Selasa, 01 Oktober 2013

Ma'afkanlah

Biasakanlah Untuk Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Manusia bisa tergerak hatinya dan berempati. Terkadang manusia juga mendapatkan kebahagian dan kebencian dalam jiwa mereka. Inilah kedua emosi yang saling bertolak belakang dalam diri manusia.

Aku ingin memberikan contohnya: Ketika panci dan wajan saling bertabrakan maka akan timbul suara bising, begitu juga ketika seseorang bertemu dengan kawannya, terkadang timbul perselisihan. Orang yang baik adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah. Lepas kendali ketika marah bukanlah sebuah sifat yang bagus.

Contohnya seperti ini: dapat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi bukanlah suatu keterampilan, tapi kalau dapat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan mengendalikan mobilnya, itulah yang disebut keterampilan. Jika kalian menyuruh seorang anak kecil untuk mengemudi, anak kecil tersebut juga bisa tancap gas dan mengebut. Jadi mengebut bukanlah suatu keterampilan, tapi mengebut sembari dapat mengendalikan mobilnya barulah dikatakan keterampilan.

Seorang tamu datang ke rumah Husain R.A. Kemudian dia meminta pembantunya untuk membawakan sebuah sup untuk si tamu. Kalau di zaman sekarang, kita menyuguhkan tamu dengan secangkir teh/kopi, tapi pada masa itu mereka menyuguhkan semangkuk sup panas. Jadi pembantunya menyiapkan dan membawakan sup hangat itu, dan ketika dia sedang membawanya, pandangannya teralihkan dan dia terpeleset, menumpahkan sup panas itu ke tubuh Husain R.A.

Bayangkan jika semangkuk air mendidih tersiram kepadamu, betapa panas rasanya. Jadi Husain R.A. menjadi sangat marah karena kecerobohan pembantunya. Pembantunya tahu bahwa Husain adalah orang saleh, dia begitu menghargai ayat Al-Qur’an, jadi pembantunya berkata "dan orang-orang yang menahan amarahnya" (Ali Imran:134).

Husain menjawab “Baiklah, aku sudah menelan kemarahanku.”

Pembantunya berkata “dan mema'afkan (kesalahan) orang.” (Ali Imran:134)

Husain berkata “Baiklah, aku sudah memaafkanmu.”

Pembantunya berkata “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:134)

Husain R.A. berkata “Pergilah, karena aku sudah membebaskanmu atas nama Allah.”

Mereka begitu patuh kepada ayat-ayat Al-Qur’an. Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “di dunia ini, siapapun yang cepat memaafkan kesalahan orang lain, maka pada hari kiamat Allah akan cepat memaafkan kesalahannya.

Rasulullah S.A.W. juga bersabda “Jika seseorang meminta ampun dari orang lain, tapi dia tidak mau memaafkannya, maka orang yang tidak mau memaafkan itu tidak seharusnya datang ke telaga Kautsar-ku.”

Situasi yang terjadi pada zaman sekarang, seorang suami tidak mau memaafkan istrinya dan begitu pula sebaliknya. Allahu Akbar Kabirau! Pikirkanlah barang sejenak, betapa kondisi hati kita telah berubah makin buruk. Kita tidak mau memaafkan sesama!

Ada seorang tua yang pergi berhaji. Di dalam dompetnya berisi uang dan barang berharga. Seorang copet menjambret dompetnya dan melarikan diri.

Merupakan kehendak Allah, tiba-tiba pencopet tersebut merasa buta untuk sesaat, dia tidak dapat melihat. Pemuda ini mulai menangis dan orang-orang mulai bertanya-tanya mengapa dia menangis.

Dia menjelaskan “Aku mencuri dompet seorang kakek dan tampaknya dia telah mengutukku, dan sebagai akibatnya Allah telah mengambil penglihatanku.”

Orang-orang bertanya padanya perihal keberadaan orang tua tersebut. Dia berkata “Di dekat tukang cukur rambut A.”

Jadi ketika orang-orang menemui si orangtua, mereka memintanya untuk memaafkan si pemuda pencopet tadi, dan pencopet itu memintanya untuk memaafkannya. Orangtua itu berkata “Aku telah memaafkanmu dengan segera.”

Orang-orang berkata “Dia telah mencuri dompetmu, tapi kau langsung memaafkannya?”

Dia berkata “Ya, suatu pikiran terlintas di benakku sehingga aku langsung memaafkannya.”

Orang-orang bertanya “Pikiran apa yang terlintas di benakmu?”

Orangtua itu berkata “Ketika dia mengambil barangku dan melarikan diri, suatu pikiran terlintas di benakku: Ketika hari kiamat tiba ketika aku mempersembahkan perkaraku di hadapan Allah, maka anak muda ini akan dihakimi, dan waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan...

Rasulullah S.A.W. bersabda “Aku tidak akan masuk surga sampai penghakiman umatku telah selesai.” Jadi aku berpikri bahwa waktu yang diperlukan untuk memutuskan perkaraku akan menghambat Rasulullah S.A.W. dari memasuki surga. Jadi aku memaafkannya! Sehingga tidak ada perkara yang harus disidang dan Rasulullah S.A.W. tidak perlu terhambat karenaku.

Jika ini yang kita pikirkan, tidakkah kita mau memaafkan orang-orang? Karena dengan kita memaafkan, maka Rasulullah S.A.W. tidak perlu terhambat dari memasuki surga.

Di rumah, kita tahu bahwa anak-anak, istri, dan saudara-saudara kita dapat berbuat salah dan mengucapkan sesuatu tanpa sengaja. Daripada memendam kebencian, lebih baik kita membiasakan diri memaafkan mereka karena Allah.

Inilah kebiasaan Rasulullah S.A.W. Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk mengamalkan Sunnah ini, dan karenanya semoga Allah memaafkan kekurangan kita di hari kiamat.

Sesungguhnya kawan-kawan, kita sangat membutuhkan hal ini, orang itu mungkin hanya berbuat 1 dosa, sementara siapa tahu kita telah berbuat dosa lebih banyak daripadanya. Jika dengan memaafkan satu kesalahan, Allah mau mengampuni seluruh dosa kita, maka ini adalah kesempatan yang bagus.

Itulah mengapa, ketika seseorang memohon maaf, atau meskipun dia tidak memohon maaf, maafkanlah dia untuk menyenangkan Allah.

Semoga Allah menganugerahkan sifat ini dan kemampuan untuk menerapkannya di sisa hidup kita.




 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution