Selasa, 15 Januari 2013

Orang Kuat Adalah yang Mampu Menahan Marah

Jangan Marah

A. Orang Kuat ialah yang Mampu Menahan Marahnya
Ketika seseorang marah dan dia tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, maka terkadang refleks keluar dari mulutnya kata-kata yang menghinakan. Baik berupa cacian, perkataan kotor, bahkan dia bisa saja berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya dan orang lain. Karena sesungguhnya nafsu amarah itu mendorong orang untuk melakukan perbuatan yang buruk dan tercela.


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Orang kuat itu bukanlah orang yang dapat bergulat. Tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan nafsunya ketika sedang marah.” (Mutafaq’alaih) [1]

B. Wasiat Nabi saw. Pada Seorang Lelaki
Diantara wasiat Rasul saw kepada umatnya adalah agar mampu menahan amarahnya, bahkan kalau bisa jangan sampai marah. Karena kalau seseorang sudah berada di luar kontrol akalnya karena tidak mampu menguasai marahnya, maka akan sangat berpengaruh besar terhadap ucapan dan perbuatannya.

Wasiat Nabi saw tentang larangan marah ini disampaikan agar kita mampu mengontrol diri kita. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi saw, “Berilah saya nasihat.” Beliau bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari) [2]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

C. Nasihat Nabi saw. Dalam Mengatasi Marah
Apabila seseorang marah, maka Nabi saw memberikan tips buat kita untuk megatasi marah yang membara dalam diri kita. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad)

Ini merupakan langkah yang paling baik untuk ditempuh jika seseorang marah, dan apabila masih belum juga hilang maka ambillah air wudlu lalu shalatlah, karena marah itu ibarat api, dan padamnya api tidak lain adalah dengan air.

D. Surga Buat Orang yang Mampu Menahan Amarahnya
Dibalik anjuran Rasul agar jangan marah, tentu ada hikmah yang sangat besar yang terkandung di dalamnya. Karena orang yang mampu menahan amarahnya dan tidak menumpahkannya demi melampiaskan keinginan hawa nafsunya, maka balasan bagi dirinya adalah surga.

Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah saw dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau saw bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thabrani)

E. Allah Menahan Azab Buat Orang yang Menahan Amarahnya
Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi saw., yang bersumber dari dari Anas ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa mampu menahan amarahnya, Allah Akan menahan azab-Nya dari dirinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath) [3]

Perlu digaris bawahi, bahwa bukanlah maksud Nabi saw melarang memiliki rasa marah. Karena pada dasarnya rasa marah itu merupakan bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika rasa marah itu muncul. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik bagi dirimu dan orang lain.

Sesungguhnya kemarahan merupakan bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itu, perhatikanlah kalau orang sedang marah. Kita akan melihat kedua matanya menjadi merah, dan urat lehernya menonjol serta menegang. Bahkan terkadang rambutnya pun ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Bahkan hal-hal lain yang tidak terpuji dapat timbul mengikuti di belakangnya. Hal ini akan mengakibatkan pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan ketika dia marah.

Wallahu’alam
---------------------------------------------
[1] Lihat, Terjemahan Lengkap Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqolani, Terbitan AKBARMEDIA, Bab. Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak yang Buruk. (Best Seller)
[2] Ibid
[3] Ibid

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution