Senin, 10 Desember 2012

Masih Punya Rasa Malukah Kamu

Malu akan Mendatangkan Kebaikan

Akhlak yang mulia dalah akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji kemuliaan akhlak Rasul-Nya ini di dalam Al-Qur’anul Karim sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam : 4).


Ummul Mukminin ‘Aisyah radliyallahu 'anha ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka iapun menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

Demikian pula Anas radliyallahu 'anhu menyatakan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling bagus akhlaknya (dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah berpesan di dalam sabdanya, “Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Jika demikian keadaannya dan begitu bernilainya akhlak karimah, maka sepantasnya kita untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia sebagaimana akhlaknya Khairul Anam (sebaik-baik manusia) Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Di antara akhlak-akhlak yang mulia adalah :

MALU

Akhlak ini adalah warisan para Nabi yang terus diambil dan diamalkan dari generasi ke generasi hingga sampai ke umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini, sebagaimana sabda beliau, Sesungguhnya apa yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama ialah : “Kalau kamu tidak malu, maka lakukanlah yang kamu kehendaki.” (HR. Bukhari dalam Kitabul Adab 7/100 dari Abu Mas’ud radliyallahu 'anhu).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai imam seluruh Nabi Allah adalah seorang yang sangat pemalu, bahkan lebih malu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan. Malu juga sifatnya para Malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Malu tidaklah menghasilkan kecuali perkara yang baik, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menegaskan perkara ini di dalam sabdanya, “Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin Husain radliyallahu 'anhu). Dalam riwayat Muslim, “Malu seluruhnya adalah kebaikan.”

Hadits-hadits di atas menganjurkan untuk berhias dengan akhlak malu, karena memang akhlak ini tidak mendatangkan kecuali hal yang baik dan dapat menyelamatkan seorang manusia dari perbuatan-perbuatan jelek dan tidak terpuji yang dapat merusakkan diri pelakunya dan orang lain.

Akhlak malu terbagi dua :

1. Malu yang memang sudah menjadi tabiat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan pada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya sebagai suatu nikmat dari-Nya. Dengan malu inilah kita dapat melihat banyak orang meninggalkan perkara-perkara dosa dan maksiat.

2. Malu yang muncul pada diri seorang hamba dikarenakan ia menyadari bahwasannya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui apa yang diperbuat hamba-hamba-Nya dan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun dari-Nya. Malu model inilah yang termasuk bagian dari iman sehingga karena inilah ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melewati seorang lelaki yang sedang menasihati dengan cara mencela sifat malu yang ada pada saudaranya, beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyatakan, “Sesungguhnya malu adalah termasuk daripada keimanan.” (Hadits Mutafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radliyallahu 'anhuma).

Jika seorang hamba tidak memiliki satu di antara dua akhlak malu di atas, maka dengan mudahnya ia akan melakukan perbuatan-perbuatan jelek dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka setiap orang yang banyak kadar akhlak malu pada dirinya, niscaya banyak pula kebaikannya. Sebaliknya, jika sedikit kadar akhlak malu pada dirinya, sedikit pula kebaikannya.

Pencerminan sifat malu juga nampak pada diri dua orang putri Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam. Keduanya malu untuk memberi minum ternak mereka karena ada penggembala-penggembala lain (pria) di tempat minum tersebut. Dan satu di antara dua putri tersebut juga malu-malu ketika menyampaikan pesan ayah mereka, Nabi Syu’aib, kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kisahkan di dalam surat Al-Qashash ayat ke-23 dan 25.

Maka berhiaslah dengan akhlak malu wahai saudariku Muslimah karena akhlak ini sangatlah indah dan suatu perhiasan yang istimewa jika kalian mau memakainya.

Ketahuilah bahwa malu untuk memerintahkan dan mengamalkan kebaikan serta malu untuk melarang dan meninggalkan kejelekan pada hakikatnya bukanlah malu, tetapi lebih dekat pada minder, penakut, atau riya’ yang menunjukkan kelemahan iman dan kerendahan jiwa. Jika akhlak yang tercela ini berada pada jiwa seorang manusia, maka hendaklah segera membuangnya dan menggantikannya dengan akhlak malu yang mulia yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Malaikat-Malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Wallahu a’lam bishshawab.
Penulis : Mumtahah Annisa

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution