Jumat, 28 Agustus 2015

Bersikaplah Santun

Santun 

Para salaf sepakat bahwa kedudukan yang tinggi hanya bisa dicapai dengan etika yang semakin baik.

Para salaf shalih senantiasa bersikap santun kepada yang kecil, sebagaimana kepada yang besar. Santun kepada yang jauh, sebagaimana kepada yang dekat. Demikian juga mereka bersikap santun kepada yang bodoh, sebagaimana mereka bersikap santun kepada yang pintar.


Allah Ta`ala berfirman kepada Musa dan Harun a.s., “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut”, padahal Fir’aun adalah seorang kafir yang paling fasik.

Para salaf sepakat bahwa kedudukan yang tinggi hanya bisa dicapai dengan etika yang semakin baik. Dan pokok kesantunan ini adalah memperhatikan kekurangan diri serta melihat kesempurnaan pada orang lain, kebalikan dari orang yang tidak santun. Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tidak menyukai orang yang memandang sebelah mata kepada yang lain.

Jika menghadiri suatu walimah, Maimun ibnu Mahran lebih suka duduk bersama anak-anak dan orang-orang miskin, serta menjauhi orang-orang kaya.

Sa`id ibnu `Amir berkata, “Barangsiapa menyifati seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, malaikat akan melaknatnya.” Suatu hari, seseorang berkata kepada Sa`id ibnu `Amir, dan ia tidak tahu siapa Sa`id, “Hai botak!” Said berkata kepadanya, “Wahai saudaraku! Dengan berkata seperti itu, tentu engkau tidak menginginkan Malaikat melaknatmu.”

‘Ali ibnu Abi Thalib berkata, “Orang yang paling mengetahui Allah Ta`ala adalah orang yang paling menghormati ahli La ilaha illallah.”

Bakr ibnu `Abdullah al-Mazni berkata, “Jika engkau melihat orang yang berusia lebih tua darimu, hormatilah ia dan katakanlah dalam dirimu, `Sungguh ia telah mendahuluiku dalam Islam dan amal saleh.’ Dan, jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, hormatilah ia dan katakanlah dalam dirimu, ‘Sungguh aku telah mendahuluinya melakukan berbagai dosa.’ Jika orang-orang memuliakanmu, katakanlah, `Ini adalah karunia dari Allah Ta`ala atas diriku, aku tidak berhak atas pemuliaan itu.’ Dan jika mereka merendahkanmu, katakanlah, `Semua ini karena dosa yang telah kulakukan.’ Jika engkau melempar anjing tetanggamu dengan kerikil, berarti engkau telah menyakitinya.”

Wahb ibnu Munahbih berkata, “Ketika Bani Israil menambah lebih banyak persoalan kepada Musa a.s. dan mereka membuatnya bosan, maka dalam sehari Allah Ta`ala menurunkan wahyu kepada seribu Nabi, agar mereka menolong dan menghormati Musa. Namun orang-orang malah bergabung dengan mereka, dan Musa mendapati kecemburuan dalam dirinya, maka Allah Ta`ala pun mematikan mereka semua dalam satu hari itu.” Kecemburuan para Nabi a.s. itu terpuji, karena dengan ishmah (keterjagaan) mereka terjaga dari nafsu. Dan Allah Ta`ala mematikan para Nabi tersebut bukan sebagai siksaan bagi mereka, melainkan karena dalam ilmu-Nya. Ajal mereka telah sampai setelah menolong Musa a.s.

Muhammad Ibnu Wasi` berkata, “Seorang hamba tidak akan mampu mencapai maqam ihsan sebelum ia bersikap baik kepada setiap orang yang menemaninya, walaupun hanya sesaat.” Jika ibnu Wasi` menjual seekor domba, dengan domba itu ia berwasiat kepada pembelinya. Ia berkata, “Pada domba ini ada makna persahabatan.”

Hatim al-Ashamm berkata, “Akhlak manusia sangat minim dalam tiga hal berikut: menghormati perilaku saudara (sesama Muslim), menutupi aib mereka, dan ikut menanggung derita mereka.”

Yahya ibnu Mu`adz berkata, “Masyarakat Mukmin yang paling jelek adalah masyarakat yang jika salah seorang di antara mereka kaya, mereka memujinya. Dan jika ia jatuh miskin, mereka menghinanya. Hukuman bagi orang yang berjalan di depan orang yang lebih tua adalah tercegah dari berbagai kebaikan.”

Barangsiapa mendambakan naungan Allah Ta`ala di hari kiamat nanti dari neraka Jahannam, ia mesti mengasihi orang Mukmin dan berhati lembut.  

Banyak orang memuji seseorang di hadapan Fudhail ibnu `Iyadh: “Sungguh orang ini tidak pernah makan khabish (campuran halal dan haram).” Fudhail berkata, “Tidak, ia tidak pernah meninggalkan makan khabish. Lihatlah oleh kalian bagaimana silaturahminya, lihatlah bagaimana ia membendung ladangnya, bagaimana belas kasihnya kepada tetangga, para janda, dan anak yatim, dan lihatlah bagaimana akhlaknya terhadap saudara-saudaranya.”

Ahmad ibnu Harb berkata, “Orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan membimbing mereka kepada kebaikan, bagaikan orang yang mengupah para pekerja, yang dengan tubuh dan harta mereka, bekerja untuknya, siang malam, di kehidupan dunia dan akhirat.”

Yahya ibnu Mu`adz mendengar seseorang mengidam-idamkan harta. Yahya berkata kepadanya, “Apa yang akan kau perbuat dengan harta itu.” Orang itu berkata, “Aku akan dermawan kepada orang-orang yang kekurangan.”

Yahya berkata, “Tinggalkanlah mereka, biarlah Allah yang menanggung pembiayaan mereka, agar engkau mencintai mereka. Karena, jika biaya hidup mereka menjadi tanggunganmu, engkau akan membenci mereka, dan mereka akan memberati hatimu.”

Yahya juga berkata, “Untuk menghormati saudara sesama Muslim di negeri lain yang ditinggal mati seseorang, adalah melayatnya ke tempat ia berada, untuk berbela sungkawa. Abu Mu`awiyah al-Aswad berangkat dari Syam ke Makkah untuk melayat seseorang yang dipandang istimewa oleh putranya, `Ali. Ia pergi ke Makkah bukan untuk melaksanakan haji maupun `umrah.”

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. berkata, “Barangsiapa mendambakan naungan Allah Ta`ala di hari kiamat nanti dari neraka Jahannam, ia mesti mengasihi orang Mukmin dan berhati lembut.”
Muhammad ibnu al-Munkadir selau melaksanakan ibadah malam. Namun, jika Ibunya minta agar ia memijat kakinya sampai subuh, ia melihat itu lebih utama daripada shalatnya.

Kahmas ibnu Hasan berkata, “Aku selalu melayani Ibuku dan membersihkan kotorannya. Kemudian Sulaiman ibnu `Ali mengirimiku kapas dan berkata, `Dengan kapas ini, belilah seorang pelayan untuk melayani ibumu.’ Aku menolaknya, dan kukatakan, ‘Semasa aku kecil, Ibuku tidak rela kalau orang lain yang melayaniku. Dan aku pun tidak rela orang lain yang melayaninya, sementara aku sudah dewasa.’”

Mauriq al-`Ajli r.a. suka mencarikan kutu di kepala Ibunya. Dan ia tidak akan membiarkan selain dirinya yang melakukan itu.

Tentang firman Allah Ta`ala: “Janganlah engkau mengatakan “ah” kepada keduanya”, Hasan al-Bashri berkata, “Jika kedua orang tua sudah renta, kemudian mereka meminta anaknya untuk membersihkan kotoran mereka, sebagaimana mereka membersihkan kotorannya semasa ia kecil, maka ia tidak boleh mengatakan `ah’, tidak boleh membentak mereka, bahkan untuk sekadar menghindari bau dengan menutup hidung pun tidak boleh, karena mereka pun tidak menutup hidung saat mencium bau kotoran anaknya semasa kecil.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution