Selasa, 15 Januari 2013

Jalan yang Lurus, Shirothol Mustaqim

Shirothol Mustaqim Jalan yang Lurus Itu Islam

Setiap kali shalat atau tiap kali kita membaca QS Al-Fatihah, kita berdoa agar ditunjukkan kepada Ash-Shirothol Mustaqim. Ihdinash shirothol mustaqim, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Demikian arti harfiyahnya. Menurut Tafsir Al-Quran Departemen Agama, “Ihdi” =  pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah. 

Arti “hidayah” ialah menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik. Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu hidayah naluri (garizah) seperti naluri mempertahankan hidup, hidayah pancaindra sebagai “pintu-pintu pengetahuan”,  hidayah akal (pikiran) untuk membedakan baik dan buruk, dan hidayah agama (Islam).


Hidayah dalam ayat “ihdinash shiratal mustaqim” berarti “taufik” (bimbingan) dan taufik itulah yang dimohonkan kepada Allah. Menurut Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di,  Shirathal Mustaqim adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya (Taisir Karimir Rahman). 

Allah memperjelas hakikat Shirathal Mustaqim ini di dalam ayat berikutnya, “Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Menurut Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat”  (shirathalladziina an’amta ‘alaihim) adalah jalan para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang shalih. “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai” yaitu bukan jalan orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, tapi tidak mau mengamalkannya, seperti orang Yahudi. “Bukan pula jalan orang-orang yang sesat” yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran di atas kebodohan dan kesesatan, seperti orang Nasrani dan orang lain yang memiliki ciri seperti mereka (Taisir Karimir Rahman).

 “Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk selalu meminta petunjuk karena Allah menjamin akan mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya. Terlebih lagi bila orang yang meminta sedang berada dalam keadaan terjepit dan sangat merasa butuh kepada Allah, siang ataupun malam” (Tafsir Ibnu Katsir). Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, Shiratal Mustaqim adalah syariat Islam dan ada yang mengartikan sebagai “jembatan penghubung antara dan surga yang ada di atas neraka”. 

Cara dan ciri orang yang melewati Shiratal Mustaqim itu tergantung amal di dunia. Kalau amalnya baik, maka tidak terpeleset ke neraka. Sebaliknya, bila amal perbuatannya di dunia sering melanggar syari’at, maka ia sangat mudah terpeleset ke neraka. Imâm Al-Qurthubî menyatakan, Shirâthal-Mustaqîm artinya “Jalan yang terang, yang tidak ada penyimpangan dan pembelokan di dalamnya”. (Tafsîr Al-Qâsimî). 

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dengan Shirâthal-Mustaqîm. Sebagian mengatakan bahwa itu ialah “Kitâbullâh (Al-Qur-ân)”. Sebagian lain mengatakan itu adalah “Dînul-Islâm”. Sebagian ada yang berpendapat bahwa itu adalah jalan hidup Nabi Saw dan para shahabatnya (Tafsîr Ibnu Katsîr). Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah “As-Sunnah wal Jama’ah”. Yang lain mengatakan “Jalan (thariqat) Keta’atan” atau “Jalan untuk mencapai rasa takut (khauf), ridha dan cinta kepada Allâh”.   

Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution