini suatu keburukan, maka cukuplah salah seorang dari keluarga Umar yang akan dihisab dan ditanya tentang permasalahan umat Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Aku sudah berupaya semampuku dan telah mengharamkan keluargaku. Dan jika aku selamat dari siksa, tidak menanggung dosa, dan tanpa memperoleh pahala, maka hal itu sudah cukp membuatku senang”. (Akhbaar Umar, at-Thanthawiyaan, hal 452).

Umar bin Abdul Aziz ketka dilantik menjadi khalifah, ia di datangi oleh seorang tentara pengawal untuk berjalan di hadapannya dengan sebilah tombak sebagaimana kebiasaan lyang berlaku bagi para khalifah sebelumnya. Maka Umar berkata kepada orang itu, “Ada urusan apa antara aku dan kamu? Menjauhlah dariku. Aku hanya seorang dari kaum muslimin”. Kemudian ia berjalan bersama orang-orang samp;ai memasuki masjid. Ia menaiki mimbar dan orang-orang berkumpul dihadapannya. Lantas ia berkata : “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji, karena urusan kekhalifahan ini tanpa pendapatku dalam hal tersebut, tanpa permintaanku, dan tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Sesungguhnya aku telah melepaskan bai’at kalian terhadapku, maka pilihlah orang lain untuk mengurus permasalahan kalian, yang kalian kehendaki”. 

Mendengar hal itu kaum muslimin berteriak dengan suara bulat, “Kami telah memilihmu untuk mengurus masalah kami, dan kami semua telah ridha denganmu…” (al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/212-213).

Keenam. Merenungi kedudukan dunia dari akhirat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan dituturkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Allah Ta’ala berfirman : “.. Katakanlah, Kenikmatan duniawi itu sangat sedikit, sedangkan akhrat itu lebih baik bagi siapa yang bertakwa “. (QS : An-Nisaa’ : 77) “.. Padahal kenikmatan hidup dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (QS : At-Taubah : 38) ” .. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS : al-Imran : 14)

Wallahu’alam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution