Selasa, 22 Januari 2013

Hasan dan Nazulah yang Durhaka

Tempurung Buat Ibu Dan Bapak

Tadinya mereka tidak terlalu rusuh dengan kehadiran ibu tua itu. Sebagai seorang anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup terpisah semenjak bapak Hasan meninggal. Istrinya juga tidak keberatan, apalagi perempuan itu merasakan sangat besar kegunaan mertuanya di rumah. Ibu itu masih bisa membantu-bantu pekerjaan rumah tangganya sehingga tertolong sedikit meskipun dia tidak punya pembantu.


Namun semenjak hamilnya makin besar dan dilihatnya si ibu mertua tambah mendecing-decing batuknya, dadanya kian kempis dan pernah memuntahkan darah, Nazulah mulai bingung. Kalau ibu yang sakit paru-paru itu tidak segera diungsikan,maka iakhawatir penyakitnya akan menular dan membahayakan anaknya yang akan lahir.

Maka, setelah merasa hampir dekat melahirkan, Nazulah berkata kepada suaminya, “Bang, sakit Ibu ternyata penyakit yang menular. Jadi kita harus mencarikan jalan supaya anak kita nanti jangan bergaul dengannya.”

“Hasan kaget mendengar bicara istrinya ini. “Maksudmu?”
“Kita harus berpisah dari Ibu,” jawab Nazulah.
Hasan termenung mendengar permintaan istrinya. Sebetulnya ia merasa berat terhadap ibunya. Namun, karena Nazulah mendesak terus dan ia menganggap alas an istrinya cukup kuat, terutama demi anak mereka, maka Hasan membuat gubuk kecil di pekarangan belakang rumah. Dengan perasaan yang masygul ia menyuruh ibunya pindah, tinggal di gubuk itu.

Ibu itu adalah seorang mertua dan nenek yang baik. Ia tahu diri. Ia menganggap umurnya adalah sisa-sisa kesenangan hidup yang pernah dinikmatinya. Maka tanpa sedih sedikit pun ia pindah ke gubuk itu. Mula-mula segala kebutuhan perempuan itu masih diperhatikan sekali. Namun, sesudah anak mereka makin besar, Hasan dan istrinya hanya mengingat Maqbulah, anaknya. Seluruh perhatiannya Cuma ditumpahkan kepada anak yang manis dan pintar itu. Sampai nasib ibu tua yang di gubuk itu sering terlantar. Piring dan gelas buat makan atau minumnya sudah lama pecah, tapi Nazulah lupa menggantinya dengan yang lain. Sehingga untuk makan dan minumnya si nenek terpaksa mencari tempurung kelapa.

Adapun Nazulah sama sekali melarang anaknya dekat-dekat dengan gubuk yang terdapat di belakang rumah. Dalam usia tiga tahun itu, Maqbulah tidak yahu bahwa yang tinggal di gubuk tersebut adalah neneknya sendiri. Seba ia akan dimarahi oleh bapak dan ibunya kalau bermain main mendekati tempat itu. Namun, pada suatu hari Maqbulah berhasil menyelonong ke sana, karena kebetulan hari itu bapak dan ibunya tidak di rumah. Dengan mengendap-endap ia mengintip melalui lubang pintu. Dilihatnya ada seorang perempuan tua sedang duduk di atas dipan rombeng. Rambutnya sudah putih semua dan badannya bungkuk.
Dasar Maqbulah seorang anak yang berani, menyaksikan pemandangan itu bukannya takut, malah dia gembira. Dengan mulutnya yang kecil itu ia memanggil-manggil.

“Nek, nenek tua, bukakan pintu, Nek.”
Alangkah gembiranya wajah nenek itu di dalam gubuknya. Tiba-tiba darah segar membesit memerahkan warna mukanya. Matanya bersinar lantaran suara itulah yang selama ini di rindukannya. Sambil terseok-seok ia berjalan ke pintu, lantas di bukanya.
“Siapa kamu, Nak?” tanya nenek itu.
“Bulah,” jawab si gadis cilik.
“Oh, cucuku. Dimana bapak dan ibumu?”
“Pergi,” sahut Maqbulah.
“Pergi kemana?” tanya si nenek tambah gembira.
“Jauh,” jawab Maqbulah. “Saya ingin masuk, Nek.”

Betapa bahagianya nenek itu dapat menggandeng cucunya memasuki gubuk tersebut. Hingga tengah hari Maqbulah bermain-main di situ. Rupanya anak kecil itu haus. Ia merengek kepada neneknya, “Nek, minum.”
Si nenek mengambil tempurung kelapa. “Nenek tidak punya gelas. Nenek hanya punya itu buat minum.”
Gadis cilik itu heran. “Memang nenek ini siapa sih, tidak punya gelas?”
“Aku adalah nenekmu, ibu dari bapakmu.”
“Kenapa tidak punya gelas?”
“Orang tua tidak boleh pakai gelas.”

Demikianlah, ketika sudah puas bermain-main di situ, Maqbulah permisi pulang. Untung waktu itu Hasan dan istrinya belum kembali. Jika sudah, pastilah si nenek yang akan di marahi. Peristiwa itu sudah dua hari terjadi tatkala mereka bertiga berjalan-jalan melihat kota.

Pada suatu tempat di pinggir jalan, ada selokan kotor. Di dalam selokan tersebut ada sebuah tempurung kelapa yang tersangkut di pinggir. Melihat tempurung ini Maqbulah memaksa-maksa minta diambilkan. Setelah Hasan mengambil tempurung itu dan dibersihkannya, Nazulah bertanya kepada anaknya, “Buat apa Bulah meminta tempurung?”

Tanpa berpikir si cilik menjawab, “Bakal tempat minum Ibu kalau Ibu sudah tua.”
Terkejut Hasan dan istrinya mendengar jawaban ini. Mereka bertanya, “Mengapa begitu?”
Maqbulah menjawab, “Nenek Bulah yang tinggal di gubuk itu juga di kasih makan dan minum pakai tempurung. Entar kalau Bulah sudah besar dan Ibu sudah tua, Bulah akan kasih tempurung buat Ibu dan dibikinkan gubuk jelek buat ibu.”

Mendengar jawaban ini sadarlah Hasan dan Nazulah akan kelakuan mereka. Tiba-tiba mereka takut akan anacaman Tuhan bagi anak-anak yang durhaka. Maka semenjak itu berubahlah sikap mereka terhadap orang tuanya. Diajaknya nenek itu berkumpul kembali bersama mereka di dalam rumah yang terhormat, sambil diberi perawatan dan pengobatan agar penyakitnya sembuh.

Dengan demikian terhindarlah keluarga itu dari malapetaka di belakang hari kalau sampai mereka tidak berhenti dari perlakuan durhaka terhadap orang tua sendiri. Dan yang menyadarkan mereka justru seorang anak kecil yang manis, sebab anak kecil ini telah dididik dengan akhlak yang baik sesuai dengan ajaran agama. Berarti agamalah sebetulnya penyelamat yang pasti bagi kehidupan agar senantiasa sejatera. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution