Jumat, 27 September 2013

Ketika Allah Menguji Kita


Menyikapi Ujian Kehidupan dengan Iman

Setiap orang yang hidup di dunia ini menyadari bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya tidaklah semudah dan semulus yang dibayangkan. Ia harus melalui berbagai macam rintangan dan ujian. Hidup tanpa ujian adalah mustahil. Sebab, kehidupan sendiri adalah ujian.


“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”, Quran Surat Al-Mulk ayat dua.

Samsoe Bassaroedin, staf khusus pembina Masjid Salman ITB dalam kajian Ifthar senin (4/3) di Selasar Hijau menjelaskan, ujian kehidupan umumnya ada dua, yaitu berhasil atau gagal. Tidak perlu dicari, ujian kehidupan pasti akan dialami setiap orang. Ujian ini akan dijumpai di berbagai aspek kehidupan.

Ia mencontohkan, secara sedehana misalnya miskin atau kaya. Kemudian dari segi kesehatan yaitu sehat atau sakit. Lalu dari segi keluarga yaitu sakinah atau broken home. Dari segi pendidikan yaitu lulus ujian atau gagal. Begitu juga dengan perdagangan, yaitu mendapat keuntungan atau rugi, bahkan bangkrut.

“Itu semua tidak bisa kita hindari dan pasti akan dialami. Tinggal bagaimana kita merespon ujian tersebut. Kalau kita merespon tanpa iman, bisa dipastikan ketika gagal akan berkeluh kesah dan ketika berhasil kita akan mementingkan diri sendiri,” ungkap Samsoe.

Samsoe memaparkan lebih jauh, berkeluh kesah itu bentuknya macam-macam. Yang paling umum yaitu kufur nikmat, kibir, riya, atau ujub. Pada dasarnya orang sombong itu karena kegagalan. Misalnya Firaun dan Korun, pada satu sisi mereka berhasil tapi disisi lain mereka gagal dalam membina hubungan dengan manusia. Mereka gagal membina pemerintahan yang adil, gagal membina perusahaan yang bermartabat, gagal membina keluarga yang baik dan lain-lain.

Sukses dan gagal jika tidak dibarengi iman itu berbahaya. Ketika sukses tanpa dibrengi iman misalnya bisa menimbulkan kesombongan, memuja-muja diri sendiri, bahkan kufur nikmat. Namun jika ujian itu dibarengi iman, ketika berhasil orang akan bersyukur dan ketiga gagal orang akan bersabar. Syukur dan sabar itu dua cakrawala hidup.

“Orang beriman menurut Rasulullah itu ajaib, ketika berhasil dia bersyukur dan ketika gagal dia bersabar. Hanya dengan iman kita dapat merespon ujian hidup dengan tepat. Kemudian Iman dapat terinternalisasi dalam diri manusia melalui dzikir. Hanya dengan berzikir maka hati akan tenang,” tambah Samsoe.

Manusia-manusia pilihan Allah, seperti para Nabi dan Rasul pun menghadapi ujian dalam perjalanan hidupnya. Ada yang diuji untuk menyembelih putranya, seperti Nabi Ibrahim as. Nabi Zakariya as diuji sekian puluh tahun membangun rumah tangga tapi tidak dikaruniai anak. Allah SWT baru mengabulkan doa Nabi Zakaria as ketika memasuki usia senja, maka lahirlah Nabi Yahya as.

Ada yang diuji dengan penyakit selama berpuluh-puluh tahun seperti Nabi Ayyub as. Sedangkan Nabi Nuh as diuji dengan respons negatif kaumnya dan hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman. Padahal Nabi Nuh as telah berdakwah selama 950 tahun. Termasuk Rasulullah Muhammad saw, beliau juga menghadapi begitu banyak ujian dan cobaan. Ujian adalah cara Allah untuk menggembleng dan meningkatkan derajat para hamba-Nya.

Pun, ujian kehidupan ini bertujuan agar manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dari ujian tersebut, dapat diketahui tingkat keimanan seseorang. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution