Kamis, 27 Agustus 2015

Jadikan Diri Tahu Membalas Budi

Jangan Sampai Budi Tidak Terbayar

Renungan Hadist:

Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)


Penjelasan Hadist:

Hadist diatas mengajak kita untuk saling memberi hadiah, saling memberi kebaikan karena saling berbagi hadiah ini akan menimbulakan rasa cinta, rasa bahagia, rasa pertemanan atau bisa saling mengakrabkan diri.

Maksud lain dari hadist diatas agar tidak selalu senang menerima pemberiaan saja atau hadiah dari orang lain tanpa mau membalas budi baiknya.

Artinya ketika kita diberi sesuatu oleh orang lain, oleh teman, oleh tetangga atau oleh siapa saja cepat balas budi kebaikannya. Jangan sampai budi baik seseorang tidak terbalas oleh kita.

Kita pernah belajar Qur’an, belajar tajwid, anak-anak kita belajar Iqro di Masjid, bayarlah kebaikan si pengajar dengan baik atau bahkan yang lebih baik lagi. Karena ketika kita sudah pintar membaca Qur’an, anak-anak kita sudah mahir mengalunkan Qur’an berarti kita sudah dibuka jalan menuju rahmat Allah. Meskipun kita telah membayar jasa pengajar Qur’an itu, yakinlah uang pemberian itu tidak ada harganya dibanding kenikmatan kita bisa membaca Qur’an melalui si pengajar itu. Balaslah budi baiknya dengan yang lebih baik lagi.

Kita sering menghadiri majelis ilmu, majelis taklim, atau pengajian dimana saja, coba tengok sesekali dapur si ustadnya, mungkin mereka para pemberi ilmu, ada yang kurang atau tidak ada sama sekali di dapurnya. Padahal mereka mengajar dengan ikhlas tanpa pamrih..gratis lagi. Tapi kita tahu membalas budi, tahu arti membalas kebaikan. Budi mereka yang sangat luar biasa tentulah tidak terbalas, namun setidaknya kita mau memperhatikan kehidupannya, agar budi baiknya bisa kita balas meskipun hanya sedikit.

Ketika kita diberi sesuatu oleh tetangga balaslah kebaikannya atau kalau bisa dengan yang lebih baik lagi.

Jangan Sampai Budi itu Menjadi Hutang 

Jadikan diri kita orang yang tahu membalas budi, tahu membayar kebaikan sehingga kita tidak disebut orang yang hanya suka diberi namun tidak pernah memberi. Mungkin bagus sekali kalau kita sering memberi dari pada diberi, karena tangan diatas selalu akan lebih baik.

Ketika kita datang berkunjung ke orang yang kita hormati, orang tua kita, guru kita, bawalah sesuatu untuk menyenangkan hati mereka, dan usahakan jangan datang dengan tangan kosong. Dari makanan, roti, kue makanan yang enak atau benda yang baik. Karena budi mereka tidak akan terbalas dengan apapun yang kita berikan.

Kita diberi ilmu oleh para ustadz, kyai, Murobbi atau yang lainnya, meskipun mereka tidak mengharapkan apa-apa dari kita, tapi kita berusaha menjadi orang yang tahu balas budi. Balas budi ini akan berbuah berkah dan manfaat. Nah inilah yang disebut Ilmu yang manfaat, jika kita tahu membalas budi kepada yang mengajar kita. Ilmu agama yang kita pelajari akan datang menghampiri kita dalam bentuk berkah dan manfaat manakala kita tahu berbalas budi, dan bukan ilmu yang tidak manfaat.

Jadi Jangan Pelit, Jangan Bakhil dan jangan Kikir

Karena kebahagiaan, ketenangan, ketetraman hati selalu terjadi karena ada keterlibatan orang lain. Maksudnya??? Kalau ingin bahagia, bahagiakan dulu orang lain, Insya Allah bahagia akan datang menjeguk, beri sedekah pada anak yatim piatu, Insya Allah akan datang ketenangan, beri hormat kepada orang tua, taat atau beri mereka uang untuk mencukupi kehidupan mereka, Insya Allah rezeki mengalir deras.

Kita pelit memberi pada yatim piatu, kesulitan selalu akan menghadang, kita acuh terhadap orang tua, kepahitan selalu akan datang berkunjung, kita tidak peduli dengan sedekah, rezeki tidak akan datang menghampiri ataupun tidak berkah.

Anda sulit mendapat jodoh, rumah tangga goyah, hati tidak tenang, galau, gundah gulana...???  coba tengok dulu ke belakang... mungkin anda lupa membalas budi orang lain...atau lidah anda pernah menyakiti orang lain... sebagaimanapun taatnya anda.

Bagaimana kita bisa bersyukur sedangkan membalas budi saja tidak pernah kita lakukan...!

Ehhh... ntar mo nanya... Cara balas budi baik seseorang gimana...??? Balas dengan yang sepandan, kagak cukup cuman bilang makasih...!!! karena apa??? agar kita bisa memiliki Muru'ah (harga diri/kemuliaan). Kalau sulit membalasnya???? balas dengan semampunya kalau juga tidak mampu doakan dia agar Allah membalas kebaikannya dengan yang lebih baik lagi....Tapi jangan lupa, ketika kita bilang... Mudah-mudahan yah Allah membalas kebaikan... jangan hanya di bibir saja... doakan sungguh-sungguh dia setelah shalat, atau dimana saja. Atau minimal tidak menyakiti hatinya sebagai bentuk membalas budi seperti halnya kepada orang tua kita atau kepada guru-guru kita. 

“..Rabbi aw zi’nii an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilni birahmatika fii ‘ibadikashshaalihiin..”


“Ya Tuhanku beri aku kemampuan untuk selalu bersyukur atas nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml : 19)


Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution