Senin, 02 September 2013

Salim Si Miskin Yang Jujur

Hasil Sebuah Kejujuran

Konon di sebuah desa pinggiran kota hiduplah seorang pengembala miskin  bernama Salim. Ia tinggal di sebuah gubuk reot bersama kedua orang tuanya.  Setiap pagi Salim menggiring kambing-kambingnya di tanggul sungai dekat rumahnya yang subur ditumbuhi rumput hijau, sore menjelang maghrib barulah pulang.

Walaupun hidup miskin dan serba kekurangan, Salim memiliki sifat mulia yang telah di tanamkan oleh kedua orangtuanya sejak ia masih kecil, yaitu kejujuran. Kejujurannya yang tinggi membuat Salim disenangi banyak orang, hingga ada seorang kaya di desa itu yang ikhlas membiayai sekolahnya hingga tamat SMA. Setelah tamat SMA Salim memutuskan untuk tetap tinggal di desa menemani kedua orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitnan.
       Siang itu Salim duduk di pinggir sungai memandangi kambing-kambingnya yang sedang merumput, sesekali ia memandang air sungai yang mengalir dengan tenang. Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di hulu sungai. Setelah ia amati ternyata buah durian sebesar kepala mengapung terbawa arus.
       “Wow! Durian!...” Salim langsung menceburkan diri ke sungai untuk mendapatkan buah itu.
       Dibukanya durian itu, lalu ia melahapnya dengan nikmat. “Hmm, enak…pasti baru jatuh dari pohon”
       Dalam waktu singkat durian itu hanya tinggal biji dan kulitnya. Salim kekenyangan, ia merebahkan tubuhnya di hamparan rumput.
       Tiba-tiba ia terngiang oleh ajaran orangtuanya,”Salim, Jangan sekali-kali kamu makan sesuatu yang bukan hakmu. Itu haram! Makanan haram yang kamu makan kelak di akhirat akan menjadi api yang membakar perutmu…” Salim terhenyak sambil memegangi perutnya. Naluri kejujurannya membuat ia gelisah,”Waduh, bagaimana kalau durian tadi ada yang punya?”
       “Ah, aku kan tidak mencuri, aku hanya menemukan durian hanyut yang mungkin sudah direlakan oleh pemiliknya”
       “Tapi, bagaimana seandainya pemilik durian tidak rela? Celakalah aku! Perutku akan dibakar api! Oooh…gara-gara sebuah durian membuatku menderita di akhirat. Tidak! Aku tidak boleh tinggal diam. Akan kucari siapa pemilik durian itu. Aku akan memohon agar ia mau merelakan buah durian yang telah aku makan.”
       Salim segera menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Ia menceritakan kejadian itu pada orang tuanya serta memohon ijin. Setelah itu ia berjalan menelusuri sungai. Matanya mencari-cari siapa tahu ada pohon durian yang tumbuh di pinggir sungai. Setelah sekian lama berjalan barulah Salim menemukan apa yang ia cari, sebuah kebun yang ditumbuhi pohon-pohon durian dengan buahnya yang lebat.
       “Assalamu ‘alaikum” sapa Salim kepada seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyapu di dalam kebun durian.
       “Wa’alikumussalam….” Jawabnya.
       “Apakah Bapak yang memiliki kebun ini?”
       “Betul, namaku Haji Abdulloh pemilik kebun di sekitar sini. Kamu siapa?”
       “Saya Salim dari desa sebelah….” Ia pun menceritakan kejadian yang berawal dari ketika ia menemukan durian hanyut di sungai sampai perasaan berdosa yang menghantuinya, hingga mendorongnya untuk mencari pemilik durian itu dan memohon kerelaan atas durian yang telah ia makan. Haji Abdulloh manggut-manggut mendengar penuturan Salim dari awal hingga akhir. Ia salut akan kejujuran Salim. Dalam hati ia berkata, 
       “Hmm baru kali ini aku melihat seorang pemuda yang benar-benar jujur dan amanah. Sampai sejauh ini berjalan kaki, hanya untuk memohon kerelaanku atas durian yang ia temukan di sungai dan telah habis ia makan. Sebetulnya aku sudah merelakan semua buah-buahan di kebunku yang jatuh dari pohon untuk diambil siapapun. Apalagi sudah hanyut di sungai. Tapi baiklah, aku ingin menguji sampai dimana kejujuran dan kesungguhan dia untuk meminta kerelaanku”
       “Salim, kalau memang kamu ingin mendapatkan kerelaan dariku, aku bersedia mengikhlaskan buah durian yang telah kamu makan tetapi setelah kamu melaksanakan syarat yang kuberikan.”
       “Seberat apapun syaratnya, Insya Alloh saya sanggup melaksanakan, yang penting di akhirot kelak perut saya tidak dibakar api.”
       “Baiklah, kamu harus membantu saya bekerja disawah dan merawat kebun ini selama satu tahun. Bagaimana?”
       “Saya menerima syarat itu”
       Keesokan harinya Salim mulai bekerja membantu Haji Abdulloh. Selesai sholat subuh ia sudah berangkat ke kebun Haji Abdulloh. Semua pekerjaan ia lakukan dengan rajin, tekun dan penuh semangat seolah tidak mengenal capek. Ia hanya beristirahat untuk sholat dan makan siang, lepas maghrib barulah ia pulang. Kebun Haji Abdulloh terawat dengan baik. Salim tidak menyadari bahwa diam-diam Haji Abdulloh selalu memperhatikan saat ia bekerja. Ia kagum dengan kesungguhan salim dalam melaksanakan syarat yang diberikannya, kerjanya keras, rajin dan tidak pernah mengeluh sedikitpun.
       “Tidak seperti umumnya pemuda jaman sekarang, senang tidur, berfoya-foya, hura-hura tapi malas bekerja. Mereka hanya menyusahkan orang tua, minta uang seenaknya. Salim memang lain…”
       Waktu berjalan begitu cepat, setahun sudah Salim mengabdi pada Haji Abdulloh. Namun Salim berniat ingin menambah pengabdian sebulan lagi sebagai tanda syukurnya bahwa durian yang ia makan tahun lalu, akan mendapat ridho pemiliknya. Selama bekerja pada Haji Abdulloh, Salim telah meninggalkan kesan baik yang tidak bisa dilupakan olehnya.
       “Kalau saja Salim mau, aku ingin ia tetap tinggal bersamaku selamanya…”
       Haji Abdulloh tidak bisa memungkiri dirinya bahwa ia telah terpikat oleh kebaikan budi pekerti dan kejujuran Salim. Ia memutuskan untuk menjadikan Salim menantunya. Istri Haji Abdulloh pun setuju. Namun sekali lagi Haji  Abdulloh  ingin menguji kejujuran dan ketulusan hati Salim.
       Suatu sore ia memanggil Salim, “Salim, aku menyaksikan bahwa kamu telah sungguh-sungguh melaksanakan syarat yang kuberikan selama satu tahun bahkan kamu menambahkan lagi selama satu bulan. Namun aku belum sepenuhnya merelahkan durian itu sebelum kamu melaksanakan satu syarat lagi”
       “Pak Haji, saya sudah bertekad bahwa apapun syarat yang Pak haji berikan Insya Alloh akan saya terima demi mendapat keridhoan dari Pak haji, sehingga di akhirot kelak perut saya tidak dibakar oleh Alloh”
       “Baiklah, syarat berikutnya adalah kamu harus menikahi putriku yang sekarang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Tapi kamu harus tahu bahwa putriku itu buta matanya, tuli dan bisu. Bagaimana?”
       “Kalau memang dengan cara begitu Pak Haji bisa ridho, Insya Alloh akan saya jalani”
       Akhirnya pada saat yang ditentukan, pernikahan antara Salim dengan putri Haji Abdulloh dilaksanakan. Para undangan memadati ruang tamu. Acara pernikahan pun berlangsung tertib dan khidmat dengan menggunakan adat Betawi. Wajah mempelai wanita tertutup rapat dengan pakaian adat. Selama prosesi dilakukan dengan menggunakan isyarat karena diketahui bahwa mempelai wanita kondisinya buta, bisu dan tuli.
       Di malam pengantin, jantung Salim berebar kencang. Para tamu sudah pulang, Pak Haji dan istrinya terlelap karena kecapekan. Kini, didalam kamar pengantin hanya tinggal Salim dan putri pak haji, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dengan berdebar-debar ia mendekati istrinya, ia telah mempersiapkan mental untuk bisa menerima istri yang cacat. Dengan lembut ia membuka penutup wajah istrinya, Lalu….
       “Haah??...” Salim terpengaruh demi melihat seorang gadis berparas cantik di depannya, mata bersinar dengan bulu mata yang lentik…..
       “Assalamu ‘alaikum suamiku. Alloh telah memilihku untuk menjadi istrimu. Aku siap melayanimu….”
       Seorang Salim yang jujur dan amanah bukan malah gembira melihat keadaan ini. Ia takut. Jangankan menyentuh, mendekatpun tidak berani. Pikirannya berkecamuk.
       “Kenapa bisa begini? Istriku kan buta, bisu dan tuli. Dan dia memang cantik dan sempurna tapi aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak mau berzina. Dia bukan istriku, siapa dia? Mengapa berada dikamarku? Dimana istriku yang sebenarnya?”
       Salim menghambur keluar menuju teras rumah. Ia memikirkan kejadian yang baru dialaminya, lalu ia tertidur sampai terdengar Adzan subuh. Ketika pak haji membuka pintu untuk sholat subuh di masjid ia terkejut demi melihat Salim meringkuk di atas kursi.
       “Salim, bangun. Salim…”
       “Oaaaahm, i-iya pak,” dengan mata yang masih mengantuk ia menceritakan kejadian semalam.
       “Saya tidak mengerti, kenapa semalam istri saya yang buta, bisu dan tuli tidak ada di kamar, yang ada hanya seorang perempuan cantik yang berusaha menggoda saya. Ini tidak lucu”
       Haji Abdulloh tersenyum, ia bangga dengan kesucian hati Salim,”Fatimah! Kemarilah….”
       Gadis cantik yang ditemuinya semalam muncul di hadapan Salim.
       “Salim. Fatimah adalah anak gadisku satu-satunya. Dialah istrimu sebenarnya. Adapun aku mengatakan ia buta, bisu dan tuli hanyalah sekedar kiasan. Selama ini putriku tinggal di pondok pesantren, ia buta dari hiburan-hiburan televisi dengan acara yang mengarah pada kemaksiatan, kemusyrikan dan kesesatan. Bisu dari pembicaraan jelek, mencela, menghujat dan menfitnah. Dan ia tuli dari pendengaran yang maksiyat, fitnah dan nyanyian-nyanyian syirik. Setiap hari ia hanya mendengar ayat-ayat Alloh. Dia adalah Fatimah. Berbahagialah anakku. Fatimah, Insya Alloh engkau akan menjadi seorang istri yang sholihat. Dan kau Salim, Insya Alloh engkau akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab. Semoga Alloh menjadikan kalian keluarga yang sakinah.”

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution