Senin, 17 Desember 2012

Dalam Diam Hatiku Merintih

Rintihan Hati

Malam ini kembali ku bertafakur, mencoba meraba kemaha luasan alam karunia sang pencipta. Alam yang selama ini menyimpan banyak cerita tentang para utusan-Nya.

Dalam diamku hatiku merintih, ada bau harum sekuntum do’a. Menelusup halus melalui pangkal leher, merambat pelan mengikuti aliran darah dalam nadiku.


Sontak mataku terpejam, ku tengadahkan kepalaku mencoba merasakannya. Hembusan udara melebihi wanginya kesturi semerbak menyelubung jiwa.

Hatiku kembali merintih, aku menunduk dalam dan bertanya melalui hati;

“Aku hanyalah setitik debu ditengah gurun tandus, adakah semilir angin yang mau menerbangkanku kealam keabadian ?”

Silau cahaya berulangkali melintas disetiap kedipan mata. Satu suara halus terngiang menggema di kejauhan, perlahan masuk keliang telinga kiri kanan….

“Hai anak manusia penggendong dosa, segala sesuatu didunia ini hanyalah samar bayangan. Apapun barang berharga, gelar jabatan, dan setumpuk prestasi yang engkau punyai bukanlah bekal terbaik untuk kau bawa kealam keabadian, melainkan amal dan perbuatan nyata “

“Apakah perbuatan nyata itu hai sang suara langit ?”

“Ikhlaskan dalam setiap perbuatan, ketika kau menolong seseorang, ketika kau melaksanakan segala perintah-Nya… Yakinlah ketika kau melakukan kebenaran, dan mundurlah apabila suatu ajakan jahat merayumu…”

Ku bersujud menempelkan bibirku ke tanah pasir kering, ku bisikkan sebait asa;

“Selamat tinggal kemewahan dunia, bagiku kau hanyalah pelengkap tapi bukan penyempurna…, hanya sebutir kasih-Nyalah yang selalu ku inginkan “

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution