Selasa, 01 Mei 2012

Shalat Telat itu Ga' Enak Banget

Shalat Telat itu Tak Nikmat 

Tentunya kita sudah pernah menerima anjuran shalat mirip-mirip begini:
  1. Shalat telat itu sedikit pahalanya ! Ini mirip dengan keutamaan datang ke mesjid untuk shalat Jumat lebih awal agar dapat "hadiah" unta, bukan sapi, kambing, apalagi ayam.
  2. Menunda shalat tanpa alasan hingga keluar dari waktunya adalah berdosa besar sepakat para ulama.
  3. Orang yang terbiasa menunda shalat hingga akhir waktu karena alasan-alasan yang remeh adalah termasuk perbuatan melalaikan shalat seperti termaktub dalam QS al-Maaun 4-5. Ini ditegaskan ibn-Katsir rahimahullahu ta’ala.
  4. Pada dasarnya waktu shalat itu luas sekali dan baru berakhir bila masuk waktu shalat berikutnya, kecuali waktu shubuh.
  5. Sangat dianjurkan untuk shalat di awal waktunya. Dan lebih dianjurkan lagi bila dilakukan secara berjamaah di masjid. Pahala 27 kali lipat, lebih tertib karena mengikut imam, dan bersemangat karena rame boo ...
Mudah-mudahan kita sepakat tentang lima anjuran di atas. Nah yang mau saya tulis di sini adalah lebih pada pengalaman pribadi mendirikan shalat zuhur dan ashar di negeri muslim minoritas. Dua shalat yang umumnya dilakukan siang hari saat beraktivitas di kantor. Sebuah pengalaman shalat yang amat berbeda dengan kondisi di Indonesia, dimana ada ruang shalat, mushalla, atau mesjid di sekitar tempat kerja dan mayoritas rekan kerja tahu apa itu shalat (tahu tentang shalat, waktu istirahat yang dapat dipakai shalat, dan agenda rapat yang lebih ramah dengan waktu shalat).

Mengapa shalat telat itu tidak enak ? 

 
Alasannya beragam namun intinya karena kita bukan penguasa waktu dan kita tidak mampu mengendalikan 100% aktivitas otak kita sendiri. Apa yang akan terjadi terhadap kita dalam satu menit, lima menit, setengah jam ke depan tak dapat diramalkan. Bayangkan hal-hal semacam ini:

  • Dengan menunda waktu 30 menit ada kemungkinan email baru dari pelanggan datang, telefon dari boss perlu diangkat, rekan kerja mampir untuk diskusi penting tanpa janji sebelumnya, istri menelepon dari rumah, tiba-tiba ingat akan laporan yang perlu dikirim, dll. Ujung-ujungnya shalat akan makin telat karena terinterupsi hal-hal yang tak direncanakan tsb.
  • Dengan tidak memanfaatkan waktu senggang kita saat ini dan sengaja menunda nya beberapa menit lagi (mungkin dengan membaca email, buka situs detik.com, atau mengetik blog), ada peluang saya terlena dengan aktivitas baru tadi. Misalnya keasyikan berselancar membaca blog yang membuat shalat tertunda 1 jam dan bukan beberapa menit.
  • Sebagai efek domino dari (1) akhirnya muncul hal-hal baru dalam pikiran kita, yang akan mengganggu konsentrasi saat shalat.
    Sekonyong-konyong di dalam shalat muncul saja ide baru, kepikiran dengan bug/error baru yang ditemukan dalam program yang kita tulis, terbayang kesulitan yang dilaporkan pelanggan dalam emailnya, teringat pesanan istri dalam telefonnya barusan dan kemana harus mencarinya, dll. Artinya shalat menjadi tidak khusyu dan otak menjadi lelah karena dibebani hal-hal baru yang "secara tak sengaja" mampir instant beberapa saat yang lalu.
  • Karena shalat sudah tak khusyu alias hati tak tenang, mana bisa konsentrasi lagi ?
    Bacaan al-Fatihah sekenanya saja, membaca surat pendek yang teringat saja, tidak meresapi arti bacaan shalat, dan waktu zikir/doa pun menjadi singkat. Pokoknya kesyahduan shalat dan ketentraman hati yang didambakan diperoleh lewat shalat lenyap tanpa disadari.
  • Faktor lain yang membuat hati tak tenteram adalah faktor tempat, karena saya biasanya memakai ruang rapat untuk shalat. Ruang rapat tentu sepi saat tak dipakai dan lebih sejuk karena aircon nya hidup dibandingkan shalat di ruang tangga darurat :-) Rapat-rapat di kantor umumnya bermula pada awal-awal jam seperti jam 2 tepat (at 2 o'clock, at 3 pm sharp), nah … kalau saya menunda shalat hingga mepet waktu rapat tentunya membuat hati ini agak deg-degan. Khawatir bila lima menit lagi (misalnya) ada rekan yang ingin memakai ruang rapat dan jadi terganggu karena saya masih shalat di sana. Akhirnya shalat jadi "ngebut" karena [mungkin] ruang tersebut akan dipakai jadi tempat rapat.
  • Menunda waktu shalat juga tidak baik apabila ada jadwal yang "menjepit" di jam-jam berikutnya, misalnya saya harus hadir rapat, ada conference call yang perlu diikuti, mengejar bus pulang kantor, atau alasan sederhana seperti toilet yang harus dibersihkan sehingga harus mencari toilet lain, film favorit akan segera dimulai, dll.
It is not an act of being paranoid
Mungkin daftar ini masih terus dapat ditambah, namun saya yakin ini adalah kenyataan umum yang mungkin tidak hanya terjadi pada saya yang tinggal di negeri muslim minoritas saja. Kejadian alam yang lebih ekstrem di luar kuasa manusia amat mungkin terjadi dalam beberapa detik, menit kemudian yang membuat ajal kita sampai sebelum sempat menunaikan kewajiban ini (semoga Allah melindungi kita dari petaka ini).

Menunda shalat untuk sesuatu yang pasti adalah diperbolehkan terutama bila kita tahu pasti jam berakhirnya kuliah/rapat, menutup dalam beberapa menit percakapan di telepon (dan segera shalat sesudah itu), menyelesaikan email penting yang dipastikan akan membantu pihak lain bila segera dikirim, memastikan alat-alat/bahan yang kita pakai dalam praktikum telah berada pada kondisi aman untuk ditinggal, menuntaskan pelatihan yang sedang kita berikan dalam 30 menit lagi, dll. Namun sekali lagi ini hanyalah menurut ijtihad saya yang dhaif ini dan tidak layak jadi acuan. Saya hanya berasumsi bilamana dengan "menunda" beberapa menit ke depan membuat hati atau pikiran menjadi tenang maka lakukanlah. Namun tetap harus diingat bahwa kita bukan pemilik 100% pikiran, hati, dan masa depan kita :-)

Mempraktekkan shalat di awal waktu adalah amat baik dan bukan hanya karena didasari kekhawatiran akan hal-hal di atas. Keuntungan di Indonesia adalah ketersediaan ruang shalat khusus sehingga tak perlu merasa cemas karena ruangan akan dipakai orang lain. Namun bayangkan juga bila tiba-tiba listrik mati atau air di bak penampungan habis sehingga kita tidak bisa wudhu :-)

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang yang beriman.” (QS An-Nisa: 103). Lengkap tentang waktu pelaksanaan shalat fardhu dapat dibaca di link eramuslim ini


(by.http://menata-hati.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution