Selasa, 13 November 2012

Pensucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Tazkiyatun Nafsi

Kaum muslimin, yang dimuliakan Allah
Tiada kata yang pantas terucap selain untaian rasa syukur, tanda terima kasih, kita panjatkan ke hadirat Allah SWT., Yang Maha Agung, yang dengan izin-Nyalah kita di perkenankan berkumpul untuk melaksanakan salah satu ibadah rutinitas kita yaitu shalat jum’at berjamaah.. Dengan karunia-Nya pulalah kita bisa merasakan nikmatnya fitrah, nikmatnya kesucian jiwa dan hangatnya maghfiroh Allah SWT., mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang bersih, suci dari noda dan diperbaiki amal ibadah kita menjadi lebih berkualitas dan berkuantitas.


Salam sejahtera semoga tetap tercurah kepada Nabi Penghulu dunia, penyelamat manusia dari kegelapan, Rasulullah Muhammad SAW., yang menjadi cermin bagi kehidupan manusia dalam segala segi aktifitasnya, baik aktifitas beribadah, aktifitas bermasyarakat maupun bersikap dalam mengarungi kehidupan yang serba verbal ini.

Tak lupa khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa sebagai dasar dari diterimanya amal ibadah yang selama ini kita lakukan, semoga kita dapat mengakhiri hidup kita nanti dengan tetap memegang iman kepada Allah SWT. dan tetap dalam kesucian jiwa.

Di tengah-tengah hiruk pikuk manusia berlomba mencari kebahagiaan dan ketenangan, ada satu hal yang sering kali dilupakan dalam mencari kebahagiaan yang hakiki, bukan hanya kebahagiaan yang semu. Yaitu satu faktor penting yang menjadi salah satu bagian dari kebutuhan orang beragama, faktor itu adalah tazkiyatun Nafs artinya mensucikan diri dari kemaksiatan dan membersihkan jiwa dari noda kemusyrikan dan segala bentuk kemaksiatan lainnya. Bahkan Tazkiyatun Nafs atau pensucian jiwa ini menjadi salah satu tugas penting Rasulullah dalam mengemban risalahnya, yakni ajaran Islam, sebagaimana difirmankan Allah dalam al-Qur’an surat al-jumuah (62) ayat 2 yang berbunyi:

هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين.

Artinya:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf, seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan Hikmah (sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah: 2)

Kondisi masyarakat Quraisy pada saat itu memang berada dalam kegelapan dan kemungkaran sehingga Rasulullah sebagai pembawa kebenaran memang benar-benar bertugas untuk membersihkan hati mereka dari segala bentuk penyakit, penyakit iri dan dengki, sombong, rakus dan tamak untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya dengan jalan yang tidak hak, bahkan seringkali terjadi pembunuhan di antara mereka. Kondisi ini kiranya tidak jauh beda dengan kondisi zaman kita sekarang ini, segala bentuk kemaksiatan pada zaman yang kita sebut jahiliyyah itu ternyata terjadi juga pada zaman yang kita sebut dengan zaman jahiliyyah modern ini, bahkan bentuk dan jenisnya lebih banyak dan bermacam-macam. Maka orang yang mendambakan kebahagiaan dan ketenangan, hendaklah ia terus berusaha meningkatkan kualitas kebersihan jiwa dari segala bentuk penyakit dan dosa, Allah berfirman dalam surat as-Syams (91) ayat 9:

قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 9)

Jadi ketenangan dan kebahagiaan seseorang ditentukan sebatas mana dia sanggup mensucikan jiwanya dari segala kotoran dan penyakit hati, sehingga dengan demikian kekuatan ruhiyyahnya akan membaik seiring dengan usahanya untuk memperbaiki diri. Maka seorang ulama’ Mesir mengatakan:  

“Mustahil akan tercapai kebangkitan umat islam ini dari kemerosotan dan kemunduran tanpa disertai kebersihan jiwa dan tingginya kualitas ruhiyah. Sesungguhnya yang pertama kali menjadi target dakwah kami yang nantinya akan menjadi penopang utama tegaknya dakwah ini adalah kesadaran ruhiyah yang baik dan hati yang hidup. Sesungguhnya obat dari penyakit umat ini adalah satu yaitu mengobati jiwa dan meluruskan akhlak masyarakat.

Ada beberapa solusi untuk mensucikan jiwa kita yang kotor dan penuh dengan dosa ini.

Yang pertama: Memperbanyak Dzikir kepada Allah SWT. di manapun kita berada. Dalam kondisi apapun, kita dperintahkan untuk selalu menghiasi bibir kita dengan dzikir kepada Allah. Menyebut asma dan sifat Allah adalah dzikir, menyebut-nyebut nikmat Allah adalah dzikir, melakukan ketaatan adalah dzikir, menuntut ilmu adalah dzikir, membaca al-Qur’an, tasbih, tahlil, tahmid, istighfar, shalawat kepada Nabi adalah bagian dari macam-macam dzikir. Allah berfirman:

ألا بذكر الله تطمن القلوب

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du: 28)

Yang kedua: Berkumpul dengan orang-orang shaleh, karena akhlak dan prilaku seseorang bisa dilihat dari prilaku kawannya. Maka benar apa yang disabdakan Rasulullah:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Artinya: “Seseorang itu tergantung pada agama kawannya, maka lihatlah siapa yang menjadi kawannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka Islam memerintahkan kita agar mencari teman yang baik untuk kita dan keluarga kita sebagaimana sabda Rasulullah:  

“Janganlah kamu mencari teman kecuali seorang mukmin dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Termasuk juga, dalam rangka mensucikan jiwa kita yaitu dengan cara sering mendengarkan kisah orang-orang yang shaleh. Oleh karena itu al-Qur’an banyak mengisahkan para Nabi, orang-orang shaleh dan para kekasih Allah.

Yang ketiga: Dakwah dan Jihad.
Dakwah adalah aktifitas yang mempunyai kedudukan tertinggi seorang hamba di sisi Allah. Kalau orang awam memohon ampun kepada Allah untuk diri mereka sendiri agar dosanya diampuni, maka seorang dai akan didoakan seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi sampai ikan di tengah lautanpun ikut memohonkan ampunan, dalam riwayat lain semut yang berada dilobangnyapun ikut memohonkan ampunan kepada Allah, sebagai-mana hal itu disabdakan Rasulullah. Sedangakan jihad dengan jiwa memiliki pengaruh sangat besar terhadap pembinaan dan pensucian jiwa bahkan dengan jihad kita akan mendapat berbagai macam jalan untuk meraih cita-cita sebagaimana Allah berfirman:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, maka Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Mudah-mudah kita termasuk orang-orang yang senantiasa teguh menegakkan kalimat Allah dalam berbagai profesi dan aktifitas kita sehingga kita mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah. Yaitu di tengah-tengah redupnya sinar dakwah dan jihad yang sudah dianggap sebelah mata oleh sekian banyak kaum muslimin padahal jihad dan dakwah adalah pilar utama tegaknya harga diri umat Islam di mata dunia.

Kaum muslimin, Pada hari ini mari kita tumbuhkan semangat beribadah kita, semangat kepedulian kita kepada sesama orang islam dan semangat untuk mengajak ke jalan yang benar dan mencegah jalan yang mungkar. Mari kita sucikan jiwa kita dari dosa kita kepada Allah dan kesalahan-kesalahan kita kepada sesama manusia, dengan cara saling bersilaturahim yang intens kita akan merasakan betapa pentingnya kita hidup berjamaah dan bersama-sama menghadapi kehidupan ini dengan lebih berarti dan bermanfaat.

– Korps Dai Lembaga Pelayanan Dakwah Eramuslim



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution