Senin, 24 Agustus 2015

Mengapa Penyesalan Datang Terlambat

Penyesalan Sering Datang Terlambat 

Sahabatku, seringkali orang yang sehat tidak menyadari betapa nikmatnya sehat itu. Dia baru merasakan nikmat sehat ketika dalam keadaan tidak sehat. Seringkali orang yang kaya tidak mampu berhemat dengan harta bendanya. Dia baru menyesal ketika sudah hidup dalam kekurangan, mengapa bukan sewaktu kaya raya dulu dia berhemat dan banyak menabung, tetapi mengapa ketika segalanya sudah tidak ada dia berpikir untuk berhemat dan menabung.



Seringkali orang membuang-buang waktunya dengan hal-hal percuma di saat lapang. Namun, di saat sempit, dia menangisi waktu-waktunya yang telah terbuang. Dia berkata, mungkin kalau aku memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, aku tidak akan seperti ini jadinya. Kemudian dia berimajinasi, seandainya saja aku begini dan begini, aku akan jadi orang hebat, kaya, dan sukses. Imajinasi itu tidak akan bermanfaat jika dia hanya berhenti sampai disitu.


Ya, kita seringkali menyesali keburukan yang telah terjadi. Peribahasa mengatakan, penyesalan sering datang terlambat. Mungkin ada orang mengatakan, bukankah dengan penyesalan itu kita dapat memperbaiki diri? Perkataan orang itu ada benarnya. Yang salah adalah, orang yang tidak mau memperbaiki dirinya dari segala kesalahan masa lalunya. Orang yang hanya bisa menyesal dan menyesal, tapi kemudian dia masuk kembali dalam lubang yang sama. Dia tidak berpikir waktunya sangat singkat. Jika dia sudah masuk kealam kubur, segala penyesalannya tidak akan berguna lagi. 


Allah Swt. berfirman, “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. al-Qiyamah: 1-2). Ulama tafsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa, bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.


Syadad bin Aus berkata, “Aku peringatkan kalian, berhati-hatilah dengan kata-kata saufa (nanti).” Sedangkan Abdul Qais, saat menjelang kematiannya ditanya, “Berwasiatlah kepada kami!” Maka, dia menjawab, “Aku memperingatkan kalian, berhati-hatilah dengan kata-kata saufa (nanti).” Ibnu al-Mubarak mengatakan, “Diceritakan kepada saya bahwa kebanyakan kata-kata yang diucapkan oleh penduduk neraka adalah perkataan, ‘Ya uffin li taswif’ (Ah sial. Mengapa dahulu menunda-nunda).”


Sebelum ajal datang menjemput, mulailah hidup ini dengan penyesalan. Menyesali waktu yang telah banyak terbuang percuma. Menyesali dosa-dosa yang pernah diperbuat. Rasa penyesalan yang mendalam membuat airmata jatuh menetes. Tumbuhlah benih-benih kesadaran akan keadaan diri di alam selanjutnya. Mungkinkah kebahagiaan akan mewujud jika ia tidak segera bertobat dan mengakhiri segala kesesatannya selama ini? Tidak! Yang ada hanyalah ratapan penyesalan penghuni neraka – sebagaimana terlukis dalam al-Quran, 


“Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 42)


“Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27) 


“Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” (QS. Al An’am: 31)


Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mukminun: 107)


Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan’.”(QS. Fathir: 37)


“Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’. (QS. Az-Zumar: 58)


“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? (QS. Al-Munafiqun: 10)


“Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10)


“Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al-Qalam: 31)


“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.” (QS. Al-Haqqah: 28)


“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr: 24)


Sahabatku, apakah kita termasuk dari salah satu orang yang menyesal itu? Sungguh, mengumpulkan ayat-ayat itu, dan membacanya kembali, membuat mata saya berkaca-kaca, seolah-olah sayalah yang berkata-kata seperti itu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan memasukkan saya kedalam surga-Nya. 


Mari kita bertobat dengan penuh kesungguhan, membersihkan amal-amal kita dari riya, dan menghisab diri kita sebelum kita dihisab di akhirat nanti.

 


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution