Senin, 16 September 2013

Perlunya Kita Menampar Diri Sendiri

Hal-hal Yang Membuat Anda Wajib Menampar Diri Sendiri

Terjebak dalam stagnasi dan pemikiran diri sendiri terkadang menjerumuskan kita dalam kemunduran. 

Mari mencela diri sendiri
The highest form of ignorance is to reject something you know nothing about.

Sebut saja, saya dan Anda sedang bermain dalam lakon cerita "serba sok tahu". Tidak tahu dengan Anda, tapi setiap akhir pekan saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati semilir angin di balkon rumah atau pelataran teras. Gesekan daun-daun yang tertiup angin, burung-burung yang entah mengapa begitu asyik saling berkicau bersahutan satu sama lain adalah kenikmatan tersendiri bagi saya. Di waktu itulah biasanya saya menuangkan buah pikiran saya sendiri yang jauh dari kesibukan saya mengisi artikel-artikel dalam website ini. Minggu lalu saya cuap-cuap soal bagaimana seseorang harus mencintai kegagalannya sendiri, lain lagi akhir pekan kali ini. Bukan mendapat inspirasi dari keluarga, teman, sahabat, atau berita di media massa, tapi kali ini saya mencoba mengilhami diri saya sendiri untuk berkaca. 

Jika boleh kembali bersikap sok tahu, dalam tutur bahasa saya mungkin stagnasi adalah kata yang tepat. Ya, situasi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti suatu keadaan yang terhenti. Menjabarkan stagnasi dalam diri saya sendiri berarti menguak kejujuran yang memang akan sulit dilakukan. Tapi saya pun memang sedang merasakan hal itu, seolah saya sedang terjebak dalam keadaan yang seharusnya maju tapi rupanya kemacetan menghambat di depan mata. Anda pun mungkin pernah atau sering mengalami hal yang sedang saya rasakan ini. Ada yang bilang ini adalah rasa jenuh, tapi ada juga yang berkilah ini akibat tidak mensyukuri apa yang sudah saya miliki saat ini.

Begitu banyak kejadian yang mewarnai kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya seminggu belakangan ini. Mulai dari kasus anak di bawah umur yang terlibat kecelakaan fatal, dagelan masyarakat yang memperolok seseorang entah siapa tiba-tiba muncul dengan gaya bahasa Inggrisnya yang ajaib, sampai kita lupa, Rupiah carut-marut dilibas mata uang asing. Jujur, saya pun dibuat lupa dengan hal-hal yang sebetulnya lebih urgent untuk saya pikirkan karena terdistraksi oleh hal-hal tadi, bagaimana dengan Anda sendiri? Teman saya di kantor berkelakar biarlah wajah si Mr. X itu mondar-mandir dalam Path sebagai hiburan untuk membunuh kejenuhan. Tapi dalam hati saya berkelakar balik, bukan dia yang harus ditertawakan, tapi diri saya sendiri. Saya menertawakan diri sendiri yang terjebak dalam situasi berhenti mendadak yang saya pun tidak tahu penyebabnya apa.

Lantas saya mencoba menelaah sendiri apa yang sebetulnya sedang saya hadapi. Kemungkinannya dua, entah saya sedang tidak berpijak di Bumi, atau terlalu menikmati comfort zone saya saat ini. Sudah lelah rasanya saya menceritakan apa yang saya rasakan pada orang-orang, karena dalam kesendirian toh saya kembali berpaling dalam kebuntuan yang tetap memerangkap saya. 

The sky has no limit

Dengan jujur saya katakan mungkin inilah kesalahan pertama yang menjebak saya. Saya mungkin terlalu sering menatap langit hingga lupa jika saya berdiri di atas tanah. Idiom tadi memang baik untuk memacu siapa pun yang ingin meraih cita-citanya, tapi tidak untuk selamanya. Jika Anda begitu terpukau untuk selalu menatap ke atas, maka saat itulah Anda wajib untuk menampar diri sendiri. Maksudnya? Apalagi jika bukan untuk membuat Anda sadar, menatap lurus ke depan dan sesekali melihat ke bawah akan mengembalikan kemanusiaan seseorang. Berkata don't dream and hope too much itu terkadang baik jika Anda terlanjur overdosis dengan segala hal yang sifatnya di atas sementara Anda terlalu jauh untuk menggapainya. Menyadarkan diri sendiri itu lebih berharga sebelum orang lain yang menampar Anda, literally...

The truth is incontrovertible

Fakta itu sifatnya manipulatif, tapi kebenaran akan lebih pahit rasanya. Setidaknya itu yang saya rasakan beberapa waktu belakangan ini. Masalah yang saya hadapi memang secara garis besar berhubungan dengan rasa penerimaan saya pada suatu kebenaran, yang mana kebenaran itu tidak sesuai dengan yang saya harapkan. 

Contohnya saja, soal finansial, kebenaran yang harus saya terima adalah keborosan nyaris membuat saya jatuh dalam kebangkrutan. Di sini pun saya harus menampar diri sendiri, mengapa tetap mempertahankan sisi impulsif dan cenderung melupakan masa depan. Tidak tahu dengan Anda, mungkin Anda masih menikmati kegalauan setelah putus dengan kekasih tercinta? Coba tampar diri Anda, supaya mata Anda terbuka kalau life must go on. Bosan dengan kata-kata itu? Terserah. Tidak ada kata berhenti sebetulnya di dunia ini, kecuali kita sendiri yang membuatnya menjadi stagnan atau... takdir Tuhan memanggil kita kembali dalam pangkuanNya. 

Arrogance has nothing to do with greatness

Siapa yang setuju dengan ungkapan di atas? No one. Bahkan ada seorang teman saya yang tetap percaya sifat arogan bisa menyelamatkan kehidupannya dalam menghadapi segala tantangan. Sounds true, maybe yes, maybe no. Saya pun tidak memungkiri jika saya memiliki kadar arogan dalam diri yang terbilang "cukup mengkhawatirkan", di luar apa karena ini pengaruh latar belakang keluarga, tapi saya menyadari sisi arogan saya beberapa kali justru mengundang protes dari orang-orang terdekat. "Loe kenapa sih kadang belagu banget, cara loe ngelihat orang itu somehow kayak ngerendahin, please stop it!". Namanya dikritik, pasti yang keluar adalah bantahan. Wajar bukan? Tapi lama-lama saya merenung jika sifat arogan yang mengendap dalam diri saya itu tidak akan menghasilkan apapun. Saya manusia, orang lain pun manusia. Saya makan nasi, orang-orang di sekeliling saya pun juga makan nasi. Untuk apa menyombongkan diri, kecuali saya makanan saya itu emas atau batu permata. Satu yang saya sadari, arogansi sama sekali tidak akan memberikan keberuntungan apapun bagi diri ini. Mari menampar diri lagi untuk yang satu ini! 

Tiga hal tadi setidaknya dapat memberi kesadaran tersendiri bagi diri saya. Jika Anda mempunyai sederet pemikiran lain yang dapat membuka mata Anda, silakan saja. Tapi celotehan ini bukan gurauan, memang faktanya bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Di titik terakhirnya, semuanya kembali pada individu masing-masing, karena tentu saja perspektif saya ini mungkin berbeda dengan Anda. Secara garis besar, apa yang saya maksud dengan menampar diri sendiri itu semata-mata demi kebaikan.  

Saya percaya, rasa sakit akan mendatangkan kesembuhan, dan rasa kecewa akan memberi kelapangan jiwa pada akhirnya...




0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution