Selasa, 27 November 2012

Tanpa Ikhlas Amal Seseorang Akan Sia-sia

Ikhlas Dalam Ilmu Tasawuf

Kehidupan yang Allah ciptakan tidak lebih sebenarnya untuk menguji siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik amalannya. Beramal adalah inti dari eksistensi (keberadaan) manusia di  dunia karena tanpa amal otomatis manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Sebagaimana di awal surah Al-Mulk ayat ke-2 Allah berfirman:

 
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَّهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

Artinya:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Akan tetapi, realitanya tidak cukup beramal saja, karena Allah akan menghitung  segala amal yang kita lakukan dari niat dan keikhlasannya. Tanpa ikhlas amal seseorang akan sia-sia dan tidak berguna di hadapan Allah SWT. Dalam menafsirkan ayat diatas, Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan  tanpa keikhlasan, amalnya seseorang akan sia-sia tidak bernilai.

Secara bahasa, Ikhlas artinya membersihkan (bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri). Adapun secara istilah[2] yaitu: membersihkan hati supaya menuju kepada Allah semata, dengan kata lain dalam beribadah hati tidak boleh menuju kepada selain Allah.

Dari definisi diatas, ikhlas merupakan kesucian hati dalam beribadah atau beramal untuk menuju kepada Allah. Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah. Dengan satu pengertian, ikhlas berarti ketulusan niat untuk berbuat hanya karena Allah.

Seseorang dikatakan memiliki sifat ikhlas apabila dalam melakukan perbuatan ia selalu didorong oleh niat untuk berbakti kepada Allah dan bentuk perbuatan itu sendiri dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya menurut hukum syariah. Sifat seperti ini senantiasa terwujud baik dalam dimensi fikiran ataupun perbuatan.

Rukun Ikhlas dalam beribadah terdiri dalam 2 bagian[3],yaitu:

1.     Hatinya hanya menuju kepada Allah, tiada tujuan kecuali hanya Allah saja.

2.     Secara zahirnya dalam beribadah mengikuti aturan qaidah fiqhiyah (sesuai dengan syariat Islam), bahwa tidak akan di terima amalnya seseorang apabila sesuatu yang ia amalkan telah menyalahi ajaran-Nya. 

Karena dalam sebuah hadith di sebutkan bahwa:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ الْعَمَلَ إِلاَّ طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu bagus, dan tidak akan diterima kecuali amalan-amalan yang bagus”.

Seseorang dalam beramal, apabila tidak memenuhi ke-2 rukun diatas, sebaik apapun amalannya tetapi sesuatu yang ia amalkan itu tidak benar dan tidak sesuai dengan syariat Islam, maka Allah tidak akan menerima amalannya, seperti yang dikatakan oleh Para Ulama:

لاَ يَقْبَلُ الْعَمَلَ إِلاَّ خَالِصًا صَوَابًا

“Tidak akan diterima amalan seseorang melainkan ia-nya Ikhlas dan benar sesuai syari’ah”.
Lebih jauh, dalam prakteknya; sebuah amalan yang kita lakukan tidak dikatakan sempurna melainkan dengan dilandasi niat yang kuat, lisan kita melafazkan secara zahir, kemudian diikuti dengan perbuatan yang sesuai dengan aturan syariat Islam. Sebagaimana Syeh Ahmad Rifai menguraikan dalam kitab Riayah Akhir[4], para ulama mengatakan:

وَالنِّيَّةُ وَالْقَوْلُ ثُمَّ الْعَمَلُ بِغَيْرِ وَفْقِ سُنَّةٍ لاَ تَكْمُلُ

Sejalan dengan isyarat Al-Quran surat Al-Bayyinah ayat 5, yaitu:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَالِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ

Artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[5], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.

Demikian juga dijelaskan dalam awal ayat ke-36 pada surah An-Nisa’ :

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا

Artinya:
“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”.

Untuk itu, supaya amalan kita diterima oleh Allah dan tidak sia-sia, alangkah lebih baiknya kita coba fahami sifat-sifat apa sajakah yang membedakan kita dalam melakukan ibadah, dengan satu tujuan supaya kita lebih jauh mengetahui kualitas seseorang dalam beramal sholih.

Sifat Ikhlas dibagi dalam 3 macam[6]:

1.     Ikhlas Awam, yaitu: Dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan rasa takut terhadap siksa Allah dan masih mengharapkan pahala.

2.     Ikhlas Khawas, yaitu: Beribadah kepada Allah karena didorong dengan harapan supaya menjadi orang yang dekat dengan Allah, dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan sesuatu dari Allah SWT.

3.     Ikhlas Khawas al-Khawas adalah: Beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Allah-lah Tuhan yang sebenar-benarnya.

Dari penjelasan diatas, ikhlas tingkatan yang pertama dan kedua masih mengandung unsur pamrih (mengharap) balasan dari Allah, sementara tingkatan yang ketiga adalah ikhlas yang benar-benar tulus dan murni karena tidak mengharapkan sesuatu apapun  dari Allah kecuali ridla-Nya, tingkatan ini hanya di miliki oleh orang-orang yang arif bi Allah.[7]

Imam Al-Ghazali mengatakan:

هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعُلَمَاءْ , وَهَلَكَ الْعُلَمَاء كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعَامِلِيْنَ ,
وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْمُخْلِصِيْنَ , وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلىَ خَطْرٍ عَظِيْمٍ

Artinya:
”Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.

Dalam hal ini, hanya orang-orang yang ikhlas beramal yang akan mendapat keutamaan dan keberkahan yang sangat besar, karena hanya orang yang mukhlis nantinya yang akan meraih keberuntungan yang besar di hari kiamat, yaitu syurga Allah yang penuh dengan kenikmatan, meskipun dia harus banyak bersabar terlebih dahulu ketika di dunia, seperti yang telah dijamin oleh Allah dalam firman-Nya[8]:

إِلاَّ عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِيْنَ (40) أُولَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌ (41)
فَوَاكِهُ وَهُمْ مُّكْرَمُوْنَ (42) فِى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ (43)

40. Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
41. Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu,
42.Yaitu buah-buahan. dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,
43. Di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat.

Ayat ini merupakan salah satu diantara jaminan yang disediakan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang mukhlis (Ikhlas). Jaminan lain yang Allah sediakan bagi mereka yang ikhlas dalam beramal bisa kita temukan dalam kisah perjalanan Nabi Yusuf AS, ketika beliau berhadapan dengan seorang wanita yang mengajaknya melakukan maksiyat. Allah akan senantiasa memelihara hamba-Nya yang mukhlis dari perbuatan keji dan maksiat, seperti dalam Surah Yusuf ayat 24 dijelaskan:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلاَ أَنْ رَّءَ ا بُرْهَانَ رَبِّهِ , كَذَالِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ , إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Artinya:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia(Yusuf) tidak melihat tanda (Dari) Tuhan-Nya[9]. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Dalam ayat lain, orang yang mukhlis juga mendapat jaminan akan terhindar dari godaan dan bujuk rayu syaitan. Syaitan sendiri dalam Surah Al-Hijr ayat 39-40 mengakui ketidakberdayaan dan kelemahan mereka dihadapan orang-orang yang beramal dengan ikhlas:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِىْ لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ (39)
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ (40)

Iblis berkata: “Ya Tuhanku oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis[10] di antara mereka”.

Dengan redaksi yang sama, ayat ini berulang dalam surah Shaad:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ (83)

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu  yang mukhlis di antara mereka.

Sungguh keikhlasan merupakan benteng yang paling kokoh yang tak tergoyahkan oleh apapun bentuk rayuan dan fitnah iblis beserta sekutunya. Semakin luas wilayah kerja (dakwah) seseorang, maka semakin diperlukan tingkat  keikhlasannya. Apalagi di tengah semakin beragam hambatan atau ujian keikhlasan yang menghadang, yang pada umumnya seperti yang dinyatakan oleh Syekh Hasan Al-Banna dalam Risalahnya, yaitu: Harta, kedudukan, popularitas, gelar, ingin selalu tampil di depan dan diberi penghargaan serta pujian.
Jika keikhlasan dituntut dari setiap orang yang beramal, maka Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menyatakan; keikhlasan bagi seorang da’i merupakan keniscayaan yang harus senantiasa menyertainya karena ia akan berhadapan dengan berbagai keadaan dan beragam manusia dalam perjalanan dakwahnya. Jika tidak, maka binasa dan sia-sialah amalnya. Bahkan sifat yang mendasar bagi seorang da’i yang harus selalu melekat dalam dirinya adalah ikhlas. Oleh karena itu, para ulama hadits menjadikan bab Niat berada di awal kitab hadits susunan mereka, agar karya tulis mereka selalu diawali dengan keikhlasan dan tidak luput dari sifat ini. Bisa dibayangkan para ulama yang merupakan teladan dalam beramal mencontohkan kita agar senantiasa mengukur setiap amal yang kita lakukan dengan ukuran ikhlas.
Para nabi sendiri dalam kapasitasnya sebagai da’i, beliau selalu meletakkan keikhlasan sebagai jargon dan prinsip dakwah mereka.
Sebagai contohnya Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 57 beliau mengemukakan tentang motifasinya dalam berdakwah:

قُلْ مَا أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلاَّ مَنْ شَاءَ أَنْ يَّتَّخِذَ إِلىَ رَبِّهِ سَبِيْلاُ

Artinya;
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan-Nya.
Masih dalam konteks yang sama dan dalam surah yang sama (Asy-Syu’araa’ mulai dari ayat 109, 127, 145, 164, 180),  secara berdampingan, seluruh nabi Allah menekankan prinsip keikhlasan dalam dakwah mereka yang ideal, mulai dari nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib AS:

وَمَا أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيِْنَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.

Inilah bangunan keikhlasan yang pernah ditunjukkan dan dicontohkan dalam dakwah para nabi Allah SWT, sehingga mereka meraih kesuksesan dan diabadikan namanya oleh Allah swt sebagai cerminan bagi para da’i sesudah mereka.

Rasulullah SAW bersabda tentang sifat yang mulia ini: “Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, serta dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“. (HR.Tirmidzi).

Dalam apapun keadaan, keikhlasan akan tetap menjadi modal, bekal sekaligus pengendalinya amal sholih, lebih-lebih dakwah sebagai puncak dari amal sholih. Karena semakin berat dan mulia sebuah tugas tentu semakin diperlukan keikhlasan. Semakin dewasa perjalanan dan pengalaman dakwah seseorang, maka semestinya semakin baik tingkat dan kualitas keikhlasannya. Keikhlasan juga merupakan salah satu dari dua pilar dan syarat diterimanya amal sholih, bahkan ia yang paling utama.

Untuk itu, dengan ikhlas, akan mencukupi amal yang sedikit seperti yang ditegaskan dalam sebuah riwayat Ad-Dailami:

أَخْلِصِ الْعَمَلَ يَجْزِيْكَ الْقَلِيْلُ مِنْهُ

“Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu lakukan”.

Agar ikhlas dapat terpelihara, tentu ada variabel yang melekat pada setiap amal yang kita lakukan, seperti: adanya variabel profesionalisme, kompetensi, itqan dan kesungguhan. Maka amalan yang cenderung apa adanya, ikut sesuka hati, asal jadi, serta amal yang tidak konsisten bisa jadi karena ketidak ikhlasan kita dalam menjalankan tugas tersebut. Ini tantangan terberat bagi kita sesungguhnya. Ikhlas inikah yang akan memperkuat potensi spritualitas kita. Lantas pertanyaan besar kita, “Apakah ruh dan motivasi yang menggerakkan roda amal kita selama ini ?

Shollallahu ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution